Budhi Wibowo, Praktik Budidaya Udang Tradisional Plus, dan Adopsi Nursery Pond

  • Whatsapp
Budhi Wibowo, FUI (dok: Konservasi Indonesia)

Pendekatan nursery terbukti meningkatkan ketahanan udang terhadap penyakit, memperbaiki SR, menurunkan FCR, dan pada akhirnya menekan HPP. Selain itu, udang hasil nursery lebih adaptif terhadap fluktuasi salinitas ekstrem dan memungkinkan penambahan jumlah siklus budidaya dalam setahun.

PELAKITA.ID – Di tengah tekanan global terhadap daya saing udang Indonesia, Ir. Budhi Wibowo—Ketua Umum Forum Udang Indonesia (FUI)—mengajukan sebuah gagasan yang terdengar sederhana, namun justru menyentuh akar persoalan industri udang nasional: membangkitkan kembali tambak tradisional melalui pendekatan Budidaya Udang Tradisional Plus yang diperkuat dengan Nursery Pond.

Gagasan ini disampaikan pada Lokakarya Nasional dan Peluncuran Tim Pelaksana Budidaya Udang Berkelanjutan di Banyuwangi yang digelar ooleh Kemenko Pangan, Bappenas/PPN, Pemerintah Banyuwangi dan Konservasi Indonesia.

Apa yang disampaikan oleh Budhi itu sebagai respons atas menurunnya kinerja budidaya udang Indonesia sekaligus sebagai jalan keluar yang realistis bagi petambak kecil.

Forum Udang Indonesia sendiri diinsiasi oleh Budhi Wibowo dan sejumlah koleganya sebagai wadah lintas pemangku kepentingan—petambak, hatchery, produsen pakan, industri pengolahan, akademisi, hingga NGO—yang memiliki kepentingan bersama dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing udang Indonesia.

“Dalam berbagai forum, FUI secara konsisten menekankan bahwa solusi kebangkitan udang nasional tidak bisa semata-mata bertumpu pada teknologi mahal dan model intensif yang sulit dijangkau petambak tradisional,” tegas Budhi.

Budidaya Udang Indonesia dalam Tekanan

Pada lokakarya itu, Budhi memulai paparannya dengan satu pernyataan tegas: budidaya udang Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Data menunjukkan tren penurunan Survival Rate (SR) yang sepanjang 2020–2022 hanya berada di kisaran rata-rata 56,08 persen.

“Pada saat yang sama, Feed Conversion Ratio (FCR) justru meningkat, menandakan efisiensi pakan yang semakin memburuk. Produktivitas tambak pun ikut turun, dari 11,76 ton per hektare pada 2021 menjadi 10,68 ton per hektare pada 2022,” ungkapnya.

Dikatakan, kombinasi SR yang menurun dan FCR yang meningkat berujung pada satu konsekuensi serius:

Harga Pokok Produksi (HPP) melonjak. Ketika biaya produksi tidak lagi kompetitif, udang Indonesia kehilangan posisi tawarnya di pasar global. Dalam konteks ini, Budhi mengingatkan bahwa menekan biaya produksi adalah prasyarat mutlak agar Indonesia mampu bersaing dengan negara produsen lain.

Pengalaman negara lain menjadi pelajaran penting. Thailand dan Vietnam memilih jalur padat tebar tinggi dengan dukungan teknologi intensif. Sebaliknya, India dan Ekuador justru membatasi kepadatan tebar—sekitar 70 ekor/m² di India dan bahkan hanya sekitar 20 ekor/m² di Ekuador—namun mampu menjaga efisiensi, stabilitas produksi, dan daya saing harga.

Kemenko Pangan Mendorong Literasi Budidaya Udang yang Berkelanjutan melalui produksi pengetahuan dan inspirasi budidaya (dok: Konservasi Indonesia)

Tradisional Plus: Membangunkan Raksasa yang Tidur

Dari sinilah lahir konsep Budidaya Udang Tradisional Plus. Budhi menyebut Indonesia memiliki “raksasa yang sedang tidur”: sekitar 250.000 hektare tambak tradisional yang selama ini produktivitasnya hanya 200–400 kg per hektare per tahun.

Jika tambak-tambak ini didorong secara bertahap mencapai produktivitas 2 ton per hektare per tahun, lonjakan produksi nasional akan terjadi tanpa harus membuka tambak baru.

