Menyelami Jejak Kerusakan, Degradasi Terumbu Karang di Pantai Selatan Sumatra Pasca Banjir Besar

  • Whatsapp
Penampakan Tanjung Pandan ibu kota Tapanuli Tengah (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Ketika banjir besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir tahun 2025, perhatian publik sepenuhnya tertuju pada kerusakan darat yang begitu masif.

Ribuan rumah tersapu, jembatan terputus, lahan pertanian hilang, dan gunungan sampah mengotori daratan hingga pesisir. Namun sebagai penyelam dan peneliti terumbu karang selama lebih dari sepuluh tahun, saya memahami bahwa bencana besar semacam ini tidak berhenti pada kerusakan yang tampak di permukaan.

Ada ancaman lain yang lebih sunyi, tetapi jauh lebih sulit diperbaiki: kerusakan ekosistem terumbu karang.

Banjir Terbesar dalam Sejarah, Dampak yang Mengalir hingga ke Laut

Banjir 2025 disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah Indonesia, bukan hanya karena luas wilayah terdampaknya, tetapi juga volume sedimen, sampah, dan limpasan limbah yang mengalir ke laut. Beban ini terbawa oleh arus permukaan menuju sejumlah gugus pulau di Aceh Singkil, Sibolga, Tapanuli Tengah, hingga Tapanuli Selatan.

Hasil observasi lapangan awal menunjukkan wilayah yang berpotensi terdampak meliputi:

  • Kabupaten Aceh Singkil: Pulau Birahan, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, Pulau Mangkir Ketek, Pulau Panjang, dan kemungkinan menjalar ke Kepulauan Banyak.

  • Kota Sibolga: Pesisir kota dan dua pulau wisata utama, Pulau Poncan Gadang dan Poncan Ketek.

  • Kabupaten Tapanuli Tengah: Pulau Karang Barus, Mursala/Mansalar, Putri, Situngkus, Kalimantung Na Menek, Sitaban Barat, Batu Layar, Batu Hitam, hingga Pulau Bangke dan Unge.

  • Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal: Pesisir Natal serta Pulau Tamang, Unggeh, dan Talur, lokasi muara lumpur besar dari daratan.

Semua kawasan ini memiliki karakteristik ekosistem karang yang berbeda, tetapi satu ancaman yang sama: air bercampur lumpur pekat dan sampah.

Pulau Poncan: Surga Wisata yang Tertekan Tanpa Bencana Pun

Pulau Poncan adalah contoh paling jelas tentang bagaimana degradasi ekosistem sudah lama terjadi bahkan sebelum banjir. Pulau kecil yang menjadi ikon wisata Kota Sibolga ini memiliki potensi luar biasa untuk diving, snorkeling, dan sport fishing. Namun dari serangkaian monitoring tiga tahun terakhir bersama tim Napoleon Diving Club – DKP Sumatera Utara, kami menemukan tanda-tanda tekanan ekologis berat:

  • berkurangnya luasan terumbu karang sehat

  • kelimpahan ikan karang yang menurun tajam

  • sampah permukaan yang selalu ada

  • keruhnya perairan akibat limbah daratan

  • tekanan dari aktivitas pelabuhan dan rumah panggung

Bahkan tanpa bencana banjir, terumbu karang Poncan sudah berada pada titik kritis. Maka banjir 2025 membuat kami bertanya: apa yang tersisa setelah gelombang sampah dan air berlumpur ini menerjang?

Ketika Limbah Menjadi Ancaman Mematikan

Salah satu ancaman terbesar di Sibolga dan Tapanuli berasal dari limbah rumah tangga, pelabuhan, serta aktivitas pesisir. Detergen, pestisida, klorin, hingga mikroplastik masuk ke laut setiap hari.

Pada kondisi tertentu, kelebihan nutrien seperti nitrat dan fosfat memicu blooming algae—ledakan alga yang mengubah warna air menjadi hijau pekat.

