PELAKITA.ID – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa hari terakhir meninggalkan jejak kerusakan yang luas. Ribuan rumah terendam, akses jalan terputus, suplai listrik terganggu, dan kehidupan sosial warga lumpuh.
Ketika air perlahan mulai surut, fase baru dari bencana muncul: ancaman kesehatan yang mengintai masyarakat di wilayah terdampak.
Dalam situasi seperti ini, menurut akademisi kesehatan masyarakat Dr. Sudirman Nasir, penanganan pascabencana harus segera bergeser dari sekadar pendataan menuju aksi cepat untuk memulihkan kebutuhan dasar warga.
Dari Bencana ke Krisis Lanjutan: Memahami Alur Dampaknya
Hujan ekstrem yang turun tanpa henti memicu luapan sungai, merendam permukiman, fasilitas umum, hingga area persawahan. Pada 48 jam pertama, prioritas pemerintah dan relawan adalah mengevakuasi warga, mendirikan pos darurat, dan membuka akses logistik. Namun, ketika evakuasi berjalan dan kondisi mulai stabil, ancaman baru mulai terlihat jelas: risiko penyakit yang meningkat pesat.
Banjir berskala besar mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan—dari ketersediaan air bersih hingga pola konsumsi masyarakat. Di sinilah pentingnya mengantisipasi dampak kesehatan sebelum situasi berkembang menjadi krisis kemanusiaan.
Mengapa Ancaman Kesehatan Pascabanjir Sangat Serius?
Menurut Dr. Sudirman Nasir, ada dua kelompok penyakit yang hampir pasti meningkat setelah banjir, yaitu:
Yang pertama adalah water-borne dan food-borne diseases
Banjir menyebabkan air bersih tercemar limbah, lumpur, dan patogen yang terbawa dari saluran pembuangan. Situasi ini membuka risiko besar terhadap penyakit seperti diare akut, kolera, hepatitis A, leptospirosis, penyakit kulit dan keracunan makanan akibat bahan pangan yang tercemar.
Air yang bercampur kotoran atau bangkai hewan dapat menyebarkan bakteri dan virus dengan cepat. Di pengungsian, risiko ini meningkat karena sanitasi minim, fasilitas MCK terbatas, dan suplai air bersih tidak stabil.
Yang kedua, kata Sudirman adalah risiko meluas akibat terganggunya layanan kesehatan
Dalam kondisi bencana besar, banyak fasilitas pelayanan kesehatan ikut lumpuh atau tidak berfungsi optimal. Stok obat menipis, tenaga medis terbatas, dan akses antarwilayah terputus.
Menurut Sudirman, “Dalam situasi begini, prioritas bukan di assessment. Kalau banjir skala besar, prioritas adalah memulihkan ketersediaan dan akses ke air bersih, makanan, dan layanan kesehatan.”
Dengan kata lain, memastikan warga bisa minum air aman, mengonsumsi makanan layak, dan memperoleh layanan kesehatan dasar jauh lebih penting daripada menghabiskan waktu untuk pendataan yang berulang.
Ketiga, jangan abaikan kesehatan jiwa
Bencana skala besar tidak hanya melukai fisik, tetapi juga meninggalkan trauma yang mendalam. Warga yang kehilangan keluarga, rumah, mata pencaharian, atau menjalani hari-hari penuh ketidakpastian dalam pengungsian berisiko mengalami stres akut, kecemasan, depresi, trauma berkepanjangan pada anak-anak.
Sudirman menekankan pentingnya layanan psychosocial support sejak awal pemulihan. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui konseling sederhana, ruang bermain anak, aktivitas kelompok, hingga dukungan spiritual para tokoh masyarakat.
Empat Prioritas Utama Penanganan Pascabencana
Berdasarkan penjelasan dan analisis kondisi di lapangan, empat langkah prioritas yang harus dilakukan pemerintah dan pihak terkait meliputi:
Pertama, pemulihan cepat akses air bersih. Meliputi distribusi air melalui mobil tangki, emasangan depot air bersih darurat, pembagian tablet penjernih air dan edukasi penggunaannya
Kedua, memastikan ketersediaan makanan aman konsumsi
Seperti dapur umum yang terkelola dengan baik, distribusi makanan siap saji dan pemeriksaan keamanan pangan di titik pengungsian
Ketiga, memulihkan dan memperkuat layanan kesehatan dasar. Menyiapkan pos kesehatan darurat. Memobilisasi tenaga medis dari daerah tetangga, Layanan aktif jemput bola ke wilayah yang terisolasi
Keempat, dukungan kesehatan mental bagi seluruh kelompok rentan, anak-anak, lansia, ibu hamil dan menyusui, penyintas dengan kehilangan signifikan.
Membangun Resiliensi Kesehatan Pascabencana
Banjir Sumatera menjadi pengingat bahwa bencana tidak berakhir ketika air surut. Justru fase kritis dimulai sejak itu. Dengan memahami pola ancaman kesehatan dan bergerak cepat memulihkan kebutuhan dasar, dampak lanjutan dapat dicegah dan masyarakat bisa kembali bangkit lebih cepat.
Penjelasan Dr. Sudirman Nasir memberikan arah yang jelas: fokus pada kebutuhan esensial, pastikan akses pelayanan kesehatan, dan jangan abaikan kesehatan jiwa. Sebab bencana bukan hanya tentang kerusakan fisik, tetapi juga tentang upaya memulihkan manusia secara utuh.
Editor Denun
