PELAKITA.ID – Kecamatan Anggana di Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar, termasuk aktivitas tambak udang yang terus berkembang dalam satu dekade terakhir. Seiring dengan meningkatnya produksi udang, jumlah limbah kepala udang juga bertambah signifikan.
Selama ini, limbah tersebut umumnya dibuang atau dijual dengan nilai rendah, padahal kepala udang memiliki kandungan protein tinggi, kalsium, kitin, serta sejumlah mineral yang bernilai bagi industri pakan ikan dan udang. Inilah alasan mengapa rencana pembangunan pabrik pakan berbasis kepala udang di Anggana menjadi peluang strategis dan perlu direncanakan secara sistematis.
Tiga desa di kawasan Delta Mahakam—Desa Tani Baru, Desa Sepatin, dan Desa Muara Pantuan—selama ini menghasilkan limbah kepala udang dalam jumlah besar akibat aktivitas ribuan hektare tambak yang beroperasi di wilayah tersebut.
Kepala udang yang seharusnya dapat diolah menjadi bahan baku bernilai tinggi itu justru dibuang begitu saja, sehingga berpotensi menimbulkan masalah lingkungan sekaligus menghilangkan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Karena itu, diperlukan estimasi kuantitatif untuk mengetahui volume produksi kepala udang yang tidak termanfaatkan di tiga desa tersebut.
Data ini penting sebagai dasar perencanaan pemanfaatan limbah, baik untuk kebutuhan industri pakan maupun produk turunan lainnya. Dengan mengetahui potensi sebenarnya, upaya pengolahan limbah kepala udang dapat diarahkan secara tepat, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Delta Mahakam.

Mengapa Anggana Layak Menjadi Lokasi Industri Pakan?
Anggana berada di wilayah pesisir dengan akses langsung pada sumber bahan baku dari tambak-tambak intensif di Muara Badak, Marangkayu, hingga Samboja.
Selain itu, Anggana memiliki jaringan pelabuhan rakyat, akses jalan yang cukup terbuka, serta dukungan sentra perikanan yang terus berkembang. Ketersediaan bahan baku yang melimpah dan konsisten merupakan salah satu syarat utama industri pakan, dan Anggana memenuhi syarat itu.
Selain itu, Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki visi pengembangan ekonomi biru melalui hilirisasi sektor perikanan. Pabrik pakan dari limbah kepala udang dapat menjadi model ekonomi sirkular yang mampu mengurangi limbah, meningkatkan nilai tambah, dan menciptakan alternatif pakan bagi pembudidaya lokal.
Untuk memastikan pabrik dapat dibangun secara berkelanjutan dan sesuai standar industri, berikut tahapan yang perlu direncanakan:
Studi Kelayakan (Feasibility Study)
Tahap ini mencakup analisis ketersediaan bahan baku, volume produksi kepala udang per hari, jarak sumber pasokan, biaya logistik, serta struktur biaya produksi pakan. Analisis ini juga menilai pasar lokal—berapa banyak kebutuhan pakan untuk tambak udang, ikan bandeng, nila, dan kerapu di sekitar Anggana dan Kukar. Kajian kelayakan finansial (NPV, IRR, Payback Period) harus dilakukan untuk mengetahui tingkat keuntungan.
Konsultasi Perizinan dan Lingkungan
Pabrik pakan wajib memenuhi regulasi terkait pendirian industri, sertifikasi keamanan produk, dan dokumen lingkungan. Penyusunan UKL-UPL atau AMDAL penting untuk memastikan tidak ada dampak negatif dari pengolahan limbah. Pemerintah daerah dapat dilibatkan sejak awal untuk mempercepat proses administrasi.
Desain Pabrik dan Teknologi Produksi
Tahapan ini meliputi pemilihan teknologi pengeringan, penggilingan, dan pengolahan tepung kepala udang. Teknologi yang umum digunakan meliputi drum dryer, spray dryer, mesin penghancur, serta alat ekstruder untuk produksi pakan jadi. Desain pabrik harus mempertimbangkan alur produksi yang efisien, sanitasi, serta tata letak untuk memudahkan pengawasan mutu.
