- Saat ini ada 29 dari 38 provinsi di Indonesia yang telah mengembangkan budidaya rumput laut, baik dalam skala kecil, menengah, maupun besar.
- Sayangnya RL belum diintegrasikan secara optimal dalam strategi ketahanan pangan nasional (misal: cadangan pangan pemerintah, program bansos, atau makan bergizi gratis).
- Budaya makan masyarakat Indonesia belum terbiasa menyertakan rumput laut sebagai bagian dari makanan pokok harian, berbeda dengan negara seperti Jepang atau Korea.
Laode M. Aslan
Peneliti rumput laut dan dosen Jurusan Budidaya Perairan, Universitas Halu Oleo Kendari.
PELAKITA.ID – Ketika Belanda memperkenalkan strategi Total Football (TF) pada era 1970-1980-an, dunia sepak bola terpesona. Setiap pemain bisa berperan di posisi mana pun, bekerja kolektif, fleksibel, dan saling menopang demi satu tujuan: kemenangan tim.
Kemarin malam 29 Juli 2025 Timnas U-23 kalah vs Timnas U-23 Vietnam di piala AFF menggunakan strategi TF yang dilatih oleh pelatih Belanda, namun kekalahan Timnas U-23 Indonesia mungkin masih bisa difahami karena timas masih dalam tahap transisi atau adaptasi TF.
Para pemain belum sepenuhnya paham kapan harus melakukan pressing, rotasi posisi, dan kapan menjaga strategi permainan ala TF.
Lantas apa perlunya kita menggunakan pendekatan Total Football ini dalam mendorong suatu komoditas menjadi idola dan prime mover ketahanan pangan nasional?
Karena pendekatan TF ini menekankan kolaborasi lintas sektor, fleksibilitas peran, dan respons cepat terhadap dinamika lapangan.
Strategi TF menguntungkan beragam aspek dalam pengembangan suatu komoditas yang akan dimassalkan.
Pertama, Mengatasi Ketergantungan pada komoditas tertentu saja.
Selama ini, pengembangan rumput laut (RL) cenderung dibebankan pada sektor perikanan atau kelautan semata.
Padahal, untuk mengubah rumput laut menjadi komoditas pangan utama nasional, dibutuhkan peran aktif dari sektor pertanian (diversifikasi pangan), industri (pengolahan), perdagangan (distribusi dan ekspor), pendidikan (edukasi gizi), dan bahkan kementerian sosial (program bantuan pangan).
Nah, gaya Total Football memastikan semua pemain bergerak dan berkontribusi, tidak terpaku pada satu lini saja;
Kedua, Mendorong Fleksibilitas dan Inovasi.
Dalam TF pemain tidak kaku dalam perannya. Bek bisa maju menyerang, gelandang bisa bertahan.
Begitu juga dalam pengembangan RL. akademisi bisa menjadi inovator produk, petani bisa menjadi pengolah RL, pengusaha kuliner bisa menjadi pendidik gizi melalui produknya.
Sehingga model TF ini membuka ruang bagi inovasi lintas fungsi dan pembagian peran yang dinamis, sesuai kebutuhan;
Ketiga, Menjawab Tantangan Global yang Cepat Berubah.
Krisis pangan, perubahan iklim, dan persaingan global membutuhkan respons cepat.
Gaya TF mengandalkan koordinasi tinggi dan adaptasi cepat terhadap situasi lapangan, seperti fluktuasi harga ekspor, permintaan pasar domestik, hngga kerusakan lingkungan (contoh: pencemaran tambang di sentra produksi RL). Sehingga model TF ini cocok untuk mengelola kompleksitas tantangan secara gesit dan terkoordinasi.
Keempat, Menumbuhkan Rasa Kepemilikan Kolektif.
Dengan semua aktor merasa “bagian dari tim nasional ”, maka tumbuh rasa tanggung jawab bersama, bukan hanya program sektoral. Misalnya: Pemerintah daerah tidak sekadar mengatur tata ruang, tapi juga mempromosikan konsumsi komoditas lokal tertentu seperti RL, perguruan tinggi tidak hanya meneliti, tetapi juga mendampingi petani dan UMKM.
Gaya ini tentu akan menumbuhkan etos kerja kolektif, bukan silo, dan;
Kelima, Menggerakkan Simbol dan Narasi Bersama. Pendekatan TF juga tentang visi dan narasi bersama.
Dalam konteks RL, ini berarti menjadikan RL sebagai bagian dari identitas bangsa maritim, dan membangun citra bahwa RL bukan hanya produk ekspor, tapi kebanggaan nasional dan penyelamat pangan masa depan.
***
Mengapa Rumput Laut?
Rumput laut (RL) bukan sekadar sumber agar-agar atau camilan keripik. Ia adalah pangan masa depan: kaya serat, rendah kalori, tinggi mikronutrien, dan mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan.
Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa RL dapat membantu mengontrol gula darah, mencegah obesitas, dan memperbaiki kesehatan usus.
