Fikri, pengakuan seorang penyintas COVID-19 di Makassar

  • Whatsapp
Fikri ;Ickie' Daud, penyintas COVID-19 (dok: fkoleksi oto FB)

DPRD Makassar

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan hingga Kamis (15/7/2021) hingga pukul 12:00 WIB mencatat jumlah kasus baru sebanyak 56.757 orang. Dengan begitu total kasus Covid-19 di tanah air sebanyak 2.726.803 orang.

PELAKITA.IDSosodara, masih susah move on dari drama antara Satpol Pemda Gowa dan keluarga Ivan Van Houten di Panciro yang berujung aksi lapor polisi itu?

Read More

Jika belum, tidak ada. Tapi tahukah sosodara bahwa memasuki tahun kedua pademi COVID-19, ancamannya tak jua surut. Pertengahan tahun ini, justru menghebat.

Setelah tahun lalu menyiksa lahir batin warga Benua Biru, Inggris, Italia, hingga Spanyol, tahun ini sapuan praharanya melindas India lalu slowly but sure mengancam kota-kota di Indonesia.

Hingga tanggal 13 Juli 2021, update penderita COVID-19 tingkat global mencapai 188.030.820. orang.

Di Indonesia, kementerian Kesehatan hingga Kamis (15/7/2021) hingga pukul 12:00 WIB mencatat jumlah kasus baru sebanyak 56.757 orang. Dengan begitu total kasus Covid-19 di tanah air sebanyak 2.726.803 orang.

Jumlah tersebut kembali memecahkan rekor dari sebelumnya, pada Rabu (14/7/2021) tambahan kasus baru 54.517 orang. Sebelumnya rekor penambahan masih di kisaran 30 ribuan per hari.

Berbagai upaya pun ditempuh untuk mengantisipasi semakin meluasnya wabah ini. Di antarnya program vaksinasi massal, pengetatan pergerakan warga, SWAB, hingga isolasi mandiri dan berbasis hotel.

Pelakita.ID mewawancarai Fikri atau biasa disapa Ickie, salah satu penyintas COVID-19 di tengah silang pendapat tentang bagaimana sebaiknya pengendalian pandemi serta penanganan untuk penderita.

Untuk konteks Makassar, saat ini sedang digencarkan program Makassar Recover, tujuannya untuk memulihkan Makassar dari dampak pandemi.

Aksi program yang diusung seperti COVID-Hunter, RAIKA (pengurai kerumunan) dan pemulihan ekonomi, hingga ide alternatif isolasi di atas kapal, mendapat tanggapan beragam dari praktisi dan akademisi.

Di grup Whatsapp Alumni Unhas, sudah seminggu ini temanya menyoal aksi Makassar Recover Pemkot.

Beberapa tanggapan alumni di antaranya perlunya fokus pada penyiapan kompetensi dan protokol tenaga ‘hunter’. Antisipasi dampak dari hunter ke warga yang dikunjungi rumahnya hingga perlu tidaknya isolasi di atas kapal.

“Jangan sampai hunter malah menjadi agen penyampai virus.” Kurang lebih begitu kegalauan jemaah WAG Alumni.

Nah, terkait pengalaman warga sebagai penyintas, ada baiknya untuk dipertimbangkan sebagai masukan, sebagai informasi alternatif.  Mari simak pengalaman Fikri terkait COVID-19 ini.

Di mana mula cerita hingga dia terpapar COVID-19?

“Kenanya di Mamuju, kecurigaan utama karena pakai masker bekas teman yang saya kira masker bonus dari toko yang kita beli barangnya untuk bahan bantuan bencana gempa Sulbar,” katanya.

Dua hari setelah gempa Sulbar yang meluluhlantakkan Mamuju dan sekitarnya, panggilan hati Ickie menuntunnya ke lokasi bencana. Dia ikut membikin dapur umum untuk korban bencana gempa yang diprogramkan IKA Smansa Makassar.

“Saya berangkat tanggal 15 Januari 2021 dini hari atau dua hari setelah gempa,” kenang pria yang akrab disapa Ickie ini.

Ickie menjalani Isolasi di hotel selama 18 hari. “Harusnya 14 hari tetapi saya lewati karena pas 14 hari masih batuk, total 18 hari,” terangnya.

Lalu seperti apa di dalam kamar hotel?

“Saya dikasih kamar sendiri, fasilitas kamar lengkap, makanan 3 kali sehari, obat, air minum, pembersihan kamar, laundry, sampai pengantaran kiriman dari luar. Ada juga yang sekamar berdua,” ucapnya.

Selama Isman, Ickie dan peserta lainnya menjalani olahraga senam bersama sekali seminggu.

“Setelah 2 minggu diobservasi, kalau sudah tidak ada gejala dipulangkan. Standar isolasi selama 14 hari, kalau masih ada gejala tetap tidak dipulangkan. Kecuali inisiatif pergi Swab dan hasilnya negatif,” tandasnya.

Apa pandangan dan respon keluarga? “Khawatir tapi kan sering nelpon dan mereka dengar kalau saya tidak apa-apaji, cuma gejala ringan,” katanya.

“Pernah bertemu langsung selama Isman?”

“Ndak pernah, saya sepulang dari Mamuju langsung ke kantor isolasi, setelah SWAB dan jelas positif baru ‘ditendang’ sama Agus, masuk Kenari Tower dan dia nyusul sama 6 orang lainnya, 5 orang Isman di rumah,” tutupnya.

Pengalaman Ickie, adalah informasi berharga untuk Pemerintah, baik Pusat maupun Daeah, termasuk Pemerintah Kota Makassar yang belakangan ini kian inovatif menawaran program untuk penanganan para penderita COVID-19.

 

Editor: K. Azis

Related posts