Polutan Kimia Berbahaya di Lingkungan Laut: Tantangan dan Strategi Mitigasinya di Era Perubahan Iklim (Bagian 3)

  • Whatsapp
Prof Dr Najamuddin, S.T, M.Si (dok: Istimewa)

Pencemaran laut mencerminkan kegagalan tanggung jawab ekologis manusia dan dominasi pandangan antroposentris.

Prof Dr Najamuddin, S.T, M.Si dikukuhkan sebagai guru besar pencemaran laut di Universitas Khairun Ternate. Mari simak isi pidato pengukuhan alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas tersebut berikut ini sebagaimana dibagikan untuk Pelakita dan pembacanya.

PELAKITA.ID – Temuan baru yang disebut “pseudo persistent pollutant” dari senyawa kimia yang terkandung di dalam skincare atau sunscreen—produk pelindung kulit dari radiasi sinar UV—telah masuk ke lingkungan laut.

Senyawa ini dapat menyebabkan coral bleaching (pemutihan karang), coral deformity (kerusakan DNA karang), gangguan hormonal pada karang, penurunan fertilitas dan reproduksi ikan, gangguan pertumbuhan serta fotosintesis pada alga, gangguan pada kerang muda, dan merusak sistem kekebalan serta reproduksi bulu babi.

Diperkirakan sekitar 6.000-14.000 ton senyawa kimia dari sunscreen (seperti oxybenzone, benzophenone, methylbenzylidene, nano-titanium dioxide, nano-zinc oxide, octinoxate, dan octocrylene) masuk ke perairan setiap tahunnya.

Senyawa kimia tersebut bersifat persisten, mengalami bioakumulasi, dan beracun.

Pencemaran laut tidak dapat dipisahkan dari krisis iklim yang melanda ekosistem global saat ini. Keduanya merupakan dua krisis lingkungan utama abad ke-21 yang saling memperkuat dampaknya.

Interaksi kompleks antara pencemaran laut dan perubahan iklim membentuk mekanisme umpan balik yang memperparah siklus kerusakan ekologis.

Arne Naess (1973), dalam Deep Ecology, mengkritik paradigma reduksionistik yang memisahkan berbagai bentuk kerusakan lingkungan, padahal pencemaran dan perubahan iklim adalah bagian dari dinamika ekologis yang saling terintegrasi.

Edgar Morin (1999) melalui teori kompleksitas menegaskan bahwa pencemaran laut dan perubahan iklim harus dipahami sebagai sistem yang saling terhubung (interconnected systems). Limbah yang masuk ke laut tidak hanya merusak biota laut tetapi juga mengubah dinamika keseluruhan ekosistem.

Pencemaran plastik, misalnya, meningkatkan emisi gas rumah kaca dari degradasi plastik di laut yang melepaskan gas metana (CH₄) dan etilena (C₂H₄). Plastik dalam sedimen dapat menghambat pertukaran gas dasar laut dan memengaruhi siklus karbon lokal (Suryanarayanan et al., 2021).

Organisme yang terpapar mikroplastik, yang seringkali membawa polutan lain seperti POP dan logam berat, menjadi lebih rentan terhadap stres lingkungan akibat perubahan iklim.

Suhu laut yang lebih tinggi akibat pemanasan global dapat meningkatkan metabolisme organisme laut, mempercepat penyerapan dan bioakumulasi polutan, serta meningkatkan toksisitasnya (Noyes et al., 2009).

Pemanasan juga mengurangi kelarutan oksigen, memperluas zona mati (death zone) dan memperparah tekanan ekosistem, memperlambat dekomposisi bahan pencemar, serta meningkatkan toksisitas polutan.

Akumulasi polutan seperti mikroplastik dalam sedimen dapat mengubah komunitas mikroba dan siklus biogeokimia, serta menurunkan kapasitas penyerapan karbon di ekosistem pesisir yang penting bagi mitigasi perubahan iklim.

Perubahan iklim juga memperparah pencemaran laut dengan mengubah penyebaran, toksisitas, dan dinamika polutan. Kenaikan permukaan laut meningkatkan risiko banjir pesisir yang membawa polutan dari daratan ke ekosistem laut (Nicholls et al., 2007).

Pemanasan global memengaruhi sirkulasi arus laut, distribusi polutan dan nutrien, serta mengubah pola curah hujan yang ekstrem, meningkatkan limpasan permukaan dari darat ke laut (IPCC, 2021; Milly et al., 2002).

Kenaikan suhu dan keasaman laut meningkatkan kelarutan dan toksisitas polutan, mempercepat degradasi senyawa kimia menjadi bentuk yang lebih berbahaya.

Pola arus laut yang berubah menyebarkan polutan ke wilayah yang sebelumnya belum tercemar seperti Arktik atau zona konvergensi seperti Great Pacific Garbage Patch (Fratantoni & McCartney, 2010).

Kombinasi tekanan polutan dan perubahan iklim menyebabkan pergeseran spesies, penurunan produktivitas primer, gangguan jaring makanan laut, dan mengancam keanekaragaman hayati serta produktivitas perikanan (Breitburg et al., 2018).

Solusi Pencemaran Laut

Solusi pencemaran laut memerlukan pendekatan mitigasi melalui:

Pendekatan Teknis: Strategi pencegahan di hulu (source control) melalui kebijakan, regulasi, penegakan hukum, teknologi produksi bersih (clean production), ekonomi sirkular, edukasi publik, serta kolaborasi internasional.

Di hilir (end-of-pipe treatment), dilakukan remediasi fisik-kimia-biologis seperti fitoremediasi, fitoekstraksi, mikroremediasi, fotokatalisis, teknologi nano dan magnetik, monitoring berbasis AI, serta inovasi material penyerap plastik dan plastik biodegradable.

Pendekatan Filosofis: Pencemaran laut bukan hanya masalah teknis, tetapi krisis ontologis dan eksistensial. Kajian sains dan teknologi perlu disinergikan dengan filsafat yang memandang laut sebagai entitas hidup dengan hak eksistensial. Pencemaran laut mencerminkan kegagalan tanggung jawab ekologis manusia dan dominasi pandangan antroposentris.

Arne Naess mengajak kita keluar dari paradigma laut sebagai sumber daya menjadi laut sebagai entitas ekologis yang memiliki hak untuk berkembang. Daniel Goleman menekankan pentingnya “ecological intelligence” untuk menyadari konektivitas kehidupan dan dampak tindakan manusia terhadap kosmos.

Laut bukan sekadar tempat yang tercemar, tetapi telah menjadi realitas ekologis baru yang tak terbalikkan—dengan munculnya mikrosistem seperti “plastisfer” (Zettler et al., 2013).

Maka pencemaran laut perlu dipahami sebagai krisis spiritual, moral, dan filosofis.

Laut adalah cermin peradaban. Jika laut rusak, maka ada yang keliru dalam tata kehidupan kita. Laut yang sehat menjadi tanggung jawab moral, akademik, dan spiritual.

Dengan kesadaran mendalam, kita dapat merancang solusi yang lebih menyeluruh, tidak hanya mitigatif tapi juga transformatif.

Seorang Guru Besar bukan hanya gelar kehormatan, melainkan amanah untuk terus menjelajahi ruang-ruang pengetahuan demi kemaslahatan.

Seperti kata Carl Sagan: “Somewhere, something incredible is waiting to be known.” Laut menyimpan misteri yang menanti untuk ditemukan.

Sebagai oseanolog, tugas kita adalah membaca dan menerjemahkan fenomena laut menjadi pengetahuan dan solusi bagi peradaban.

Editor K. Azis