Obituari Dr Muhammad Lukman, pembawa panji Unhas hingga Antartika

  • Whatsapp
Muhammad Lukman dan bendera Unhas di Antartika (dok: istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – M Zulficar Mochtar, Andi Nurjaya, Abdi Suhufan dan beberapa pilar organisasi Destructive Fishing Watch Indonesia mengelilingi peti jenazah di bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Sabtu. (1/4)

Tangan mereka terangkat, doa dipanjat untuk sahabat tercinta Muhammad ‘Luky’ Lukman yang wafat dinihari sebelumnya. Kawan semasa kuliah di Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), teman sejawat itu pergi mendahului menemui Sang Khalik.

Teman yang selama ini menjadi tempat berbagi obrolan, saling canda, teman sejawat, teman makan coto, berolahraga, seperjalanan untuk beberapa nama yang disebut di awal telah memenuhi panggilan Rabb-nya.

Read More

Teman-teman itu pula yang mengantar penyuka bulutangkis itu kembali ke Makassar. Kota yang dirindukan, yang sesungguhnya telah dia niatkan ke ibundanya untuk kembali memulihkan diri.

“Ma, saya mau kembali ke Makassar,” ucap ibundanya menirukan saat penulis temui di Kompleks Perumahan UNM Makassar pada malam harinya.

Penulis menemui ibunda Luky sekaligus menyampaikan salam dan ucapan belasungkawa dari tim FAO Indonesia, organsiasi dimana almarhum dan penulis pernah bekerja.

Muhammad Lukman saat wisuda di ITK Unhas

“Sampaikan salam kami untuk keluarga Pak Luky ya,” pesan Ibu Oemi dari FAO Indonesia siang itu.

Sang ibu nampak tegar, ada sunggingan senyum saat dia utarakan kalau anaknya itu sudah menyampaikan keinginannya untuk istirahat.  “52 tahun,” jawab sang ibu saat ditanya usia anaknya.

Seperti di bandara Soekarno Hatta, di bandara Sultan Hasanuddin, sekitar pukul 9 malam, jenazah dijemput oleh kolega Kelautan Luky. Ada adik-adiknya alumni Kelautan Unhas seperti Andi Muhammad Izzak, Atjo Alamsyah hingga M. Rziky Latjindung. Jenazah tida di rumah duka sekitar pukul 22.30 Wita.

Di rumah duka, beberapa sahabat Luky baik dari kalangan dosen, aktivis Kelautan dan Perikanan, menunggu dan berharap bisa melihat sahabatnya itu untuk terakhir kalinya. Semuanya mengaku kaget setelah mendengar kabar duka itu.

Di depan rumah duka berbaris ucapan belasungkawa, dari mentornya Prof Jalamluddin Jompa yang juga Rektor Unhas, Prof Widi Agus Pratikto ex COREMAP CTI, kolega di FIKP Unhas, ISLA Unhas, ISKINDO, ISOI hingga Dr Syarkawi Rauf, teman ngobrolnya selama di Jakarta.

“Saya masih melihat dia berenang dengan Vicar.”

“Beberapa waktu lalu saya masih menyapanya di Whatsapp.”

“Saya bercanda dengan dia via Whatsapp.” “Beberapa waktu lalu kami sama-sama di Semarang.”

“Saya lihat dia ada di Bandung.”

“Di rumah ini dulu, saat mahasiswa kami sering datang.”

“Rumah ini dulu jadi kantor YKL dan Marina, saat mengerjakan program Bandeng Presto bersama Sarana Ventura.”

Penulis bersama Muhammad Lukman dan alumni Kelautan Unhas di Warkop 52

Banyak sekali cerita tentang almarhum dari beberapa kolega yang hadir malam itu di rumah itu.

Di rumah duka, penulis melihat beberapa sosok yang selama ini lekat dengan Luky. Dari FIKP ada Dekan Dr Syafruddin, Ical, Andi Assir Marimba, Iqbal ‘Imba’ Djawad, Kak Piu Syafiuddin, Prof Abdul Haris.

Dari disiplin Ilmu Kelautan, teman kuliah almarhum ada Ipul, Supriadi, Mahatma, A.M Riady, Awal Cindenk, Habrianto, Ivan, Kadis DKP Sulsel Muhammad Ilyas hingga adik-adik Kelautan yang selama ini menjadi mitra kreatifnya, ada perwakilan YKL Indonesia, Lemsa, Nypah, hingga Blue Forests.

