Media Sosial dan Pembunuhan Kreativitas Bawaan

  • Whatsapp
Ilusyrasi

PELAKITA.ID – Di era digital yang serba cepat ini, kehidupan manusia seolah terjalin erat dengan notifikasi, unggahan, dan linimasa.

Hampir setiap detik, mata kita tertambat pada layar—menyimak kisah orang lain, membagikan momen pribadi, atau sekadar menelusuri berita yang entah benar atau tidak.

Media sosial kini bukan sekadar alat komunikasi—ia telah menjelma menjadi ruang hidup baru yang membentuk cara kita berpikir, bekerja, dan merasa. Namun di balik daya tariknya yang memikat, muncul pertanyaan besar: apakah media sosial sedang membunuh kreativitas bawaan manusia?

Mengapa Media Sosial Begitu Mewabah dan Menggoda

Fenomena “wabah digital” ini bukanlah kebetulan. Media sosial dirancang untuk memikat dan menahan perhatian kita selama mungkin. Setiap notifikasi, tombol “like”, dan komentar yang masuk bekerja seperti pemicu dopamin di otak—memberikan sensasi kecil yang menyenangkan dan membuat kita ingin terus kembali.

Kita merasa terhubung, dihargai, bahkan diakui, meskipun hanya melalui emoji atau reaksi singkat dari orang lain.

Secara global, perkembangan teknologi komunikasi memperkuat gelombang ini. Tren seperti kecerdasan buatan (AI), algoritma rekomendasi cerdas, augmented reality (AR), dan metaverse semakin memperhalus pengalaman bersosial di dunia maya.

Platform seperti TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts menjadi panggung ekspresi instan: siapa pun bisa menjadi kreator, siapa pun bisa viral.

Namun di balik gemerlap itu, terjadi pergeseran halus dalam cara kita berpikir. Media sosial membuat segalanya tampak instan—pengakuan, apresiasi, bahkan kesuksesan. Akibatnya, banyak orang tak lagi menikmati proses panjang dalam belajar dan berkreasi. Mereka terjebak dalam pencarian “like”, bukan pencarian makna.

Sisi Baik dan Buruk Media Sosial

Tentu, kita tidak bisa menafikan sisi positif media sosial. Ia membuka komunikasi lintas ruang dan waktu, mempercepat pertukaran ide, dan memungkinkan kolaborasi tanpa batas.

Bagi individu kreatif, media sosial adalah galeri terbuka: karya seni, tulisan, atau produk dapat menjangkau audiens global tanpa perantara lembaga besar. Dalam dunia profesional, organisasi dapat membangun branding, menjangkau konsumen, bahkan merekrut talenta dengan lebih efisien.

Namun, sebagaimana dua sisi mata uang, dampak negatifnya pun nyata.

Bagi individu, media sosial dapat menumpulkan imajinasi. Kita lebih sering menjadi konsumen daripada pencipta. Ketika ide muncul, kita cenderung mencari “referensi” di internet—dan tanpa sadar meniru. Akibatnya, kreativitas orisinal tergerus oleh algoritma yang menstandarkan selera.

Dalam jangka panjang, manusia kehilangan kemampuan berpikir dari nol, untuk menciptakan sesuatu dari ketidaktahuan.

Bagi organisasi, media sosial bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka saluran komunikasi yang cepat dan murah. Namun di sisi lain, ia menumbuhkan budaya reaktif—keputusan diambil berdasarkan opini publik sesaat, bukan pertimbangan strategis jangka panjang. Organisasi bisa kehilangan fokus dan integritas ketika lebih sibuk membangun citra di dunia maya ketimbang kualitas nyata di lapangan.

Sementara bagi sistem sosial, media sosial menciptakan realitas semu berlapis-lapis. Nilai sosial bergeser dari makna ke citra, dari substansi ke penampilan.

Seseorang lebih dinilai dari jumlah pengikut ketimbang kontribusinya yang nyata. Interaksi sosial menjadi dangkal, mudah terpecah oleh hoaks, dan kian kabur batas antara popularitas dan kredibilitas.

Lebih jauh lagi, media sosial memperkuat polarisasi. Kita cenderung berinteraksi hanya dengan mereka yang berpikiran sama (echo chamber), menolak pandangan berbeda, dan memandang dunia secara hitam-putih. Kemampuan kita untuk berpikir kritis dan empatik pun perlahan melemah—dua kemampuan dasar yang justru menjadi bahan bakar utama kreativitas sejati.

Lensa Foucault: Wacana, Kekuasaan, dan Narasi

Gagasan Michel Foucault tentang wacana dan kekuasaan memberikan kerangka berpikir yang menarik untuk memahami implikasi sosial dari media sosial. Bagi Foucault, wacana bukan sekadar bahasa, melainkan sistem pengetahuan yang menentukan apa yang bisa dikatakan, dipikirkan, dan dipercayai.

