Tiga Hari yang Menentukan: Kisah Dr. Andi Syafril Chaidir Syam Menghadapi Pilkada Maros 2024

  • Whatsapp
Selamat kepada Dr Andi Syafril Chaidir Syam (dok: Pelakita.ID)

Setelah bertemu Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye, penulis meninggalkan Pattallassang Takalar dengan gegas. Rencana santap coto urung. Mesti segera ke Tamalanrea mengikuti Ujian Promosi Doktor Bupati Maros, sahabat kita semua Andi Syafril Chaidir Syam.

Karena sudah banyak berita mainstream terkait ujian promosi Doktor itu, penulis memilih angle lain.

____

PELAKITA.ID – Bagi Dr. Andi Syafril Chaidir Syam, pengalaman menghadapi Pilkada Maros 2024 justru lebih mirip sebuah perjalanan spiritual yang dipenuhi kejutan, kebersamaan, kepanikan kecil, tawa getir, dan keyakinan bahwa dalam politik—seperti dalam hidup—ada ruang besar bagi takdir untuk bekerja.

Semuanya bermula dari sebuah situasi yang nyaris tak pernah dibahas secara detail dalam aturan. Ketika pasangan calon yang sudah berjalan harus menghadapi kenyataan pahit: hasil tes kesehatan menyatakan salah satu bakal calon tidak memenuhi syarat.

Aturan KPU memang ada, tetapi tidak cukup rinci untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan ketika kondisi genting seperti itu terjadi. Yang tersisa hanyalah waktu—dan itu pun sangat terbatas.

Waktu yang Diperas: Tiga Hari yang Sebenarnya Dua

Secara formal, waktu yang diberikan hanya tiga hari. Namun dalam praktiknya, waktu efektif yang dimiliki Dr. Andi Syafril Chaidir Syam—yang saat itu berpasangan dengan Muktasim—hanya dua hari.

Ketukan palu KPU jatuh pada hari Sabtu pagi. Artinya, Sabtu dan Minggu yang notabene hari libur ikut “memakan” waktu pencarian solusi.

Di tengah kondisi itulah, komunikasi politik dilakukan nyaris tanpa jeda. Telepon berdering ke sana kemari. Konsultasi dengan pimpinan partai dilakukan secepat mungkin. Bertemu Sekjen PAN, Edi Suparno, menghubungi Ketua KPU, hingga memastikan satu hal paling krusial: apakah secara aturan masih memungkinkan untuk mengusung pasangan baru.

Jawabannya: mungkin—asal cepat dan lengkap.

Sebagai partai dengan 12 kursi, PAN sebenarnya sudah melampaui ambang batas pencalonan.

Maka keputusan paling rasional kala itu adalah “bismillah”, maju dengan pasangan dari internal partai saja. Tidak ada waktu untuk romantisme politik. Yang ada hanyalah kebutuhan untuk bertahan agar Pilkada tidak batal.

Namun, dinamika belum berhenti. KPU kemudian menyampaikan bahwa sistem SILON mengharuskan dukungan partai diunggah ulang, lengkap dengan formulir BW1-KWK dari seluruh partai pengusung.

Artinya, semua partai di DPRD Maros harus kembali menyatakan dukungan secara formal. Satu saja yang tidak, Pilkada bisa batal.

Di sinilah sisi paling manusiawi dari politik muncul. Dr. Andi Syafril Chaidir Syam bahkan sempat menelepon KPU dan berkata dengan nada setengah bercanda, setengah serius: “Kalau satu partai saja tidak mengusung, Pilkada Maros bisa bubar.”

Di tengah kepanikan itu, nama-nama calon wakil bermunculan. Totalnya sekitar 25 nama: tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama—bahkan, katanya sambil tertawa, ada juga yang bukan tokoh apa-apa tapi ikut disebut.

Ada momen lucu sekaligus reflektif ketika Dr. Andi Syafril Chaidir Syam sempat berpikir, “Siapa tahu Allah mentakdirkan saya kembali berpasangan dengan perempuan.”

Ia pun menelepon dr. Samsinat, Direktur RS Salewang. Tanpa banyak basa-basi, ia menyampaikan satu kalimat yang sangat politik sekaligus sangat manusia: “Saya istikharah dulu. Satu jam ke depan saya butuh jawabannya.”

Ada pula calon lain yang sudah menyatakan bersedia, bahkan BW1-KWK sudah tersebar ke sembilan partai. Namun tiba-tiba mundur.

Alasannya? Takut. Bukan takut kalah, tapi takut istrinya.

Jika sang suami maju sebagai calon, istrinya harus berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai bank. Sebuah alasan yang sederhana, jujur, dan justru mengundang senyum pahit di tengah ketegangan.

Bukan Uang, tapi Menyatukan

Di tengah hiruk-pikuk itu, ada juga godaan klasik politik: uang. Ada yang menawarkan biaya politik hingga puluhan miliar rupiah. Namun dengan tegas, Dr. Andi Syafril Chaidir Syam menolak. Baginya, bukan uang yang dibutuhkan, melainkan figur yang mampu menyatukan sembilan partai dalam satu keyakinan.

“Dan entah bagaimana caranya, satu per satu BW1-KWK akhirnya masuk. Ada yang pukul 09.00 malam. Ada yang hampir tengah malam. Semua datang dengan cerita masing-masing, dengan syarat masing-masing, dan dengan dinamika yang tak tercatat dalam berita resmi KPU,” ucap Chaidir.

Dinamika belum berhenti di situ. Muncul fenomena flying voter yang memaksa strategi kampanye dirombak total. Dari rencana awal 14 titik kampanye, tim harus memecah diri menjadi 512 titik, dengan 216 titik wajib dikunjungi untuk meyakinkan pemilih.

Sebuah kerja politik yang melelahkan, tetapi juga memperlihatkan betapa demokrasi lokal hidup bukan di ruang rapat, melainkan di lorong-lorong desa, halaman rumah warga, dan pertemuan-pertemuan kecil yang tak pernah masuk laporan resmi.

Pelajaran dari Maros

Di akhir kisahnya, Dr. Andi Syafril Chaidir Syam menyampaikan satu harapan sederhana: semoga ke depan Pilkada Maros tidak lagi diwarnai kolom kosong.

“Semoga demokrasi memberi lebih banyak pilihan, lebih banyak calon, dan lebih banyak ruang bagi rakyat untuk menentukan masa depan mereka,: ucap Chaidir Syam.

Pilkada Maros 2024, bagi Dr. Andi Syafril Chaidir Syam, bukan sekadar kontestasi politik. Ia adalah pelajaran tentang waktu, kepercayaan, keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, dan tentang bagaimana Tuhan kadang bekerja lewat telepon yang tiba-tiba berdering di saat paling genting.

Dan mungkin, di situlah sisi paling jujur dari politik: bukan hanya soal menang atau kalah, tapi tentang bertahan, belajar, dan tetap tertawa di tengah turbulensi.

___
Cafe Tengah Kota Pettarani