Profil Lukman

Muhammad Lukman adalah dosen pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Lulusan SMA Negeri I Makassar angkatan 90, masuk ITK Unhas pada tahun yang sama dan merampungkan kuliah pada tahun 1995.

Kemampuan berbahasa Inggrisnya sangat bagus, menurun dari ayahnya Muhammad Ahsin, almarhum yang merupakan dosen Sastra Inggris di IKIP Ujung Pandang. Dia diterima di Universty New South Wales Sydney, lalu merampungkan kelas doktoral di Bremen Jerman.

Kelas doctoral yang menurutnya sangat berat hingga harus bekerja banting tulang demi uang kuliah. “Berat, bikin stress. Hampir tidak dapat gelar,” katanya pada suatu ketika ke penulis.

M Zuulficar Mochtar dan Muhammad Lukkman berserta kolega di Bali
M Zuulficar Mochtar (ujung kiri) dan Muhammad Lukkman berserta kolega di Bali

Setelah kembali ke tanah air, beberapa tahun menjadi tenaga pendidik di Ilmu Kelautan Unhas sembari mengerjakan beberapa proyek Kelautan dan Perikanan pada tahun 2000-an akhir. Dia gandrung mengerjakan program kelautan dan perikanan, hal yang disebutnya penting bagi Indonesia untuk bisa tampil ke ranah internasional memperjuangkan potensi kematiriman yang luas biasa dahsyat itu.

Salah satu yang penulis ingat adalah saat menjadi konsultan proyek pesisir Oxfam, lalu ‘hijarh’ dari kampus untuk menjabat Sekretaris di COREMAP CTI, proyek konservasi terumbu karang. Beberapa tahun bekerja di Manado lalu kembali ke Unhas.

Di Unhas, dia mendapat izin dari Rektor Unhas Prof Dwia untuk bekerja di COREMAP CTI dan di proyek The Indonesia Sea Large Marine Ecosystem untuk Indonesia dan Timor-Leste sejak akhir tahun 2019. Penulis bergabung dengannya pada Februari 2020 hingga pengujung 2021.

Untuk urusan ini dia juga pernah curhat kalau awalnya tak dizinkan, namun karena penjelasannya, akhirnya dibolehkan juga. Dia semakin menikmati pengembaraan keilmuannya di organisasi internasional.

Di Jakarta, Lukman tinggal di Kalibata City bersama istrinya Rahmawaty ‘Mome’.  Momen langka bersama Luky di Jakarta adalah saat dia dan istirinya mengajak penulis nonton di XXI di Kawasan Sarinah.

Sebelum penulis kembali ke Makassar, dia mengaku tertarik beli rumah di daerah Cibubur.  “Ada ini tawaran beli rumah, beli ndak ya, bapak harus pikirkan juga untuk tinggal di Jakarta,” kenang penulis saat berbincang di kantor DFW Indonesia.

Testimoni teman

Kabar meninggalnya Lukman disampaikan oleh kawan karibnya sejak SMA, M. Zulficar Mochtar.

“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Allahummagfirlahu Warhamhu waaifi wa’fuanhu. Alfatihah. Berdukacita mendalam atas berpulangnya saudara, sahabat terbaik Dr. Muh Lukman. Mohon doanya,” tulis Zulficar di grup WA Kelautan Unhas pagi itu.

Dia pula yang mengabarkan jenazah akan dibawa dari Jakarta via pesawat City Link pukul 17.00 WiB tujuan Makassar.

Nazruddin Maddepungeng, kakak angkatan Lukman di ITK Unhas mengaku terakhir bersama almarhum di acara DJPT KKP tanggal  19 hingga 21 di Semarang, Hotel Gumaya.

Para kolega di rumah duka Muhammad Lukman (dok: istimewa)

“Selalu bersama dengan almarhum di ruangan, di kamar, ngopi, dinner, sarapan pagi, mengantar checkout. Beliau dalam masa pemulihan setelah opname karena tipus,” tulis Naz.

Dia menambahkan, almarhum sangat aktif di  pergerakan Kelautan dengan jabatan Ketua Senat, alumni Smansa Makassar 90.

“Selamat jalan sahabat Muh Lukman, semoga husnul khatimah,” tambahnya.

