PELAKITA.ID – Laawaa River di Desa Matano, Kabupaten Luwu Timur, kian dikenal sebagai destinasi wisata alam favorit bagi wisatawan lokal.
Berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Sorowako, kawasan ini menawarkan pengalaman berwisata yang sederhana namun berkesan, terutama di hari libur dan akhir pekan.
Destinasi ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Matano bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Pengembangannya mendapat dukungan dari PT Vale Indonesia melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), khususnya pada aspek Penguatan Kapasitas Pengembangan Masyarakat dan Lingkungan.
Selain itu, pengelolaan Wisata Laawaa juga melibatkan Pemerintah Desa Matano, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, serta Kementerian Pariwisata.



Keindahan alam menjadi daya tarik utama Laawaa. Suasana sejuk dan tenang menyambut setiap pengunjung.
Gemericik air sungai, hembusan angin, dan riak ombak danau berpadu harmonis dengan kicauan burung serta suara satwa hutan di sekitarnya. Lanskap alami ini menghadirkan ruang rekreasi yang sekaligus menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Tak heran jika berbagai pihak telah berkunjung ke kawasan ini. Selain sebagai lokasi kunjungan kerja, Lawaa juga menjadi tempat berwisata bagi rombongan dari Kementerian Desa, Kementerian Pariwisata, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), perguruan tinggi, hingga Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.
Laawaa menjadi contoh bagaimana potensi wisata desa dapat berkembang melalui kolaborasi lintas sektor.
Dalam beberapa hari terakhir, sejak Sabtu hingga Senin, penulis bersama tim berada di Laawaa untuk memfasilitasi kegiatan COMMIT Foundation.
Pada Sabtu dan Ahad, jumlah pengunjung terpantau cukup ramai. Tercatat sedikitnya tujuh unit raft atau perahu wisata bersandar di dermaga, menandakan tingginya minat wisatawan menikmati kawasan perairan Lawaa.



Di sela-sela aktivitas, beberapa tokoh dan tamu turut dijumpai di lokasi, di antaranya Kanda H. Anhar, Owner PT Sawerigading, yang datang bersama keluarga; Dinda Ani Amiruddin dari Department External PT Vale Indonesia bersama keluarga; serta Ibu Sunarti, anggota Kelompok Tani Desa Nikkel, yang hadir bersama rombongan aparat desa Nikkel.
Peran masyarakat lokal tampak nyata dalam pengelolaan wisata ini. Ibu-ibu dusun yang tergabung dalam kelompok pengelola berperan penting, khususnya dalam menyiapkan menu makanan bagi pengunjung, baik yang menginap maupun yang datang untuk kunjungan singkat.


Menurut mereka, pengunjung tidak hanya datang pada Sabtu dan Ahad, tetapi juga pada hari libur sekolah, libur kantor, maupun saat kegiatan family gathering.
Wisata Laawaa memberi keleluasaan bagi pengunjung untuk menikmati alam dengan cara yang sederhana.
Selain menikmati sajian yang disediakan pengelola, pengunjung juga diperbolehkan membawa bekal sendiri atau melakukan aktivitas bakar-bakar ikan di lokasi yang telah disiapkan, dengan satu pesan utama: menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Dengan suasana alami yang masih terjaga, pengelolaan berbasis desa, serta dukungan berbagai pihak,
Wisata Laawaa di Desa Matano bukan hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga contoh praktik baik pengembangan wisata berkelanjutan yang menumbuhkan ekonomi lokal tanpa mengorbankan alam.
__
Sorowako, 29 Desember 2025
