Di Lempo, jenazah dipahatkan ke dalam breksi gunungapi sedalam kurang lebih tiga meter dengan diameter sekitar satu meter. Menhir di Ke’te Kesu terbuat dari batugamping, sementara di Lempo menhir dibuat dari breksi gunungapi. Bahkan jenis padi yang ditanam pun berbeda, karena tanahnya berasal dari pelapukan batuan yang berbeda pula.
PELAKITA.ID – Selama empat hari terakhir, saya kembali menjalani peran sebagai seorang geologist (ahli geologi), sekaligus—boleh dibilang—artis dadakan, hehehe.
Bersama Mimuro-san dan kru televisi NHK Jepang, kami mengunjungi sejumlah lokasi kunci untuk menceritakan kondisi geologi Pulau Sulawesi kepada pemirsa internasional.
Semua ini bermula pada akhir Oktober, ketika saya dihubungi oleh seorang sahabat, sesama ahli geologi dari Jepang. Ia meminta saya menjadi narasumber dalam salah satu program NHK, Global Earth. Program ini secara khusus mengangkat tempat-tempat di dunia yang memiliki keunikan serta nilai ilmiah penting dalam konteks kebumian.
Produser acara tersebut memilih Pulau Sulawesi sebagai salah satu wilayah dengan kondisi geologi paling rumit di dunia. Menariknya, mereka menggunakan buku yang saya tulis bersama Pak Theo, The Geology of Sulawesi Region, sebagai salah satu rujukan utama. Dari situlah mereka kemudian sepakat menunjuk saya sebagai narasumber utama.
Tantangan muncul ketika tim produksi ingin merekam kondisi geologi Sulawesi dalam waktu sepuluh hari. Dengan keterbatasan tugas kampus, saya hanya mampu mendampingi selama empat hari.
Untuk hari-hari selebihnya, saya mengusulkan agar peran narasumber diwakilkan oleh para asisten saya—dosen-dosen muda yang selama ini telah saya latih dan libatkan dalam berbagai kegiatan ilmiah.
Saya menjamin kualitas mereka, karena regenerasi keilmuan memang saya persiapkan secara serius sejak awal.
Menceritakan geologi Pulau Sulawesi secara utuh tentu tidak mungkin dilakukan hanya dalam sepuluh hari. Karena itu, saya menyarankan agar liputan difokuskan pada lokasi-lokasi kunci yang mewakili empat lengan utama Pulau Sulawesi: Lengan Selatan, Lengan Tenggara, Lengan Timur, dan Lengan Utara.
Keempat lengan ini berasal dari sejarah geologi yang berbeda-beda, sehingga masing-masing memiliki karakteristik yang unik. Mengingat waktu saya terbatas, saya memilih menjadi narasumber untuk Lengan Selatan, sementara lengan lainnya ditangani oleh para dosen muda.
Untuk Lengan Selatan, saya mengusulkan wilayah Bantimala di Kabupaten Pangkep serta kawasan Rammang-Rammang di Maros. Bantimala merupakan kawasan kompleks yang terbentuk melalui proses tektonik intens, yang menyingkap batuan tertua di Sulawesi bagian selatan.
Di wilayah ini dapat dijumpai batuan sedimen dasar samudera, batuan mantel bumi, serta batuan yang terbentuk pada zona subduksi dan proses akresi.
Bisa dikatakan, Bantimala adalah “paket lengkap” geologi. Sambil menjelaskan di depan kamera, saya sempat berkelakar bahwa jika ingin berjalan-jalan ke dasar samudera, bahkan ke palung laut dalam, cukup datang ke Bantimala—karena di sinilah isi mantel bumi dari kedalaman lebih dari 100 kilometer dapat diamati dengan jelas.
Kawasan Rammang-Rammang tak kalah menarik. Wilayah ini merupakan bagian dari Karst Maros–Pangkep sekaligus salah satu geosite dalam Geopark Maros Pangkep yang telah berstatus UNESCO Global Geopark.
Disusun oleh batugamping berumur Eosen hingga Miosen, kawasan ini mengalami proses karstifikasi yang membentuk gua-gua, tower karst, sungai bawah tanah, serta relief batuan yang unik akibat pelarutan selama ribuan hingga jutaan tahun.
Selain nilai geologinya, gua-gua di kawasan ini juga menyimpan informasi arkeologi yang sangat penting bagi sejarah manusia.
Lokasi berikutnya adalah Toraja, dengan kunjungan ke Ke’te Kesu, Salubarani, dan Bori. Di wilayah ini, keterkaitan antara proses geologi dan peradaban manusia tampak sangat jelas.

Masyarakat Toraja masa lalu menyimpan jenazah di dalam peti dan meletakkannya di gua-gua batugamping hasil proses karstifikasi. Di Salubarani, kami mengunjungi gerbang Kabupaten Toraja dari arah Enrekang, yang ditandai oleh singkapan Formasi Batupasir Toraja dengan kandungan fosil Discocyclina dan moluska, penunjuk umur Eosen hingga Miosen.
Perjalanan liputan diakhiri di daerah Bori, tepatnya di Lempo, di kaki Gunung Riu, sebelah barat Kota Rantepao. Lempo menyajikan pemandangan terasering sawah yang indah, dipenuhi bongkah-bongkah breksi gunungapi.
Batuan ini merupakan produk Gunungapi Lamasi yang berumur Oligosen, sekitar 40 juta tahun lalu.
Di Lempo, saya kembali menjelaskan bagaimana geologi memengaruhi peradaban manusia. Di Ke’te Kesu, jenazah disimpan di gua-gua batugamping karena lingkungan geologinya memungkinkan.
Di Lempo, jenazah dipahatkan ke dalam breksi gunungapi sedalam kurang lebih tiga meter dengan diameter sekitar satu meter. Menhir di Ke’te Kesu terbuat dari batugamping, sementara di Lempo menhir dibuat dari breksi gunungapi. Bahkan jenis padi yang ditanam pun berbeda, karena tanahnya berasal dari pelapukan batuan yang berbeda pula.
Satu nenek moyang, satu adat istiadat, tetapi objek dan ekspresi budayanya berbeda—karena lingkungan geologinya berbeda.
Pada akhirnya, kita memahami bahwa geologi bukan sekadar cerita tentang batuan, gunung, dan lapisan bumi. Ia adalah cerita tentang perjalanan manusia membangun peradaban.
Dari geologi kita memperoleh air, tanah subur, mineral, dan energi—fondasi bagi tumbuhnya kota, berkembangnya teknologi, dan bergeraknya ekonomi.
Namun geologi juga mengingatkan bahwa bumi memiliki dinamika: gempa, letusan, longsor, dan banjir adalah bagian dari sistem alam yang terus bekerja. Karena itu, peradaban besar bukanlah peradaban yang menaklukkan alam, melainkan peradaban yang memahami bumi dan hidup selaras dengannya.
Melalui ilmu geologi, kita belajar bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan membaca tanda-tanda alam, mengelola sumber daya secara bijak, dan membangun ketahanan terhadap risiko bencana.
Geologi adalah fondasi peradaban—dan memahami bumi adalah cara paling arif untuk menjaga keberlanjutan hidup umat manusia.
Terima kasih.
Adi Maulana
___
Source: https://www.capcut.com/tv2/ZS5VvJDbJ/
