Dr Ahmad Najid, aktivis Kelautan dari asa Bawean, Putra Asli Bawean, Madura, menyebut Kasal Laksamana (Purn) Marsetio pernah salat Jumat di Masjid Bawean, sosok yang disebutnya sebagai salah satuyang punya perhatian terhadap Bawean, terhadap keluarga Harun.
PELAKITA.ID – Laut Indonesia bukan hanya ruang ekonomi dan jalur strategis, tetapi juga medan pengabdian prajurit TNI Angkatan Laut.
Di antara armada yang berlayar menjaga kedaulatan, nama KRI Usman-Harun (359) menonjol, bukan hanya karena kecanggihan teknologi, tetapi juga karena kisah sejarah yang melekat di baliknya.
KRI Usman-Harun adalah kapal fregat kelas Bung Tomo yang sebelumnya merupakan kapal Angkatan Laut Inggris bernama HMS Courageous.
Indonesia kemudian membeli kapal ini bersama dua kapal sekelas lainnya, untuk memperkuat jajaran TNI AL dengan armada berteknologi modern. Sejak resmi bergabung pada tahun 2014, KRI Usman-Harun ditempatkan di bawah komando Koarmada I.
Persenjataan dan Kapabilitas
Sebagai fregat modern, KRI Usman-Harun dilengkapi dengan persenjataan yang mumpuni: rudal anti-kapal, torpedo, meriam otomatis, hingga sistem pertahanan udara.
Kapal ini dirancang untuk berbagai misi, mulai dari pengawalan laut, operasi tempur, hingga tugas diplomasi maritim.
Kehadiran KRI Usman-Harun memperkuat kemampuan Indonesia menjaga wilayah perairannya yang luas sekaligus jalur perdagangan internasional yang ramai dilalui kapal dunia.
Usman-Harun, dua nama yang Menyimpan Kisah Heroik
Pemberian nama “Usman-Harun” bukan sekadar formalitas. Nama ini diambil dari dua prajurit Korps Komando Operasi (KKO) TNI AL,
Usman Janatin dan Harun Tohir, yang gugur sebagai pahlawan dalam peristiwa konfrontasi Indonesia–Malaysia pada 1960-an.
Aksi mereka di Singapura berujung pada eksekusi hukuman mati tahun 1968, namun di Indonesia keduanya dikenang sebagai pejuang yang menjalankan tugas negara.
Dr Ahmad Najid, aktivis Kelautan asal Bawean, Putra Asli Bawean, Madura bercerita nama KRI Usman-Harun, di mana salah satunya Harun Tohir berasal dari Bawean, pulau yang pernah didatangi Kasal Laksamana (Purn) Marsetio.
“Beliau pernah salat Jumat di Masjid Bawean, salah satu sosok nasional yang punya perhatian,” ucapnya.
“Bahkan beliau sampai tiga kali ke Bawean, dan datang ke rumah keluarga Harun Tohir,” tambahnya.
Marsetio (lahir 3 Desember 1956) adalah mantan Kepala Staf Angkatan Laut Republik Indonesia. Ia menjabat mulai 17 Desember 2012, setelah dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga masa tugasnya berakhir pada 31 Desember 2014.

Kontroversi Diplomatik
Nama kapal ini sempat menjadi sorotan internasional. Singapura menyampaikan keberatan karena memandang Usman dan Harun sebagai pelaku pengeboman, sementara Indonesia menegaskan bahwa mereka adalah pahlawan bangsa.
Perbedaan sudut pandang itu sempat menimbulkan ketegangan diplomatik, tetapi pada akhirnya, KRI Usman-Harun tetap berlayar dengan nama penuh kehormatan tersebut.
Penjaga Laut Nusantara
Kini, KRI Usman-Harun tidak hanya menjadi alat utama sistem senjata, tetapi juga simbol ingatan kolektif bangsa terhadap pengorbanan prajuritnya.
Setiap kali kapal ini berlayar di lautan Nusantara, ia membawa pesan ganda: menjaga kedaulatan maritim Indonesia sekaligus mengingatkan generasi baru tentang arti keberanian dan pengabdian.
___
Foto ini menampilkan sosok gagah KRI Usman-Harun (359), sebuah fregat multi-peran yang kini memperkuat Armada I TNI AL. Kapal ini dibangun oleh BAE Systems Marine di Glasgow, Skotlandia pada awal 2000-an dengan rancangan modern kelas Bung Tomo.
Awalnya, kapal ini dipesan oleh Brunei Darussalam dengan nama KDB Bendahara Sakam, namun batal dioperasikan dan akhirnya diakuisisi oleh Indonesia pada 2013. Setahun kemudian, tepatnya 2014, kapal ini resmi masuk dalam jajaran armada TNI AL dan menjadi bagian penting dari kekuatan maritim nasional.
Sebagai fregat, KRI Usman-Harun dilengkapi persenjataan yang cukup lengkap, mulai dari rudal Exocet, rudal Seawolf, meriam OTO Melara 76 mm, torpedo, hingga stasiun senjata 30 mm. Kapal ini juga memiliki ruang pendaratan helikopter yang memperluas jangkauan operasinya.
Penamaannya sendiri memunculkan kontroversi karena diambil dari dua anggota KKO, Usman Janatin dan Harun Tohir, yang dihukum mati di Singapura pada 1968 atas peristiwa pengeboman.
Meski sempat menimbulkan ketegangan diplomatik dengan Singapura, di Indonesia keduanya tetap dihormati sebagai pahlawan nasional—sehingga kapal ini bukan hanya simbol kekuatan militer, tetapi juga sarat makna sejarah dan patriotisme.
(KAS)