Berbeda dengan pendekatan revitalisasi menuju semi-intensif atau intensif yang sering berujung gagal karena kebutuhan modal besar, Tradisional Plus dirancang agar mudah diadopsi, murah, dan berkelanjutan secara mandiri oleh petambak kecil.

Kepadatan tebar dijaga rendah, sekitar 10 ekor per meter persegi, dengan mengandalkan pakan alami tambak yang dioptimalkan, dan pakan tambahan diberikan secara terbatas.

Model ini justru memiliki keunggulan strategis. Di mata pembeli internasional, sistem dengan kepadatan rendah dinilai lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Tradisional Plus juga selaras dengan konsep blue economy, membuka ruang integrasi dengan penanaman mangrove dan budidaya rumput laut yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon. Dengan biaya produksi yang lebih rendah, HPP dapat ditekan sehingga udang Indonesia kembali kompetitif.

Secara teknis, SOP Tradisional Plus relatif sederhana. Pakan alami dioptimalkan sejak awal, aerasi tambahan digunakan secara terbatas—biasanya pada malam hingga subuh—dan perubahan bentuk tambak dilakukan seminimal mungkin.

Target panen per siklus berada di kisaran 500–900 kg, dengan ukuran panen 10–15 gram dalam waktu 60–90 hari. Dalam setahun, petambak dapat melakukan 3–5 siklus, sehingga produksi tahunan mencapai 2–3 ton per hektare dengan FCR target 0,8–1,2.

Budhi Wibowo saat memaparkan praktik tradisional plus dan nursery pond (dok: Konservasi Indonesia)

Nursery Pond: Fondasi Kesehatan Udang

Gagasan kedua yang tak kalah penting adalah Nursery Pond atau pendederan. FUI memandang fase awal kehidupan udang sebagai golden age, mirip dengan fase awal pertumbuhan manusia.

Lingkungan yang stabil dan nutrisi yang tepat pada fase ini akan membentuk fondasi imun udang untuk menghadapi tekanan lingkungan pada fase pembesaran.

Pendekatan nursery terbukti meningkatkan ketahanan udang terhadap penyakit, memperbaiki SR, menurunkan FCR, dan pada akhirnya menekan HPP. Selain itu, udang hasil nursery lebih adaptif terhadap fluktuasi salinitas ekstrem dan memungkinkan penambahan jumlah siklus budidaya dalam setahun.

Data uji coba memperkuat klaim ini. Di CV. Dewi Windu, Barru, metode nursery menghasilkan SR 87,3 persen dan FCR 1,18, jauh lebih baik dibanding direct stocking dengan SR 73,2 persen dan FCR 1,24. Di PT. UMES, Tanah Bumbu, perbedaan bahkan lebih mencolok: SR nursery mencapai 82,5 persen dengan yield hampir dua kali lipat dibanding metode tanpa nursery.

Bukti Lapangan dan Jalan ke Depan

Hasil piloting Tradisional Plus pada udang vannamei menunjukkan tren peningkatan nyata. Produktivitas naik dari 550 kg per hektare per siklus pada batch awal menjadi 755 kg pada batch berikutnya.

Data dari PT. Central Proteina Prima di Pantura Jawa pun memperlihatkan bahwa dengan kepadatan moderat, SR bisa mencapai 66 persen dan produktivitas rata-rata 1,7 ton per hektare.

Menutup paparannya, Budhi menyampaikan harapan konkret kepada pemerintah. Salah satu persoalan krusial yang sering luput dari perhatian adalah muara sungai yang tersumbat.

Kondisi muara yang buruk menyebabkan salinitas rendah dan menjadi sumber penyakit bagi ratusan sentra produksi udang. Dukungan pemerintah dalam pengerukan dan pengelolaan muara dinilai sebagai intervensi strategis yang dampaknya langsung terasa bagi petambak.

Pada akhirnya, gagasan Budidaya Udang Tradisional Plus dan Nursery Pond bukan sekadar inovasi teknis, melainkan perubahan cara pandang. Bahwa kebangkitan udang Indonesia tidak harus mahal dan rumit, tetapi bertumpu pada kekuatan petambak kecil, efisiensi, dan keberlanjutan. Sebuah jalan tengah yang membumi, namun berorientasi masa depan.

___
Penulis K. Azis/Founder Pelakita.ID