Dari Konsolidasi Kelompok hingga Strategi Pengembangan Gula Aren Balambano
Fasilitator terdiri dari anggota Tim The COMMIT Foundation dan BSK Konsultan
Balambano, Ahad 16 November 2025
PELAKITA.ID – SUASANA hangat dan penuh semangat menyelimuti ruang pertemuan kelompok UMKM Kalimbuang di Desa Balambano saat para peserta memulai kegiatan pelatihan penguatan kapasitas yang difasilitasi oleh tim PPM SDGs, The COMMIT Foundation, dan pendamping UMKM Bina Swadaya Konsultan.
Pelatihan ini menurut Fasilitator SDGs Desa Balambano, Yahyuddin menjadi langkah awal untuk memperkuat kelembagaan kelompok, menyusun strategi usaha, dan merumuskan arah pengembangan produk unggulan desa—gula aren.
Kegiatan dibuka dengan sesi perkenalan, memberi kesempatan bagi peserta untuk saling mengenal dan membangun suasana kolaboratif.
Peserta yang hadir adalah Rahman Talib, petani lada yang menjadi salah satu motor penggerak kelompok, memperkenalkan dirinya dengan penuh keramahan. Disusul oleh Andini, sang bendahara yang kesehariannya mengurus rumah tangga, serta Sinta, sekretaris kelompok.
Ketua kelompok, Habir Wakka—yang juga menjabat Kepala Dusun—menjelaskan perannya sehari-hari sebagai petani sekaligus koordinator kerja kelompok. Hadir pula Nur Rahmat, Ketua BPD, yang secara terbuka menyampaikan bahwa ia hadir sebagai pemantau untuk memastikan kegiatan kelompok berjalan sesuai arah pembinaan.

Lalu ada Jamaludin, anggota kelompok dengan kesibukan ganda sebagai karyawan dan pekebun, melengkapi daftar peserta lokal. Hadri pula Vira, anggota kelompok.
Yahyuddin menandu proses perkenalan, memberikan gambaran kuat tentang komitmen berbagai lembaga dalam mendukung kelompok ini.
Perwakilan The COMMIT Foundation Jumardi Lanta menjelaskan mandat pendampingan yang diembannya, sementara Asnil Site Manager BSK—pendamping senior yang pernah bekerja bersama BRR di Aceh dan Nias—mengungkapkan pengalamannya yang panjang dalam pemberdayaan masyarakat.
Yusuf Sudrajat sebagai pendamping UMKM Wasuponda, turut memperkenalkan diri dan peran mereka dalam pengembangan usaha, pemasaran, dan legalitas kelompok.
Pelatihan ini, kata Jumardi Lanta, bertujuan membangun pemahaman pengurus, meningkatkan kemampuan administrasi dan pelaporan, serta memperkuat strategi pemasaran.
“Kelompok tidak boleh hanya aktif dua atau tiga bulan, lalu berhenti. Kita akan dampingi terus agar lembaga ini berjalan berkelanjutan,” ujarnya.
Pembelajaran Orang Dewasa sebagai Pendekatan Pelatihan
Jumardi menyampaikan bahwa pelatihan ini menggunakan pendekatan “pembelajaran orang dewasa” yang memosisikan peserta sebagai sumber pengetahuan utama. Mereka diberi ruang untuk berbagi pengalaman, mengungkapkan kebutuhan, dan membangun strategi kelompok secara mandiri.
Salah satu sesi utama mengajak peserta menjawab pertanyaan: Mengapa memilih bergabung dalam kelompok?
Jawaban mereka mencerminkan kesadaran kolektif dan cita-cita besar: meningkatkan nilai ekonomi desa, memperluas wawasan tentang pengolahan gula aren, membangun kebersamaan, dan mengangkat nama gula aren Kalimbuang ke pasar yang lebih luas.
Peserta percaya bahwa kerja kelompok adalah fondasi keberhasilan, diperkuat dengan pembagian peran yang jelas dan hasil yang bisa dirasakan bersama.
Menggali Potensi Gula Aren Balambano
Dalam sesi diskusi inti, fasilitator pelatihan memaparkan potensi besar komoditas gula aren di Balambano.
Selama ini, sebagian besar nira diolah menjadi tuak pahit. Namun kelompok melihat peluang lebih menjanjikan dengan mengolahnya menjadi gula batok, gula cair, atau gula semut.
Menurut penuturan Pak Habir, potensi nira mencapai ±400 liter per hari. Jika dikelola dengan baik dan didukung teknologi tepat guna—misalnya melalui BSK—angka ini dapat menghasilkan produk bernilai tinggi dan berbasis pasar.
“Tujuan besar kita adalah membuat produk gula aren Balambano dikenal bukan hanya di tingkat desa, tapi juga di pasar kabupaten, provinsi, bahkan nasional,” ujar Yahyuddin.
Latihan Struktur Organisasi dan Penguatan Lima Pilar Kelompok
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan simulasi penyusunan struktur organisasi menggunakan potongan kertas berisi berbagai elemen organisasi yang dipandu oleh Tim Fasilitator BSK. Dari latihan ini, peserta semakin memahami pembagian peran, SOP, dan mekanisme kerja kelompok.
Ignatius Padmo dari BSK menjelaskan lima elemen utama pendampingan yaitu Organisasi – penyusunan SOP, struktur, notulen, daftar hadir, dan arsip dokumen, aspek administrasi – pencatatan kelembagaan dan keuangan yang rapi dan transparan. Usaha – pengaturan produksi, manajemen bahan baku, dan peningkatan kualitas produk dan pemasaran – strategi branding, ikut pameran, dan kesiapan menghadapi pasar UMKM serta permodalan – pengelolaan modal internal dan penguatan akses ke sumber pembiayaan eksternal.
Dicontohkan bagaimana harga nira per liter Rp5.000 yang harus dicatat detail setiap transaksi, dan peluang uji pasar melalui event seperti jalan sehat.
Menutup Hari dengan Optimisme
Kegiatan ditutup dengan kesimpulan bahwa di Desa Balambano potensi gula aren di sini luar biasa. Nira melimpah, lahan luas, dan semangat masyarakat kuat. Tantangannya adalah bagaimana mengubah nira yang selama ini banyak jadi tuak pahit menjadi produk bernilai tinggi. Itulah yang sedang kita bangun bersama.
”Pelatihan hari itu bukan sekadar sesi belajar, tetapi momentum kebangkitan kelompok UMKM Kalimbuang. Dengan kapasitas yang terus diperkuat, dukungan multipihak, dan potensi bahan baku yang melimpah, Desa Balambano berada di jalur yang tepat untuk menjadikan gula aren sebagai ikon baru yang membawa manfaat ekonomi bagi masyarakatnya,” kata Kamaruddin Azis dari the COMMIT Foundation yang memotivasi kelompok untuk bisa seperti kinerja Lahadeng Corner asal Malili yang eksis sebagai salah satu unit usaha UMKM berbasis keripik pisang.
”Kami siap membantu mempromosikan produk UMKM Kalimbuang, yang penting berkelanjutan,” ucapnya.