Fenomena ini menimbulkan:

  • kekeruhan tinggi yang memblokir cahaya matahari

  • endapan sedimen yang menutupi polip karang

  • potensi bleaching dan kematian karang

  • perubahan warna air dari biru menjadi hijau keruh

Pada periode air tenang, ledakan alga terlihat jelas: gumpalan berbentuk benang, berwarna kehijauan, melayang di kolom air. Jika mengendap di tubuh karang, polip akan tertutup, dan dalam waktu tertentu karang tidak mampu melakukan fotosintesis bersama zooxanthellae-nya.

Beberapa jenis karang massal memang dapat bertahan, terutama yang sering mengalami siklus pemijahan (spawning). Saat karang melepaskan telur dan sperma, endapan sedimen sedikit terangkat. Namun kemampuan bertahan ini tidak seragam di seluruh spesies.

Ancaman dari Industri: PLTU dan Emisi Karbon

Kehadiran PLTU di Sibolga menambah beban ekologis. Air pendingin boiler yang dibuang kembali ke laut dapat membawa suhu tinggi. Padahal karang hanya mampu hidup optimal pada suhu 23–30°C.

Jika suhu meningkat:

  • metabolisme karang terganggu

  • reproduksi melemah

  • bleaching meningkat

Selain itu, peningkatan emisi CO₂ global membuat laut semakin asam. Sejak era praindustri, pH laut menurun 0,1 poin; IPCC memprediksi penurunan bisa mencapai 0,35 pada akhir abad ini. Keasaman yang naik ini mengikis kemampuan karang membangun rangka kalsium karbonatnya.

Suasana pesisir Sibolga (dok: Istimewa)

Daftar Ancaman Lama: Alami dan Manusia

Terumbu karang bisa rusak oleh faktor-faktor berikut:

Faktor fisik:

  • kenaikan suhu 3–4°C

  • pasang surut ekstrem

  • radiasi UV

  • perubahan salinitas

  • gempa bumi, erupsi, tsunami

  • taifun/badai

Faktor biologi:

  • predasi (misalnya Acanthaster planci)

  • penyakit

  • bioerosi

Faktor manusia (direct & indirect):

  • penangkapan ikan destruktif

  • pembuangan sampah

  • alih fungsi pesisir

  • sedimentasi daratan

  • pencemaran industri, pelabuhan, dan pemukiman

Banjir 2025 memperburuk seluruh faktor tersebut secara sekaligus.

Masih Ada Harapan: Rehabilitasi Terpadu Pulau Poncan

Meski tekanan ekologis tinggi, Pulau Poncan masih memiliki peluang untuk dipulihkan. Secara geomorfologi, struktur pantainya cocok untuk:

  • rekayasa ekosistem bawah air

  • pembangunan artificial reef

  • restorasi koral dengan metode transplantasi

  • zona restocking ikan karang

  • wisata bahari berkelanjutan

Dengan visibilitas yang tidak stabil sepanjang tahun, Poncan membutuhkan intervensi teknik yang tepat.

Jika dilakukan secara terpadu—menggabungkan pemerintah, komunitas penyelam, industri wisata, dan akademisi—Poncan bisa kembali menjadi etalase keindahan bawah laut Sibolga.

Menjaga Apa yang Tidak Selalu Terlihat

Kerusakan daratan pascabencana biasanya segera tampak. Namun kerusakan bawah laut bekerja lebih diam, menyebar pelan, dan sulit dikembalikan. Terumbu karang adalah fondasi kehidupan pesisir. Ketika ia rusak, ikan menghilang, pantai terkikis, dan mata pencaharian nelayan terancam.

Banjir 2025 harus menjadi momentum. Momentum untuk memperbaiki sistem pengelolaan pesisir, memperketat pengawasan limbah, dan memandang laut bukan sebagai halaman belakang, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dijaga.

Tulisan ini adalah awal. Data komprehensif persentase tutupan karang dari pulau-pulau terdampak akan saya sajikan dalam publikasi berikutnya.

___


Amiruddin, ST., MM.Par

Ahli Terumbu Karang — Alumni Universitas Diponegoro Semarang