Keping Domino dan Demokrasi Persahabatan

  • Whatsapp
Penulis bersama Ketua Umum PP IKA Unhas, Andi Amran Sulaiman (dok: Istimewa)

“Saat Menteri, Rektor, dan Alumni Bersila di Atas Karpet”

Muliadi Saleh, esais reflektif | Pengurus IKA Sosek Pertanian Unhas

PELAKITA.ID – Malam 2 Januari 2026, setelah rapat koordinasi siang hari menuntaskan berbagai agenda penting, suasana perlahan berubah. Formalitas ditanggalkan. Jas, gelar, dan jarak sosial tak lagi relevan.

Ikatan Alumni (IKA) memilih cara yang lebih manusiawi untuk menutup hari: ramah tamah, makan malam, dan permainan domino—permainan lama yang selalu tahu cara mempertemukan orang.

Yang menarik, domino malam itu tidak dimainkan di atas meja. Tak ada kursi empuk atau podium kehormatan. Karpet digelar di lantai. Semua duduk lesehan, sejajar, bersila. Keping-keping domino berpindah tangan di ruang yang sama, di ketinggian yang sama.

Barangkali di situlah maknanya: ketika persahabatan dirawat, semua orang mesti bersedia turun ke lantai yang sama.

Di salah satu sudut, Prof. Ruslin WR tampak serius memainkan kartu dominonya. Di sudut lain, seorang perempuan berjilbab terlihat cekatan menyusun strategi permainan. Ia adalah Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum., Pelaksana Harian Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), yang juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Rektor III Universitas Hasanuddin.

Malam itu, gelar dan tanggung jawab besar hadir tanpa jarak—berbaur dalam tawa, strategi, dan kehangatan permainan.

Di sisi ruang yang lain, suasana tak kalah seru. Prof. Budu—yang juga calon Rektor Unhas—tampak berhadapan dengan Ketua IKA Sulawesi Barat, seorang tokoh birokrasi berpengalaman, mantan Sekretaris Provinsi Sulbar.

Ia adalah Dr. Muhammad Idris, mantan Deputi Bidang Diklat Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI sekaligus mantan Kepala LAN Makassar. Riwayat panjang pengabdian negara malam itu menyatu dalam satu arena sederhana: hamparan karpet dan keping-keping domino.

Inilah potret yang jarang terlihat di ruang-ruang resmi: para rektor, calon rektor, ketua-ketua IKA daerah dan perguruan tinggi, pejabat dan mantan pejabat, hingga mantan aktivis kampus—semuanya duduk bersila, saling menggoda ringan, tertawa, dan sesekali terdiam menghitung langkah.

Domino menjadi medium demokrasi paling jujur. Tak peduli siapa Anda di luar ruangan, di sini yang bicara adalah kecermatan, kesabaran, dan kerja sama.

Suasana kian cair ketika Ketua Umum IKA Unhas, Dr. Andi Amran Sulaiman, MP—yang juga Menteri Pertanian Republik Indonesia—menyumbangkan sebuah lagu. Nyanyian itu mengalir apa adanya; bukan pertunjukan, melainkan luapan kegembiraan.

Para pengurus PP IKA larut dalam suasana, bernyanyi, bertepuk tangan, dan menertawakan masa lalu yang pernah mereka jalani bersama.

Pertandingan berlangsung hingga larut malam. Tidak tergesa-gesa. Tak ada yang ingin cepat selesai. Hingga akhirnya, juara pun lahir, dengan total hadiah domino mencapai 150 juta rupiah. Angka yang tentu menggiurkan.

Namun malam itu, tak seorang pun pulang hanya membawa hadiah. Semua membawa cerita—tentang persahabatan yang tetap hidup, tentang keakraban yang tak lapuk oleh jabatan.

Domino di atas karpet mengajarkan satu pelajaran halus: kepemimpinan yang sehat lahir dari kebersamaan yang tulus. Dari kesediaan duduk bersama, sejajar, dan tertawa tanpa topeng.

Di sanalah jejaring alumni menemukan maknanya yang paling dalam—bukan sekadar struktur organisasi, melainkan ruang perjumpaan manusia.

Malam itu, IKA tidak sedang membangun program. Ia sedang merawat ingatan. Dan di antara keping-keping domino yang berserakan, kita melihat masa depan yang tetap bersahabat—selama persaudaraan dijaga, dan karpet demokrasi selalu siap digelar.