“Kakak senior yang baik, saya banyak berinteraksi beliau 7 tahun terakhir ini semenjak di Jakarta. Banyak insight beliau baik saat ngopi-ngopi di Phoenam atau Bosca maupun saat pertemuaan di rapat-rapat,” puji Cahyadi Rasyid alumni Kelautan Unhas 95 yang bekerja di Kemenkomarrves.

Sementara Ilham Hasan, mengaku terakhir bertemu teman seangkatannya itu saat almarhum masih kursus Bahasa Inggris di IALF Denpasar Bali, persiapan S2 ke Australia.

”Kebetulan saya masih di Siemens Denpasar waktu itu, dan jemput beliau di bandara. Beberapa hari di tempat kami nginap sebelum beliau ngekost di dekat kantor IALF Denpasar tahun 1997 hingga 1998,” tulis Ilham.

“Bersama beliau di Mukernas ISKINDO di Kepulauan Riau. Selamat jalan kanda andalan dan panutan kami semua, Dr. Muh Lukman. Kami sangat kehilangan senior dan sahabat terbaik. Semoga Allah SWT mengampuni segala salah dan dosa-dosa serta melipatgandakan Amal kebaikanmu selama ini, Aamiin YRA,” tulis Laode Muhammad Yasir Haya, Ph.D, akademisi UHO Kendari.

Muhammad Lukman bersama anak-anak Kelautan Unhas di Jakarta (berdiri ketiga dari kanan)

“Almarhum adalah salah satu peneliti terbaik Unhas yang menginjakkan kaki di Antartika,” puji Iqbal Djawad, Ph.D, senior Luky di FIKP Unhas. Pujian tentang riset di Antartika datang dari Prof Amran Razak, Dr Rijal Idrus hingga ketua Ikatan Sarjana Kelautan Unhas, Darwis Ismail.

Para sahabat itu bersedih, Si Pembawa panj-panji Unhas di dunia riset kelautan hingga jauh ke Antartika itu telah pergi.

Banyak yang kehilangan. Sudirman Nasir, Ph.D, dosen FKM Unhas juga punya catatan juga tentang almarhum meski dia menyebut dia ke Australia setahun setelah Luky.

“Alfatihah, almarhum, kawan-kawan seangkatannya persiapan Bahasa Inggris di Bali ketika mau ke Australia sedang mengenang beliau. Tinggal kos berminggu, berbulan sama-sama di rantau banyak kenangan indah dan lucu,” sebut Sudirman yang berangkat ke Australia setahun setelah Lukman.

“Almarhum hebat, terutama waktu gabung tim ke Antartika. Mungkin terbilang jari itu orang Indonesia atau Asia Tenggara yang pernah ke Antartika riset,” puji Sudirman.

Sad weeks. Dua orang kawan dengan kiprah sangat bagus di bidang masing-masing berangkat duluan. Tante Lily dan om Luky,” sebut Sudirman.  

Lily yang dimaksud Sudirman adalah alumni Unhas yang punya prestasi sebagai penggiat literasi dan influencer demokrasi dan partiisipasi perempuan yang berpulang sebulan lalu di Melbourne.

Pengalaman Muhammad Lukman saat bekerja di COREMAP CTI

“Kita kehilangan salah satu putra terbaik perintis kelautan Indonesia,” sebut Amiruddin, alumni Kelauutan Undip, pilar ISKINDO tentang Lukman.

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Ni’matullah Rahim Bone punya kesan mendalam dengan Lukman.

“Sungguh, saya kaget sekali dapat kabar itu. Terakhir saya ketemu di Jakarta tahun lalu.  Dia dengan Adi pernah rintis usaha bandeng presto,” sebut Ni’matullah.

Pada kesempatan itu, Ulla, begitu sapaannya berinteraksi dengan almarhum untuk program pengembangan ekonomi bandeng presto itu. “Sekitar tahun 1996, sebelum dia sekolah ke Australia,” jelas Ulla.

Inna lillahi wa Inna ilaihi rajiun. Saya kenal baik almarhum Dr Lukman ini, mungkin anak Kelautan yang paling dekat dengan saya sejak tahun 90-an. Dia sangat baik dan potensial, semoga husnul khotimah. Aamiin,” pungkas Ulla.

 

Penulis: K. Azis

Related posts