Namun, ironisnya, konsumsi RL di dalam negeri masih sangat rendah, padahal Indonesia adalah produsen utama dunia.
Berbagai studi dan laporan menyebutkan bahwa tingkat konsumsi RL di dalam negeri sangat rendah, bahkan kurang dari 2% dari total produksi nasional yang dikonsumsi secara domestik.
Sisanya—lebih dari 90–95%—diekspor dalam bentuk mentah (raw dried seaweed/RDS), terutama ke Tiongkok, Korea, dan Eropa. Atau dengan kata lain lebih dari 95% RL Indonesia tidak dinikmati oleh rakyat sendiri, tetapi dijual ke luar negeri—seringkali tanpa nilai tambah. Ini ibarat tim nasional yang hebat di lini belakang, tapi tidak pernah mencetak gol.
Mengapa Konsumsi RL di dalam negeri masih sangat rendah?
Beberapa alasan kunci yang saling berkaitan, baik dari sisi budaya, ekonomi, hingga kebijakan. Secara sistematis masalah ini disebabkan oleh:
Pertama, RL belum dimasukkan dalam Sistem Ketahanan Pangan Nasional.
Untuk ditetapkan sebagai komoditas pangan nasional memang memerlukan sejumlah kriteria substansial dan strategis yang menyangkut ketahanan pangan, gizi, ekonomi, serta stabilitas nasional.
Penetapannya umumnya dilakukan oleh lembaga terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan dukungan data BPS, rekomendasi akademik dan perlu intervensi pemerintah.

Saat ini, beberapa kriteria sudah hampir terpenuhi misalnya RL sudah mulai menjadi bagian dari konsumsi pangan harian masyarakat Indonesia khususnya di wilayah pesisir tertentu (Jawa, Kalimantan Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua).
Kemudian, mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan nasional karena rumput laut berpotensi tinggi sebagai pangan alternatif dan fungsional dan dapat mengurangi ketergantungan pada komoditas impor seperti kedelai atau tepung terigu.
Memiliki nilai strategis ekonomi dan sosial karena Indonesia adalah produsen rumput laut tropis terbesar dunia (>9 juta ton basah per tahun), dan komoditas ini menyerap puluhan ribu tenaga kerja di sektor budidaya, pascapanen, dan perdagangan, memberikan penghidupan bagi petani, nelayan, perempuan pesisir, dan UMKM sehingga pengembangan komoditas ini sangat relevan dengan strategi ekonomi biru dan pengentasan kemiskinan; skala produksi semakin luas dan berkelanjutan.
Saat ini ada 29 dari 38 provinsi di Indonesia yang telah mengembangkan budidaya rumput laut, baik dalam skala kecil, menengah, maupun besar.
Sayangnya RL belum diintegrasikan secara optimal dalam strategi ketahanan pangan nasional (misal: cadangan pangan pemerintah, program bansos, atau makan bergizi gratis).
Kedua, Minimnya Inovasi Kuliner Lokal.
Produk olahan di pasar domestik masih didominasi oleh agar-agar, konyaku, atau keripik, yang tidak menjadi bagian utama konsumsi harian. Belum banyak inovasi produk pangan berbasis rumput laut yang sesuai dengan selera dan kebiasaan makan masyarakat, seperti pengganti nasi, mi, lauk, atau kudapan khas Indonesia.
Ketiga, Kurangnya Edukasi Gizi dan Informasi Publik.
Banyak masyarakat belum memahami bahwa RL adalah sumber pangan fungsional yang kaya manfaat: tinggi serat, mineral, vitamin, dan antioksidan. Masih sangat minimalis upaya kampanye nasional besar-besaran seperti yang pernah dilakukan untuk susu, telur, atau ikan. Rumput laut masih dipandang sebagai makanan “pinggiran” atau “khusus pantai”.
Keempat, Dominasi Ekspor Mentah.
Sebagian besar rumput laut Indonesia diekspor dalam bentuk mentah (raw dried seaweed), karena dianggap lebih menguntungkan secara cepat bagi eksportir.
Akibatnya, pasokan untuk pasar domestik menjadi terbatas, dan harganya tidak kompetitif bagi pelaku usaha kecil atau rumah tangga.
Kelima, Kurangnya Dukungan Industri Pengolahan Lokal.
Industri pengolahan di dalam negeri masih minim dan terpusat di daerah tertentu saja, sehingga tidak tersedia produk turunan dalam berbagai bentuk dan harga yang bisa diakses luas oleh konsumen.
Keenam, Stigma dan Persepsi Budaya.
Di beberapa wilayah, rumput laut masih dianggap sebagai “makanan selevel ndeso” atau “makanan ” yang tidak bergengsi.
Budaya makan masyarakat Indonesia belum terbiasa menyertakan rumput laut sebagai bagian dari makanan pokok harian, berbeda dengan negara seperti Jepang atau Korea.
Ketujuh, Distribusi dan Akses yang Terbatas.
