Australia eksportir produk agribisnis dan makanan terbesar ke Indonesia

  • Whatsapp

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Menurut survei yang dilakukan oleh Kamar Dagang Australia-ASEAN, dunia usaha Australia merasa sulit untuk mengikuti irama birokrasi di Indonesia.

Meski demikian, manfaat tandang bisnis ke Indonesia sepadan dengan usaha yang dilakukan.

Ekspor barang Australia ke Indonesia berjumlah US$9,9 miliar pada tahun 2022 dengan 41% (atau US$4,0 miliar).

Hal tersebut berasal dari sektor agribisnis dan semata pangan. Hal ini menjadikan Australia sebagai eksportir produk agribisnis dan pangan terbesar ke Indonesia.

Indonesia memiliki stabilitas makroekonomi yang mengesankan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan PDB sebesar 5,0% pada tahun 2023 – hampir tiga kali lipat rata-rata 1,5% di negara-negara maju.

Itu lebih besar dari angka 4,0% di negara-negara berkembang. Berkat stabilitas ini, kelas menengah Indonesia dan peluang bagi bisnis Australia semakin meningkat.

Impor produk agribisnis dan pangan Indonesia meningkat sebesar 8,4% per tahun selama lima tahun terakhir, mencapai US$29 miliar pada tahun 2022.

Dari jumlah tersebut, Australia memasok 14% atau US$4,0 miliar.

Tidak ada keraguan bahwa hasil ini tidak akan tercapai tanpa tarif yang lebih rendah, seperti yang dicapai melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA).

Dari segi nilai, gandum (US$1,7 miliar), daging dan ternak (US$909 juta), kapas (US$416 juta), serta produk susu dan susu formula (US$221 juta) merupakan kontributor terbesar terhadap ekspor agribisnis dan pangan Australia ke Indonesia pada tahun 2022.

Ekspor penting Australia lainnya adalah tebu (US$321 juta), garam (US$92 juta), dan anggur (US$84 juta).

Dalam hal tingkat pertumbuhan, kapas (US$416 juta) tumbuh rata-rata tahunan sebesar 21% selama lima tahun terakhir. Jruk (US$11 juta), dan salmon Atlantik (US$31 juta) juga tumbuh dengan cepat, dengan rata-rata tahunan masing-masing sebesar 18%, 12% dan 23%.

Selain ekspor yang sudah ada, mungkin terdapat lebih banyak peluang bagi petani Australia karena Indonesia mengimpor sejumlah besar produk yang saat ini kami ekspor ke negara lain.

Misalnya, Indonesia mengimpor apel dan pir senilai US$618 juta dan sayuran senilai US$824 juta pada tahun 2022.

Peluang baru bagi dunia usaha Australia mulai bermunculan di Indonesia, tidak hanya di sektor agribisnis dan pangan.

Kelas menengah yang lebih besar juga akan mencari pendidikan berkualitas, layanan kesehatan dan perawatan lansia mutakhir, serta layanan sumber daya dan energi yang lebih berkelanjutan.

Terakhir, terdapat juga peluang baru yang muncul bagi dunia usaha Indonesia di Australia.

Ekspor Australia memerlukan sektor manufaktur untuk mendukung produksi, dengan Australia mengimpor hampir US$3 miliar produk manufaktur pada tahun 2022.

Selain itu, pada tahun yang sama, para petani kita mengimpor lebih dari A$360 juta (atau US$253 juta) pupuk dari Indonesia.

Sumber:
Fernando RamirezFernando Ramirez
• 3rd+

Related posts