Media sosial saat ini bertindak sebagai jaringan wacana raksasa yang secara halus mengatur kebenaran, selera, dan relevansi. Algoritma, tagar yang sedang tren, dan narasi para influencer menentukan ide mana yang diperkuat dan mana yang disenyapkan.

Dalam konteks ini, media sosial bukanlah ruang netral; ia menciptakan “rezim kebenaran” yang menentukan apa yang dianggap bernilai dan layak diperhatikan.

Foucault juga menyoroti hubungan antara kekuasaan dan narasi—bahwa cara kita bercerita mencerminkan struktur kekuasaan yang bekerja di baliknya. Di media sosial, narasi menjadi terpecah dan performatif; identitas diri terus-menerus dikonstruksi agar sesuai dengan ekspektasi publik.

Kekuasaan bekerja secara halus melalui keinginan akan pengakuan dan validasi. Dengan demikian, tindakan kreatif—yang semestinya menjadi bentuk kebebasan—berubah menjadi pertunjukan yang dibatasi oleh norma-norma digital yang tak kasat mata. Semakin kita menceritakan diri dalam kerangka itu, semakin kita tunduk padanya.

Kreativitas yang Mati Pelan-Pelan

Kreativitas sejati lahir dari perenungan, dari kesendirian, dari keberanian untuk salah dan mencoba lagi. Tetapi media sosial menuntut kecepatan dan kesempurnaan semu.

Kita merasa harus selalu tampil “baik” di hadapan audiens tak kasat mata. Akibatnya, ruang untuk bereksperimen, gagal, dan memperbaiki diri menjadi semakin sempit.

Fenomena “scrolling tanpa henti” juga menumpulkan fokus kita. Otak manusia, yang sejatinya dirancang untuk berimajinasi dan menghubungkan ide, kini terbiasa dengan informasi yang dangkal dan cepat. Kita membaca tanpa merenung, menonton tanpa memahami. Ide-ide besar yang butuh waktu untuk tumbuh akhirnya tenggelam di antara gelombang konten singkat dan viralitas sesaat.

Menata Diri di Era Digital

Lalu, apakah kita harus meninggalkan media sosial sepenuhnya? Tentu tidak. Seperti pisau, media sosial bukanlah musuh; baik-buruknya ditentukan oleh cara kita menggunakannya. Tantangannya adalah menjadi pengguna yang sadar, bukan korban algoritma.

Pertama, latih disiplin digital—batasi waktu penggunaan dan beri ruang bagi pikiran untuk beristirahat dari stimulasi konstan. Cobalah hari tanpa media sosial (social media detox day) untuk kembali merasakan keheningan dan berpikir lebih dalam.

Kedua, gunakan media sosial sebagai alat, bukan tujuan. Gunakan untuk belajar, berkolaborasi, dan berbagi gagasan, bukan sekadar mencari validasi. Jadilah kreator yang menanamkan nilai, bukan pencitraan.

Ketiga, perkuat keunggulan diri di dunia nyata—kemampuan yang tak bisa digantikan mesin: empati, intuisi, seni berkomunikasi, dan pemecahan masalah kompleks. Dunia digital justru akan lebih menghargai mereka yang memiliki orisinalitas dan integritas.

Keempat, bangun komunitas positif—ruang sosial yang sehat untuk berdiskusi tanpa menghakimi, berbagi ide tanpa takut ditertawakan. Media sosial bisa menjadi sarana membangun jejaring semacam ini bila digunakan dengan niat yang benar.

Menuju Masa Depan yang Seimbang

Masa depan komunikasi manusia tidak akan lepas dari teknologi. Kecerdasan buatan akan makin canggih, metaverse makin nyata, dan algoritma makin personal. Namun di tengah kecerdasan mesin, yang membedakan manusia adalah kedalaman rasa dan kreativitas yang berakar pada kesadaran diri.

Media sosial seharusnya menjadi cermin, bukan penjara. Ia bisa memperluas jangkauan ide, asalkan kita tidak larut dalam permukaannya. Kreativitas sejati tidak butuh banyak sorotan, hanya butuh ruang untuk tumbuh—di dalam kepala dan hati yang bebas dari ketergantungan pada validasi digital.

Pada akhirnya, kita tidak sedang berperang melawan teknologi, melainkan melawan kebiasaan kita sendiri yang terlalu mudah tergoda oleh kenyamanan semu. Dunia digital memang cepat, tapi kebijaksanaan selalu lahir dari proses yang pelan dan reflektif.

Jika kita mampu menata diri, memaknai waktu, dan menggunakan media sosial dengan kesadaran, maka teknologi tak akan pernah mampu membunuh kreativitas bawaan manusia. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi alat untuk memperluasnya—asal kita tetap menjadi tuan atas pikiran, bukan budak dari layar.