PELAKITA.ID – Dalam setiap bencana besar di Indonesia—banjir, longsor, gempa bumi, hingga cuaca ekstrem—nama Abdul Muhari kerap muncul sebagai wajah resmi yang menyampaikan data, perkembangan lapangan, dan sikap negara.
Ia bukan sekadar juru bicara, melainkan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatin) BNPB, posisi strategis yang menjembatani sains kebencanaan dengan publik.
Keberadaan Abdul Muhari di garda depan komunikasi bencana menandai pergeseran penting: informasi kebencanaan tidak lagi sekadar administratif, tetapi berbasis ilmu pengetahuan dan manajemen risiko.

Fondasi Akademik: Ilmu Tsunami dari Jepang
Abdul Muhari memiliki latar belakang akademik yang kuat. Dia alumni S1 ITB Bandung departemen Teknik Kelautan.
Ia meraih gelar Doktor (Ph.D.) di bidang Tsunami Engineering dari Tohoku University, Jepang, salah satu pusat unggulan dunia dalam riset gempa bumi dan tsunami.
Lingkungan akademik Jepang—yang sangat disiplin, berbasis data, dan berorientasi mitigasi—membentuk pendekatan ilmiahnya dalam memahami bencana sebagai fenomena alam sekaligus sosial.
Pengalaman akademik ini diperkuat dengan keterlibatan langsung dalam studi dan pembelajaran pascatsunami Jepang 2011, sebuah tragedi global yang mengubah cara dunia memandang kesiapsiagaan dan rekonstruksi bencana.
Dari Riset ke Kebijakan Publik
Berbekal latar belakang ilmiah tersebut, Abdul Muhari bergabung dengan BNPB sejak 2019. Di lembaga ini, ia tidak hanya bekerja sebagai teknokrat data, tetapi juga sebagai penerjemah sains ke dalam bahasa kebijakan dan komunikasi publik.
Sebagai Kepala Pusdatin BNPB, tanggung jawabnya mencakup:
-
Pengelolaan dan validasi data kebencanaan nasional
-
Penyampaian informasi resmi korban, dampak, dan respons pemerintah
-
Koordinasi komunikasi antara BNPB, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, media, dan masyarakat
-
Edukasi publik mengenai risiko, kesiapsiagaan, dan mitigasi bencana
Dalam situasi darurat, peran ini sangat krusial. Kesalahan data atau komunikasi yang terlambat dapat memicu kepanikan, ketidakpercayaan publik, bahkan konflik sosial.
Profesionalisme di Tengah Krisis
Abdul Muhari dikenal dengan gaya komunikasi yang tenang, faktual, dan berbasis data. Ia menyampaikan informasi secara terukur—tidak melebih-lebihkan, tetapi juga tidak menutup-nutupi realitas lapangan. Pendekatan ini mencerminkan profesionalisme kebencanaan modern: transparan, akurat, dan bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi di media sosial, kehadirannya menjadi penanda otoritas negara yang kredibel dalam isu kebencanaan.
Menghubungkan Ilmu, Negara, dan Publik
Lebih dari sekadar pejabat, Abdul Muhari merepresentasikan generasi baru pengelola bencana Indonesia: ilmuwan-praktisi yang memahami bahwa bencana bukan hanya soal alam, tetapi juga tentang manusia, tata kelola, dan kepercayaan publik.
Dengan latar belakang akademik internasional dan pengalaman profesional di lembaga nasional, ia memainkan peran penting dalam membangun komunikasi kebencanaan yang ilmiah, manusiawi, dan berorientasi pada keselamatan publik.
Di negara rawan bencana seperti Indonesia, figur seperti Abdul Muhari bukan hanya dibutuhkan saat krisis terjadi, tetapi juga dalam membangun kesadaran jangka panjang bahwa bencana dapat dikelola, jika ilmu dan komunikasi berjalan seiring.