Pembiayaan dan Kemitraan
Pendanaan dapat berasal dari investor swasta, BUMD, skema KPBU, atau koperasi pembudidaya. Kemitraan dengan pemilik tambak sangat penting untuk menjamin pasokan bahan baku. Pabrik juga dapat bekerja sama dengan BUMDes atau kelompok nelayan dalam pengumpulan kepala udang.
Konstruksi dan Pengadaan Mesin
Setelah desain selesai, tahapan konstruksi dilakukan bersamaan dengan pengadaan mesin produksi. Standar mutu produksi pangan hewan harus dipenuhi, termasuk sertifikasi pakan dari kementerian terkait.
Uji Produksi dan Standarisasi Mutu
Pabrik melakukan test run untuk memastikan konsistensi kualitas tepung kepala udang dan pakan yang dihasilkan. Pengujian kadar protein, kelembapan, serat, serta stabilitas pellet dilakukan sebagai prasyarat pemasaran.
Operasional dan Distribusi
Setelah uji produksi sukses, pabrik mulai beroperasi penuh dan memasarkan produknya di Anggana, Kukar, Bontang, Samarinda, hingga ke pembudidaya besar di pesisir Kalimantan Timur.
Manfaat Ekonomi Jika Produksi Kepala Udang Melimpah
Jika pasokan kepala udang konsisten dan melimpah, pabrik pakan di Anggana dapat memberikan berbagai manfaat ekonomi jangka panjang, baik bagi masyarakat maupun pemerintah daerah.
Menciptakan Nilai Tambah dari Limbah
Kepala udang yang sebelumnya hanya menjadi limbah dapat diolah menjadi tepung berkualitas tinggi. Nilai ekonominya dapat naik berkali-kali lipat, dari harga limbah basah Rp1.000–2.000/kg menjadi tepung kepala udang yang bernilai Rp8.000–12.000/kg atau bahkan lebih tergantung kualitas.
Menekan Biaya Pakan Pembudidaya Lokal
Pakan adalah komponen biaya terbesar dalam budidaya udang dan ikan, mencapai 60–70% dari biaya produksi. Pabrik lokal akan menurunkan biaya logistik dan membuka peluang harga pakan yang lebih kompetitif, sehingga meningkatkan margin keuntungan pembudidaya.
Menyerap Tenaga Kerja Lokal
Industri pakan membutuhkan tenaga kerja mulai dari pengumpul bahan baku, operator mesin, supervisor produksi, teknisi laboratorium, hingga staf distribusi. Ini memberi peluang kerja bagi warga Anggana dan kecamatan sekitarnya.
Mendorong Hilirisasi dan Ekonomi Sirkular
Mengolah kepala udang menjadi pakan merupakan bentuk ekonomi sirkular yang mengurangi limbah tambak, meningkatkan efisiensi, serta menjaga kualitas lingkungan. Industri ini juga mendukung visi green economy yang banyak didorong pemerintah.
Potensi Ekspor Tepung Udang dan Pakan
Jika standar produk terpenuhi, tepung kepala udang—kaya protein dan kitin—memiliki pasar untuk ekspor ke industri pakan di Asia Tenggara dan Tiongkok. Hal ini dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah.
Penutup
Pembangunan pabrik pakan berbasis kepala udang di Kecamatan Anggana merupakan peluang strategis yang dapat mengakselerasi ekonomi lokal, memperkuat sektor budidaya, dan mendorong hilirisasi perikanan di Kutai Kartanegara.
Dengan perencanaan yang matang mulai dari studi kelayakan hingga uji produksi, Anggana dapat menjadi pusat industri pakan alternatif di Kalimantan Timur. Jika dikelola dengan baik, limbah kepala udang bukan lagi masalah—melainkan sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Editor Denun