Di luar wilayah pesisir, RL sulit ditemukan dalam bentuk segar atau olahan siap konsumsi. Rantai pasoknya belum efisien, dan sistem distribusinya belum terintegrasi dengan pasar modern maupun tradisional secara luas.

Total Football: Pendekatan Menyeluruh
Untuk mengubah kondisi ini, Indonesia perlu strategi “Total Football” — pendekatan menyeluruh yang melibatkan semua lini: pendekatan menyeluruh mencakup:
Pertama, RL sudah saatnya dimasukkan dalam Sistem Ketahanan Pangan Nasional.
Beberapa alasan strategis yang menyangkut ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan, dan stabilitas pangan—empat pilar utama ketahanan pangan menurut FAO.
Faktor ketersediaan rumput laut yang melimpah ditunjukkan oleh Indonesia sebagai produsen rumput laut terbesar tropis di dunia, Produksi tahunan mencapai jutaan ton, namun sebagian besar diekspor dalam bentuk bahan mentah.
Di sisi lain, rumput laut mampu tumbuh cepat dan menyerap karbon, menjadikannya komoditas pangan rendah emisi; mendukung agenda pangan berkelanjutan dan adaptif terhadap krisis iklim; mampu menjawab tantangan diversifikasi pangan skaligus untuk mengurangi tekanan pada komoditas pangan utama termasuk menjaga stabilitas ekonomi pangan.
Budidaya rumput laut yang sederhana dan berbasis komunitas memungkinkan peningkatan akses dan kemandirian pangan lokal.
Dengan memasukkan rumput laut ke dalam sistem ketahanan pangan nasional secara langsung akan mendukung penguatan ekonomi biru yang inklusif dan ramah lingkungan termasuk selaras dengan Kebijakan Global dan Nasional yang berkelanjutan sebagai bagian dari Blue Food Initiative dan sejalan dengan agenda SDGs, terutama poin 2 (Zero Hunger) dan 13 (Climate Action).
Kesemuanya akan bermuara pada dukungan nyata terwujudnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan visi Indonesia Emas 2045 dalam penguatan kedaulatan pangan.
Kedua, penelitian dan inovasi kuliner.
RL sudah sangat layak masuk dapur rumah tangga Indonesia, tak hanya sebagai salad atau konyaku, tapi menjadi bahan dasar nasi, mie, roti, bahkan bumbu dapur.
Diperlukan kerja sama antara peneliti, chef, dan pelaku UMKM untuk mengembangkan produk kuliner berbasis RL yang sesuai selera lokal.
Ketiga, kebijakan pemerintah yang tegas.
Keberpihakan anggaran dan regulasi, seperti insentif untuk industri pengolahan RL, alokasi dalam program pangan bergizi nasional, dan integrasi dalam strategi ketahanan pangan daerah.
Kempat, kurikulum dan edukasi publik.
Edukasi tentang gizi dan manfaat rumput laut perlu masuk ke sekolah-sekolah, kampanye media, hingga layanan kesehatan primer. Masyarakat harus sadar bahwa rumput laut bukan “pangan pinggiran”, tapi “superfood” tropis yang layak dibanggakan.
Kelima, peran swasta dan digitalisasi rantai pasok.
Industri makanan, e-commerce, dan teknologi pertanian digital dapat membantu membuka pasar baru, meningkatkan efisiensi distribusi, dan memastikan traceability dari petani hingga konsumen.
Keenam, kepemimpinan simbolik.
Pemimpin nasional, tokoh agama, dan selebritas dapat memainkan peran penting sebagai role model — bayangkan jika Presiden RI sarapan RL di depan publik seperti yang diharapkan oleh La Ode M. Aslan dalam draft artikelnya:
Sarapan rumput laut Bersama Presiden. Kampanye minum susu zaman dulu, bukan sekadar simbol, tapi strategi komunikasi yang kuat
Ketujuh, kolaborasi lintas sektor, mulai dari akademisi, pemerintah, industri, hingga media.
Spirit kolaborasi yang komprehensif yang juga mrupakan spirit total football memerlukan kebersamaan dan kepedulian untuk turut berkontribusi agar timnas RL mampu menjadi tim elit nasional dan diperhitungkan dunia.
Peran akademisi baik dari perguruan tinggi, para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian dan Lembaga terkait, LSM hingga media sosial / influencer dan masyarakat merupakan suatu tim impian harapan bangsa
Kesimpulan: semua pemain harus bergerak dan berjuang bersama
Seperti dalam Total Football, tak bisa hanya satu sektor yang bekerja. Dari petani, peneliti, koki, birokrat, hingga influencer — semua harus bergerak.
Jika berhasil, rumput laut bukan hanya menjadi ikon pangan nasional, tetapi juga penopang ekonomi biru, ketahanan gizi, dan kemandirian pangan Indonesia.
Kini saatnya kita bertanya: Apakah kita siap memainkan peran masing-masing dalam “tim nasional Rumput laut”
___
Editor Denun
