Kegagalan baginya adalah bagian dari proses belajar. Bahwa tanpa keberanian mencoba, tak akan ada lompatan. Yang ada hanya ketakutan yang diwariskan ke generasi berikutnya.
PELAKITA.ID – Sembari mendengar pemenang Nobel 2025 berargumentasi, tiba-tiba pikiran saya melayang ke sebuah perspektif lain. Dari belahan benua yang berjauhan.
Sebenarnya menarik membandingkan Zohran Mamdani dengan Danny Pomanto. Sama-sama enerjik, komunikatif, pandai memikat publik. Dan sama sama merayakan kota dunia.
Anda sudah tahu, Zohran lahir dari perlawanan. Ia muncul dari “lorong-lorong” memori getir. Gusur, sewa mahal, kota yang terasa asing,bukan milik warganya. Modalnya bukan proyek, tapi empati.
Ia menjanjikan satu hal yang mahal di kota besar: rasa aman untuk tetap tinggal.
Sedangkan Danny, yang bermula “anak lorong” di kota Makassar, punya pendekatan lain. Lebih visual. Lebih arsitektural.
Kota dipoles, difoto, dipamerkan, dibuatkan jargon pengingat. Instagramable. Warga bangga. Kota jadi panggung. Festival disemarakkan. Pemimpin jadi kurator.
Zohran tidak terlalu peduli kota tampak cantik dari drone. Tapi lebih peduli siapa yang terdesak dari trotoar. Ia bicara sewa, bukan skyline. Ia khawatir warga terusir sebelum sempat berfoto.
Pandangan keduanya punya basis argumentasi kuat seperti para pemenang Nobel.
Bukan soal benar atau salah. Kota memang butuh estetika. Tapi kota juga butuh keadilan. Masalahnya, estetika cepat dapat tepuk tangan. Keadilan butuh waktu dan kesabaran.
New York sedang bereksperimen dengan empati. Banyak kota lain masih sibuk bersolek. Zohran baru mulai. Entah satu atau dua periode.
Kita menonton. Sambil tersenyum dan berkata dalam hati: rupanya membangun kota bukan cuma soal desain. “Tapi membangun ekosistem,” ujar Danny.
Saya tidak banyak membahas Zohran Mamdani, wali kota New York yang fenomenal ini. Anda sudah banyak tahu dari berbagai media dan platform digital.
Namun Danny Pomanto meski saya tidak mengenal secara pribadi, tapi tahu dan merasakan apa saja yang sudah dilakukannya selama menjadi pemimpin kota berlabel metro- yang dulunya saya termasuk salahsatu warganya.
Pertama kali saya mengenal pria bernama lengkap Muhammad Ramdhan Pomanto ini sekitar tahun 2000. Saat itu Makassar ditunjuk AFC menjadi tuan rumah babak perempat final Asian Club Championship (sekarang Liga Champions Asia). Tapi dengan catatan: stadion Mattoanging harus direvitalisasi.
Tak ada pilihan lain. Bangunan stadion legendaris itu harus dipermak. Dikebut pekerjaannya,terdesak deadline AFC. Lalu tak lama, muncul seorang pria muda berkaca mata menerima dan menyanggupi pekerjaan tak ringan itu.
Bahkan saat momen diperkenalkan, ia datang dengan embel-embel konsultan dan arsitek dengan menenteng tas. Isinya kertas-kertas gambar karya desainnya.
” Tabe …. tabe (permisi,red),” ucapnya menerobos kerumunan wartawan saat dipanggil Wali kota Makassar, Amiruddin Maula, yang didampingi Ketua Panpel Ilham Arief Sirajuddin, maju ke depan.
Tak satu pun yang mengenali Danny ketika itu.
Seiring waktu, jejak digital mengungkap pasang surut perjalanan karirnya yang nyemplung ke politik. Sejak beberapa tahun silam ia menjelma menjadi “ikon politik” seperti sekarang bak kisah dongeng.
Anak seorang guru yang sebelumnya jauh dari publikasi dan sorotan lampu.
Setelah melewati dua periode Wali kota Makassar, Danny mencoba naik level dengan maju sebagai kandidat Gubernur Sulawesi Selatan pada Pemilukada 2024. Ia gagal. Untuk mengalahkan kandidat incumbent yang juga adik seorang menteri.
Kata yang menyadarkan dan menguatkannya hanya satu: move on !
Kegagalan baginya adalah bagian dari proses belajar. Bahwa tanpa keberanian mencoba, tak akan ada lompatan. Yang ada hanya ketakutan yang diwariskan ke generasi berikutnya.
Ketakutan itu terasa lebih dingin daripada air hujan di musim basah saat ini.
Akhirnya, di ujung bulan pertama 2026, tepatnya 30 Januari, saya ucapkan selamat Milad atau ulang tahun Pak Danny. Yang keberapa? Jangan tanya saya. *
___
Rusman Madjulekka
Jurnalis senior, tinggal di Jakarta Selatan
