PELAKITA.ID – Knowledge Partnership Platform Australia–Indonesia KONEKSII— kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem pengetahuan di Indonesia melalui kehadiran aktif dalam Kongres Ilmuwan Muda Indonesia (KIMI) ke-4 yang digelar di Makassar pada 8 Desember 2025.
Forum yang diselenggarakan oleh ALMI dan Universitas Hasanuddin ini mempertemukan ilmuwan muda, akademisi, perwakilan pemerintah, dan jejaring pengetahuan untuk mengulas arah baru kepemimpinan sains Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, Prof Nurjannah Nurdin tampil sebagai salah satu narasumber KONEKSI dalam sesi pleno “Kepemimpinan Sains dalam Konteks Indonesia”.
Dia juga dikenal sebagai salah satu penerima Research Grant KONEKSI selama dua tahun berturut-turut—sebuah prestasi yang hanya diraih oleh dua peneliti dari Universitas Hasanuddin setelah melalui proses seleksi yang sangat kompetitif dan berstandar tinggi, terutama karena KONEKSI menekankan luaran berbasis community engagement.

Sebagai mitra pengetahuan KONEKSI atau Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia, Prof Nurjannah berbagi refleksi penting mengenai bagaimana kepemimpinan sains yang inklusif dapat memperkuat kualitas riset di Indonesia.
Ia menekankan bahwa inklusivitas dalam ilmu pengetahuan bukan sekadar upaya mengatasi hambatan, melainkan membuka peluang berkelanjutan untuk memperbaiki dan memperkaya pengetahuan dengan melibatkan beragam perspektif sepanjang perjalanan penelitian.
Dalam penyampaiannya, Prof Nurjannah juga menggarisbawahi tantangan yang masih dihadapi perempuan dalam posisi kepemimpinan ilmiah.
Menurutnya, mengangkat isu ini penting agar komunitas sains semakin sadar bahwa keberagaman dalam kepemimpinan akan memperkuat integritas, memperluas kolaborasi, dan mendorong pendekatan multidisipliner yang lebih kokoh.

Kehadiran Prof Nurjannah melengkapi sesi pembukaan KIMI yang sebelumnya menghadirkan pandangan dari Dr. Lilis Mulyani (ALMI), Prof Ahmad Najib Burhani (Kemendikbudristek), Prof Jamaluddin Jompa (UNHAS/ALMI/AIPI), serta Todd Dias (Konsul Jenderal Australia untuk Makassar).
Bersama para ilmuwan dan pembuat kebijakan tersebut, Prof Nurjannah menghadirkan perspektif segar mengenai integritas riset dan arah kepemimpinan sains yang lebih terbuka serta inklusif.
KONEKSI menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra pengetahuan yang berkontribusi dalam forum ini dan bangga dapat mendukung talenta-talenta Indonesia yang bekerja lintas disiplin untuk memperkuat ekosistem ilmu pengetahuan nasional.
Inti Paparan Prof Nurjannah Nurdin
Dalam forum ini Nurjannah menyebut bahwa ketika kita berbicara tentang masa depan sains Indonesia, kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa meski 50 persen lulusan universitas adalah perempuan.
“Hanya 18 hingga 36 persen saja yang akhirnya masuk ke dunia riset. Lebih kecil lagi, hanya sekitar 8 persen perempuan yang berada di bidang STEM. Ini menunjukkan adanya ‘leaky pipeline’—di mana perempuan hadir di ruang pendidikan, tetapi berkurang ketika memasuki ranah profesional,” kata dia.
Bagi Nurjannah, kondisi ini mengingatkan kita bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin sains yang tidak hanya ahli secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, mampu berkolaborasi, menjunjung keberagaman, serta berorientasi pada dampak sosial.
“Pemimpin sains yang sejati adalah mereka yang mampu membuka ruang bagi perspektif yang beragam, karena hanya dengan cara itulah pengetahuan dapat berkembang dan bermakna,” ujarnya.
“Saya selalu percaya bahwa dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan. Kehadiran perempuan dalam sains bukan sekadar representasi, tetapi kebutuhan strategis agar ilmu pengetahuan menjadi lebih inklusif, inovatif, dan responsif terhadap tantangan masyarakat,” tegasnya.
Nurjannah menyirit data global tentang rendahnya proporsi peneliti perempuan di Asia dan Pasifik semakin menegaskan betapa pentingnya membangun ekosistem riset yang ramah, setara, dan mendukung perempuan untuk tumbuh. Ini adalah upaya kolektif yang harus terus kita dorong bersama.
“Melalui platform seperti KONEKSI, saya berkesempatan untuk terlibat dalam jejaring pengetahuan dan kolaborasi lintas institusi. Saya percaya ruang-ruang seperti ini sangat penting untuk memperkuat posisi perempuan dalam kepemimpinan sains di Indonesia,” kuncinya.
Kepakaran Prof Nurjannah Nurdin
Prof Nurjannah Nurdin adalah seorang guru besar di Universitas Hasanuddin yang dikenal sebagai pakar Penginderaan Jauh (Remote Sensing) dan Sistem Informasi Geografis (GIS).
Ia merupakan salah satu akademisi perempuan terkemuka di Indonesia dalam bidang ini, dengan kiprah panjang dalam pemanfaatan teknologi satelit, sensor, dan pemetaan digital untuk memahami kondisi lingkungan, wilayah pesisir, dan dinamika permukaan bumi.
Dalam dunia akademik, Prof Nurjannah berperan penting dalam pengembangan kurikulum, pengajaran, serta pembinaan riset terkait geospasial di Unhas.
Keahliannya mencakup integrasi data penginderaan jauh dan GIS untuk kebutuhan perencanaan wilayah, mitigasi bencana, pengelolaan sumber daya alam, serta analisis spasial yang mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Banyak mahasiswa, peneliti, dan praktisi yang memperoleh manfaat dari bimbingannya dalam menguasai teknologi geospasial modern.
Melalui berbagai penelitian dan kolaborasi nasional maupun internasional, Prof Nurjannah turut mendorong pemanfaatan teknologi geospasial untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan, terutama di kawasan pesisir dan laut.
Pendekatan multidisipliner yang ia kembangkan menjadikan kontribusinya relevan bagi penguatan sains terapan, inovasi teknologi, dan kebijakan berbasis data di Indonesia.
Penulis Denun
