Kelas Jurnalisme Warga Pelakita.ID | Ikhtiar Pewarta Warga Menjadi Bagian dari Perubahan Sosial dan Lingkungan

  • Whatsapp
Dekan FKM Unhas, Sukri Palutturi bersama para peserta Lokalatih dan narasumber (dok: Pelakita.ID)

Kelas Jurnalisme Warga yang digelar ini ditujukan agar peserta bisa mengungkap fakta dan ikut menggeledah makna, pesan dan motif orang atau sebuah peristiwa, sosial dan lingkungan.

PELAKITA.ID – Di tengah banjir informasi, hoaks, dan janji-janji kosong yang kerap disebut sebagai omon-omon, jurnalisme warga menemukan kembali relevansinya karena hadir untuk membuktikan peristiwa dan menggairahkan hasrat untuk berubah lebih baik.

Ia hadir bukan sekadar sebagai pelengkap media arus utama, melainkan sebagai penyangga akal sehat publik—menawarkan narasi yang berpijak pada pengalaman nyata, fakta lapangan, dan keberpihakan pada kepentingan bersama.

Dalam konteks inilah Pelakita.ID menggelar kegiatan Jurnalisme Warga sebagai ruang belajar, berbagi, dan memperkuat kesadaran kritis masyarakat.

Mustamin Raga saat menjelaskan fenomena dan tantangan VUCA (dok: Pelakita.ID)

“Jurnalisme warga tidak ditujukan untuk memproduksi sensasi, tetapi untuk menangkal omon-omon—retorika tanpa bukti, klaim tanpa data, dan narasi yang menjauhkan publik dari realitas sesungguhnya,” sebut founder Pelakita.ID, Kamaruddin Azis.

Dikatakan, kegiatan ini terlaksana berkat dukungan luas dari berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap literasi publik, demokrasi informasi, dan penguatan suara warga.

“Atas nama Pelakita.ID, disampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, Ketua DPP Garuda Astacita Nusantara, Dr (c) Muhammad Burhanuddin Direktur Eksekutif PP IKA Unhas Salahuddin Alam Dettito, Herwin Niniala alumni Ilmu Komunikasi Unhas, Rustan Rewa selaku Asisten III Ekonomi dan Pembangunan Pemda Tolitoli, Ketua IKA Unhas Gowa Irwansyah Sukarana, hingga Muhammad Syakir dari Jaringan Restorasi Karang Indonesia,” terang pria yang akrab disapa Denun itu.

Dikatakan, dukungan material dan moral dari berbagai pihak tersebut menjadi penguat sekaligus kunci sukses pelaksanaan kegiatan.

“Lebih dari sekadar bantuan teknis, dukungan ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa jurnalisme warga adalah bagian penting dari ekosistem demokrasi,” sebutnya.

Rusdin Tompo, kiri, bersama Dekan FKM Unhas Sukri Palutturi dan Muliadi Saleh yang juga hadir sebagai narasumber (dok: Pelakita.ID)

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pimpinan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa, khususnya Mustamin Raga, Sekretaris Dinas sekaligus alumni Fakultas Sastra Unhas angkatan 1988, yang dengan lapang dada mewakafkan waktu dan ruang Aula Perpustakaan Daerah Gowa sebagai lokasi kegiatan.

Tanpa biaya—gratis, tis, tis, tis—perpustakaan kembali ditegaskan sebagai rumah pengetahuan dan ruang publik yang hidup.

Pelakita.ID juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber supersenior Rusdin Tompo, Koordinator Satu Pena Sulawesi Selatan, kontributor Pelakita.ID, sekaligus alumni Fakultas Hukum Unhas 1987.

Dengan pengalaman panjang di dunia kepenulisan dan jurnalisme, Rusdin Tompo menegaskan bahwa jurnalisme warga harus berpijak pada etika, kejujuran, dan keberanian menguji klaim-klaim yang beredar di ruang publik.

Dekan FKM Unhas, Prof Sukri Palutturi saat menjadi ‘guest speaker’ pada Lokalatih Jurnalisme Warga, Kiat Menjadi Pewarta Warga, Menjadi Bagian dari Perubahan Sosial dan Lingkungan (dok: Pelakita.ID)

Penghargaan setinggi-tingginya juga disampaikan kepada almukarram Muliadi Saleh, penulis esai dan sufisme, jebolan IMMIM Tamalanrea serta alumni Fakultas Pertanian Unhas 1988. Pemikiran dan keteladanannya tentang menulis sebagai sikap moral—bukan sekadar keterampilan teknis—menjadi ruh penting dalam kegiatan ini. Menulis, sebagaimana ia ajarkan, adalah keberpihakan pada nilai dan kebenaran.

Terima kasih pula kepada seluruh peserta yang hadir dengan kesadaran dan kerelaan sendiri. Kehadiran mereka menegaskan bahwa jurnalisme warga tumbuh dari partisipasi sukarela, bukan mobilisasi semata.

“Secara khusus, apresiasi diberikan kepada mahasiswa KKN Tematik di Perpustakaan Daerah Gowa yang dengan sigap menjadi panitia dadakan, serta mahasiswa FKM Unhas yang siap menjadi bagian dari agenda jurnalisme warga Pelakita.ID,” sebut Denun.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung lancar, penuh dialog, dan sarat refleksi. Dari ruang perpustakaan, para peserta diajak memahami bahwa jurnalisme warga bukan alat propaganda, bukan pula corong kepentingan sempit.

Muliadi Saleh (kanan)

Ia adalah kerja sunyi namun penting: memeriksa fakta, menguji janji, dan menyuarakan realitas warga yang kerap luput dari sorotan.

Di era ketika omon-omon mudah diproduksi dan cepat menyebar, jurnalisme warga menjadi salah satu benteng terakhir nalar publik.

Kelas Jurnalisme Warga yang digelar ini ditujukan agar peserta bisa mengungkap fakta dan ikut menggeledah makna, pesan dan motif orang atau sebuah peristiwa, sosial dan lingkungan.” jelas Denun.

“Melalui tulisan yang jujur, berpihak, dan berbasis pengalaman, warga dapat kembali merebut ruang informasi—bukan untuk gaduh, tetapi untuk memastikan bahwa kebenaran tetap memiliki tempat dalam percakapan bersama,” kunci Kamaruddin, alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas, angkatan 89 yang bertindak sebagai fasilitator proses.

Simak proses dan cerita selengkapnya dari kegiatan ini, karena jurnalisme warga bukan hanya tentang menulis, melainkan tentang menjaga akal sehat publik.

___
Penulis Kamaruddin Azis