Konsorsium OCEAN Paparkan Inisiatif Program Ketahanan Iklim Pulau Terpencil Pangkep dalam Konsultasi Publik

  • Whatsapp
Konsultasi Publik, Penyusunan Proposal Proyek Membangun Ketahana Perubahan Iklim untuk Pulau-Pulau Kecil dan Terpencil i Kabupaten Pangkep , melalui Program Adaptation Fund, -Kemitraan (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Perwakilan Konsorsium OCEAN, Urban El Fatih, memaparkan rencana usulan program bertajuk “Membangun Ketahanan Masyarakat Pulau Kecil Terpencil terhadap Perubahan Iklim di Kabupaten Pangkep” dalam agenda konsultasi publik yang digelar sebagai bagian dari proses penyusunan proposal program.

Kegiatan berlangsung di Pangkep, Jumat, 13 Februari 2026.

Dalam pemaparannya, Urban menjelaskan bahwa Konsorsium OCEAN merupakan kolaborasi antara DFW Indonesia, LEMSA, dan Nypah Indonesia yang bekerja bersama Kemitraan dengan dukungan pendanaan dari Adaptation Fund.

Program ini dirancang sebagai inisiatif berbasis pendekatan bottom-up, yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam memperkuat kapasitas adaptasi terhadap dampak nyata perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Fokus intervensi program berada di Kecamatan Liukang Tangaya dan Liukang Kalmas, Kabupaten Pangkep.

“Dua kecamatan ini dipilih karena merupakan wilayah kepulauan terluar dan terpencil dengan akses yang sangat terbatas, namun memiliki peran strategis sebagai kawasan konservasi. Proyek dirancang berjalan selama 36 bulan. Saat ini, konsorsium tengah merampungkan draf proposal tahun 2026, dengan rencana implementasi pada periode 2027–2030,” jelasnya.

Urban menegaskan bahwa urgensi program ini didasarkan pada data ilmiah yang menunjukkan peningkatan suhu udara dan suhu permukaan laut yang signifikan.

“Proyeksi kenaikan suhu hingga 0,95°C pada periode 2032–2040 menjadi ancaman serius bagi ekosistem dan kehidupan masyarakat. Selain itu, kenaikan muka air laut setinggi 88–92 mm sejak 1990 telah memicu abrasi pantai, intrusi air laut ke sumur-sumur warga, serta banjir rob hingga 50 sentimeter yang merusak permukiman,” sebutnya.

Dampak perubahan iklim tersebut dirasakan secara langsung dalam berbagai sektor kehidupan.

Pada sektor budidaya rumput laut, suhu di atas 31°C memicu penyakit ice-ice yang menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi bagi petani.

“Di sektor perikanan, nelayan dengan kapal di bawah 5 GT semakin sering tidak dapat melaut akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi, bahkan dalam beberapa kasus telah menimbulkan korban jiwa,” tambah Urban.

Dari sisi sosial, menurut Urban, perempuan menghadapi beban ganda akibat kelangkaan air bersih yang dipicu intrusi air laut.

“Sementara itu, kondisi sanitasi juga masih memprihatinkan, dengan sekitar 87–91 persen rumah tangga belum memiliki akses terhadap toilet layak,” sebutnya.

Urban juga menyoroti berbagai tantangan struktural yang memperberat situasi, seperti keterbatasan data cuaca, minimnya infrastruktur dasar, hingga blank spot telekomunikasi.

Di sisi lain, kata dia, pemerintah daerah memiliki keterbatasan kapasitas fiskal dan sumber daya manusia untuk menangani persoalan ini secara mandiri.

Urban menyebut demi menjawab berbagai tantangan tersebut, Konsorsium OCEAN mengusung visi mewujudkan masyarakat pulau kecil yang tangguh, adaptif, dan sejahtera. Untuk itu, terdapat empat tujuan utama yang akan dijalankan.

Pertama, penguatan kapasitas pemerintah melalui integrasi risiko perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan formal, seperti RAD-API dan Rencana Aksi Desa.

Kedua, peningkatan kapasitas masyarakat dan pemanfaatan teknologi adaptif, antara lain melalui pembentukan sekolah lapang budidaya rumput laut adaptif, instalasi stasiun cuaca lokal, pengembangan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System), serta rehabilitasi sumur tahan intrusi.

Ketiga, penguatan ketahanan ekosistem melalui rehabilitasi dua hektare terumbu karang menggunakan metode spider, penanaman dua hektare mangrove, serta pengaktifan kembali Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS).

Keempat, pengelolaan pengetahuan dengan mendokumentasikan proses dan pembelajaran dalam bentuk buku, film dokumenter, serta pengembangan basis data agar praktik baik dari Pangkep dapat direplikasi di wilayah lain.

Menutup paparannya, Urban menekankan bahwa perubahan tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan tata kelola partisipatif dan kolaborasi multipihak agar masa depan pulau-pulau kecil di Pangkep menjadi lebih tangguh dan adaptif dalam menghadapi perubahan iklim.

Redaksi