Dengan arkeologi dan genealogi, kita diajak untuk menggali norma-norma yang tampak “alami” dan mempertanyakan otoritas yang membentuknya.
PELAKITA.ID – Michel Foucault (1926–1984) adalah seorang filsuf Prancis yang dikenal karena keberaniannya menggugat cara kita memahami hubungan antara kekuasaan, pengetahuan, dan wacana.
Bagi Foucault, wacana tidak sekadar kumpulan kata atau sarana komunikasi, melainkan sebuah kekuatan yang membentuk realitas sosial, menata cara kita berpikir, dan bahkan membangun identitas diri manusia.
Melalui pendekatannya, Foucault mengajarkan bahwa bahasa bukan hanya cermin yang memantulkan kenyataan, tetapi juga pisau yang mengukirnya. Artikel ini mengulas gagasan utama dalam analisis wacana Foucault, bagaimana wacana bekerja membentuk kekuasaan, serta relevansinya dalam memahami dinamika masyarakat kontemporer.
Konsep Dasar dalam Analisis Wacana Foucault
Foucault melihat wacana sebagai sesuatu yang melampaui sekadar percakapan atau tulisan. Ia adalah sistem yang mengatur cara manusia berpikir, berbicara, dan bertindak. Beberapa konsep penting yang ia tawarkan antara lain:
-
Wacana sebagai pembentuk realitas. Wacana tidak hanya mencerminkan kenyataan, tetapi juga ikut menciptakan, menertibkan, dan menormalkannya. Apa yang kita anggap “benar” atau “normal” lahir dari permainan wacana.
-
Arkeologi pengetahuan. Dalam karyanya The Archaeology of Knowledge (1969), Foucault memperkenalkan metode untuk menggali aturan-aturan tersembunyi yang melahirkan wacana pada suatu masa.
-
Genealogi kekuasaan. Dalam karya lanjutannya seperti Discipline and Punish (1975) dan The History of Sexuality (1976), ia menelusuri bagaimana kekuasaan hadir dan bekerja melalui praktik sosial sehari-hari, lembaga, dan norma.
-
Kekuasaan-pengetahuan. Menurut Foucault, keduanya tidak bisa dipisahkan: kekuasaan melahirkan pengetahuan, sementara pengetahuan menopang kekuasaan. Institusi medis atau hukum misalnya, berperan menetapkan standar tentang sehat-sakit, waras-gila, benar-salah.
-
Subjektivitas. Identitas individu tidak pernah netral atau alami. Ia dibentuk melalui wacana dan praktik sosial yang mengelilinginya, termasuk bagaimana kita memahami diri sendiri.
Wacana sebagai Jaringan Kekuasaan
Salah satu kontribusi terbesar Foucault adalah pandangannya bahwa kekuasaan tidak dimonopoli oleh penguasa atau institusi tertentu, tetapi beredar di seluruh jaringan sosial. Kekuasaan tidak selalu represif—ia juga produktif, karena melahirkan kategori, norma, dan identitas baru.
Kita bisa melihat hal ini dalam berbagai ranah:
-
Medis. Dalam The Birth of the Clinic (1963), Foucault mengungkap bagaimana praktik medis tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga mengatur tubuh dan kesehatan.
-
Pendidikan. Sekolah bukan hanya ruang belajar, melainkan arena di mana otoritas menentukan siapa yang berhak bicara dan apa yang disebut “kebenaran.”
-
Hukum dan kriminalitas. Dari hukuman mati di alun-alun, sistem penal bergeser menjadi pengawasan yang halus melalui penjara, sekolah, hingga rumah sakit jiwa.
-
Gender dan seksualitas. Seksualitas manusia, kata Foucault, tidak pernah lepas dari konstruksi wacana medis, hukum, dan agama.
Bagaimana Menganalisis Wacana ala Foucault?
Analisis wacana foucauldian tidak berhenti pada teks, tetapi juga menelisik praktik sosial yang melahirkannya. Beberapa langkah penting di antaranya:
-
Mengidentifikasi wacana dominan yang membentuk cara berpikir masyarakat.
-
Menelusuri perubahan sejarah melalui “arkeologi” wacana.
-
Membaca jaringan kekuasaan: siapa yang berhak menentukan kebenaran, dan dengan cara apa.
-
Menyelidiki dampaknya terhadap subjektivitas: bagaimana wacana membentuk identitas dan perilaku individu.
Relevansi di Dunia Kontemporer
Gagasan Foucault kini banyak dipakai dalam riset sosial:
-
Media: bagaimana media membentuk opini publik tentang politik dan isu sosial.
-
Kesehatan: bagaimana wacana tentang kesehatan mental memengaruhi pemahaman individu terhadap dirinya.
-
Politik: bagaimana negara menggunakan narasi keamanan nasional untuk membenarkan tindakan tertentu.
Kritik terhadap Foucault
Meski berpengaruh luas, pendekatan Foucault tidak luput dari kritik. Ia dianggap terlalu menekankan struktur hingga mengabaikan peran individu, konsep kekuasaannya dinilai terlalu luas dan sulit diukur, serta kurang memberi ruang pada dimensi ekonomi yang lebih menonjol dalam teori Marxis.
Analisis wacana ala Foucault membuka cara pandang baru tentang bagaimana bahasa, pengetahuan, dan kekuasaan saling menjalin dalam menciptakan realitas sosial.
Dengan arkeologi dan genealogi, kita diajak untuk menggali norma-norma yang tampak “alami” dan mempertanyakan otoritas yang membentuknya.
Meski tidak sempurna, warisan intelektual Foucault tetap menjadi kompas kritis yang membantu kita membaca dunia dengan lebih tajam—menggugat narasi dominan, dan mencari kemungkinan cara lain untuk memahami kehidupan sosial.
Dari berbagai sumber
