Pada ruang dan waktu, pada uang dan fakta yang berubah.
PELAKITA.ID – Masa lalu di kampung, menyimpan banyak hal yang tak bisa dibeli hari ini.
Dulu, orang memelihara ayam di kandang kayu atau bambu. Kalau si ayam hendak bertelur, ia akan berkotek-kotek, memberi isyarat pada pemiliknya yang paham benar bahasa ayam. Lalu disiapkan kamboti dari daun kelapa—tempat khusus untuknya bertelur.
Tapi, kalau sudah bertelur, jangan berani mengganggu induknya. Nasepolokko—ia bisa meninggalkan telurnya karena terganggu.
Penjual ikan di Galesong dulu tak seperti sekarang. Mereka berkeliling naik sepeda, membawa juku di pagandeng—keranjang besar di samping. Kalau ada yang membeli, mereka siapkan daun jati lebar-lebar, sebagai alas untuk menaruh penjang, ciko-ciko, atau garanggang. Sekarang, semua pakai plastik.
Wajar saja, sebab pohon jati sudah lama hilang dari tanah Galesong. Lambat laun, penjual ikan pun beralih ke sepeda motor. Kalau pun masih ada yang memakai pagandeng, itu pun melayani ikan murah seperti bete-bete.
Dulu, orang bisa menjemur gabah di jalan, bisa juga menjemur ikan di sepanjang ruas jalan kampung. Tak ada gangguan, karena kendaraan masih langka. Paling-paling hanya pateke-teke—kuda dari Tombolo Pao yang masuk ke Galesong membawa assung batu, atau membawa kaloe dari mangga muda yang dijemur.
Ada juga yang membawa madu dan hasil bumi lainnya. Tahun 1980-an, penulis masih sempat menyaksikan iring-iringan kuda itu, penunggangnya tegap, membawa barang dagangan dengan tenang. Sekarang, jangankan kuda, sepeda singking saja sudah jarang terlihat.
Tapi kadang ada anomali tradisi tak berubah juga – di beberapa ruas jalan pedalaman Sungguminasa seperti Panggentungang atau Paopao masih beberapa kali kita dihadang oleh pesta yang digelar di ruas jalan. Yang pasti mereka lapor APH. Meski banyak warga atau pejalan ma’noko-noko karena jalannya ditutup.
Barangkali begitulah cara pandang para penerabas jalan yang menyaru jadi Pedagang Kaki Lima di sepanjang Paopao, Samata hingga Borong ya? Tidak bisa lepas dari tradisi dan pandangan bahwa semua milik publik adalah milik orang per orang (eh!)
Dulu, kalau hendak menggelar pesta—nikahan atau sunatan—satu kampung pasti datang membantu. Lamming dan baruga dibangun bersama.
Bambu gampang dicari, daun kelapa pun melimpah. Pesta bisa berlangsung sepekan penuh. Tapi sekarang, semuanya kamma-kammanne—semua diselesaikan di aula milik swasta. Makin besar pestanya, makin besar pula aulanya. Besar juga doe panaik dan panynyori-nya.
Dulu, begitulah keadaan kita. Kamma-kammanne, sessajaki. Dulu, segala sesuatunya dijalani dengan gotong royong, dengan kesederhanaan yang penuh makna. Kini, banyak yang berubah.
Tapi riwayat itu tetap hidup dalam ingatan—tentang transformasi kamboti, baruga dan penguasaan bahu jalan – seperti kabut pagi yang turun pelan di antara kenangan, lalu mengendap di hati orang-orang tua yang tak pernah lupa dari mana mereka berasal.
Tamarunang, 10 Juli 2025
