- Program ini juga mengandung elemen cluster development, di mana konsentrasi geografis petani, pemasok, dan institusi memicu arus pengetahuan, meningkatkan daya saing, dan mendorong berkembangnya industri terkait seperti logistik dan pengolahan hasil.
Secara ekonomi, program ini terbukti menjanjikan. Pisang Cavendish mampu menghasilkan hingga 80.000 kilogram per hektare per tahun dan memberikan pendapatan bersih sekitar Rp260–280 juta per hektare bagi petani.
- Bagi pemerintahan Presiden Prabowo, program Cavendish ini dapat menjadi cetak biru untuk memperkuat peran provinsi sebagai motor pertumbuhan. Program ini membuktikan bahwa kedaulatan pangan dan pembangunan ekonomi dapat dicapai melalui inisiatif berbasis komunitas dengan dukungan kemitraan strategis bersama sektor swasta.
PELAKITA.ID – Program budidaya pisang Cavendish yang digagas Dr. Bahtiar Baharuddin di Sulawesi Selatan menjadi contoh inspiratif bagaimana sektor pertanian dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi lokal, kedaulatan pangan, dan kebanggaan komunitas.
Program ini bukan sekadar proyek pertanian biasa, melainkan mencerminkan prinsip civic agriculture, yakni produksi pangan yang erat kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat dan kesejahteraan bersama.
Inti dari program ini adalah pemberdayaan petani kecil. Alih-alih mengandalkan perkebunan besar milik korporasi, program ini mendorong petani untuk menanam pisang Cavendish di lahan pekarangan dan tanah-tanah terlantar.
Kemitraan dengan perusahaan swasta seperti PT Letawa di bawah Astra Agro Lestari memastikan petani mendapatkan pendampingan teknis, akses pasar, hingga dukungan kredit melalui skema mikro.
Pendekatan ini merekatkan kembali produksi pangan dengan kehidupan masyarakat, sejalan dengan konsep civic agriculture yang dikemukakan Thomas Lyson, yang menekankan partisipasi lokal dan distribusi manfaat ekonomi yang lebih merata.
Salah satu pencapaian besar dari program ini adalah pemanfaatan lahan terlantar menjadi aset produktif. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memiliki hamparan luas lahan marjinal yang selama ini tidak dimanfaatkan.
Dengan rencana ambisius menanam hingga satu miliar pohon pisang Cavendish di lahan lebih dari 500.000 hektare, Bahtiar menunjukkan bagaimana mobilisasi sumber daya dan pemanfaatan lahan yang efisien dapat mengubah wajah ekonomi pedesaan.
Ini menjadi jawaban atas tantangan klasik pembangunan desa, di mana potensi lahan sering terbengkalai akibat minimnya investasi dan dukungan kelembagaan.
Secara ekonomi, program ini terbukti menjanjikan. Pisang Cavendish mampu menghasilkan hingga 80.000 kilogram per hektare per tahun dan memberikan pendapatan bersih sekitar Rp260–280 juta per hektare bagi petani.
Keuntungan ini jauh melampaui banyak komoditas tradisional, membuka jalan nyata keluar dari kemiskinan bagi keluarga petani. Dengan tingkat pengembalian investasi yang sangat tinggi dan periode balik modal kurang dari setahun, program ini berhasil menarik minat petani sekaligus investor swasta.
Kunci keberhasilan lainnya adalah terbentuknya ekosistem kemitraan publik-swasta yang solid. Petani tidak dibiarkan mencari pasar sendiri, melainkan mendapatkan kepastian pembeli melalui perjanjian offtaker dengan perusahaan seperti PT Citra Agri Pratama dan Great Giant Foods.
Skema kredit usaha rakyat (KUR) yang dijamin pemerintah menyediakan pembiayaan hingga Rp100 juta per hektare, sehingga petani kecil pun mampu ikut serta.
Sinergi antara dukungan pemerintah, keterlibatan sektor swasta, dan partisipasi petani ini mencerminkan praktik terbaik pertumbuhan inklusif dan ekonomi berbasis komunitas.
Lebih dari sekadar keuntungan finansial, program ini memiliki makna simbolik yang kuat. Ia memperkuat kedaulatan pangan dengan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor pisang sekaligus menumbuhkan kebanggaan bagi petani lokal.
Dengan membuktikan bahwa masyarakat di Indonesia Timur mampu menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing global, program ini telah membuka peluang ekspor ke berbagai negara, termasuk Arab Saudi. Pesan yang disampaikan jelas: komunitas pedesaan Indonesia bisa memenuhi standar internasional tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Dari perspektif teori perubahan sosial pertanian, program ini sejalan dengan gagasan diversifikasi pertanian, pembangunan berbasis komunitas, dan peningkatan ketahanan pangan melalui komoditas bernilai tinggi.
Program ini mencerminkan pendekatan pembangunan endogen (endogenous development), di mana pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh sumber daya internal—modal manusia, lahan, dan jaringan kelembagaan—alih-alih hanya mengandalkan investasi eksternal.
Program ini juga mengandung elemen cluster development, di mana konsentrasi geografis petani, pemasok, dan institusi memicu arus pengetahuan, meningkatkan daya saing, dan mendorong berkembangnya industri terkait seperti logistik dan pengolahan hasil.
Selain itu, program ini mencerminkan prinsip place-based development yang menekankan kebijakan yang dirancang sesuai konteks lokal, bukan pendekatan seragam untuk semua wilayah.
Strategi Bahtiar sebagai kepala daerah yang aktif memanfaatkan kondisi geografis dan sosial-ekonomi Sulawesi Selatan yang memiliki lahan luas dan masyarakat yang bergantung pada pertanian. Dengan memilih komoditas yang sesuai lahan sekaligus memiliki pasar global, program ini menghindari jebakan kebijakan serba sama yang sering gagal di tingkat lokal.
Program Cavendish juga menjawab tantangan ketimpangan spasial yang selama ini membelenggu pembangunan Indonesia. Kesempatan ekonomi yang terkonsentrasi di Pulau Jawa menyebabkan wilayah timur tertinggal.
Dengan menghadirkan komoditas bernilai tinggi di pedesaan Sulawesi Selatan, program ini menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan mengurangi tekanan migrasi. Masyarakat bisa tumbuh dan berkembang di kampung halamannya sendiri.
Bagi pemerintahan Presiden Prabowo, program Cavendish ini dapat menjadi cetak biru untuk memperkuat peran provinsi sebagai motor pertumbuhan.
Program ini membuktikan bahwa kedaulatan pangan dan pembangunan ekonomi dapat dicapai melalui inisiatif berbasis komunitas dengan dukungan kemitraan strategis bersama sektor swasta.
Alih-alih hanya mengandalkan proyek top-down yang padat modal, Indonesia dapat meniru model pembangunan pertanian berbasis lokal dan bernilai tinggi ini di berbagai provinsi.
Inisiatif Bahtiar Baharuddin adalah lebih dari sekadar kisah sukses pertanian. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana mengurangi kesenjangan wilayah, membangun kebanggaan lokal, dan menciptakan ekonomi berkelanjutan yang kuat.
Dengan mengintegrasikan petani, investor, dan institusi pemerintah dalam kerangka kolaboratif, program ini memperkuat kapasitas lokal sekaligus mendorong perekonomian nasional yang lebih merata.
Ia menunjukkan bahwa perubahan bermakna dimulai dari tingkat lokal, dan dengan kebijakan serta kemitraan yang tepat, komunitas mampu menjadi penggerak utama pembangunan sekaligus memperkuat kedaulatan pangan bangsa.
Penulis Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID









