PELAKITA.ID – Begitu Sirajuddin Daeng Pata’ memainkan kacapingnya, Haeruddin Ahar Daeng Nassa langsung menimpali dengan meniup seruling.
Keduanya memainkan lantunan nada yang biasa dijadikan musik pengiring Tari Paduppa. Yakni, tarian tradisional Bugis-Makassar yang ditampilkan sebagai bentuk penghormatan kala menjemput tamu.
Sirajuddin Daeng Pata’ dan Haeruddin Ahar Daeng Nassa layaknya tengah jam session di hadapan guru dan siswa SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Rabu, 28 Januari 2026. Jam session adalah sesi bermain musik secara informal, spontan, dan tentu saja tanpa persiapan.
Sekolah di atas bukit itu, berada persis di seberang jalan dari Bendungan Pammukulu, yang diresmikan Presiden Joko Widodo, tahun 2024.
Walau nama sekolahnya SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, tetapi sekolah ini terletak di wilayah Kecamatan Polongbangkeng Timur, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan.
Saya membersamai Daeng Pata’ dan Daeng Nassa untuk kegiatan literasi.
Kedua seniman alumni SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) Gowa–sekarang SMK Negeri 2 Gowa–yang sudah malang melintang di berbagai forum seni dan pertunjukkan ini, bisa langsung tune in. Tak ayal, membuat siswa-siswi yang hadir langsung bertepuk tangan.
“Biasanya musik seperti ini hanya diputar melalui YouTube, saat anak-anak belajar menari. Hari ini langsung dimainkan secara live oleh ahlinya,” kata saya.
Sebagai pegiat Sekolah Ramah Anak yang bermitra dengan sejumlah SD, saya biasa melihat anak-anak menari dengan hanya mengandalkan musik pengiring dari YouTube. Makanya, saya senang melihat pertunjukan kecil di ruang kelas tersebut.
Sirajuddin Daeng Pata’ merupakan seniman multitalenta. Pria asal Gowa, kelahiran 1969 itu, mahir memainkan sejumlah alat musik tradisional, seperti kacaping, suling, kesok-kesok, dan gendang.
Bersama Sanggar Siradjuddin, asuhan Siradjuddin Daeng Bantang (alm), ia pernah tampil di berbagai belahan dunia. Daeng Pata’ yang dikenal sebagai Pasinrilik itu, tercatat sudah pentas di 28 negara.
Haeruddin Ahar Daeng Nassa, yang lebih populer sebagai Pasinrilik, ternyata juga piawai meniup suling bambu. Pria asal Gowa, kelahiran 1970, ini pernah tampil di Istana Negara pada masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono.
Bahkan, bersama Sanggar Sejati, ia beberapa kali ikut acara parade budaya, saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus.
“Saya sebelum dikenal sebagai Pasinrilik, lebih dahulu bermain suling tradisional, dan angngaru,” ungkap Daeng Nassa.
Daeng Nassa, sempat mengajukan pertanyaan kepada anak-anak yang hadir, apakah ada yang tahu nama alat musik yang dipegangnya?
Anak-anak menggeleng. Tak ada satupun dari mereka yang mengacungkan tangan.
Daeng Nassa lantas menyampaikan bahwa alat musik gesek, yang bentuknya tampak seperti jantung atau daun keladi itu bernama kesok-kesok. Gesek dalam bahasa Makassar, artinya kesok.
Dua dawai dari alat musik itu digesek, sambil bertutur, dengan bahasa yang berirama.
Sinrilik, lanjut Daeng Nassa, merupakan seni tradisi lisan yang dibawakan secara naratif, berisi sejarah atau legenda, sarat akan filosofi, dan pesan moral.
“Dahulu, selain untuk hiburan, sinrilik juga digunakan sebagai sarana menyampaikan pengumuman,” terang Daeng Nassa.
Ketika ada di antara yang hadir mencoba menyanyikan lagu pop dengan menggunakan kesok-kesok, spontan disampaikan bahwa untuk lagu seperti itu, bisa diiringi menggunakan kacaping.
Daeng Nassa lalu mengambil kacaping, membawakan lagu Anging Mammirik. Giliran Daeng Pata yang meniup seruling.
Harmonisasi permainan keduanya menambah kesyahduan lagu ciptaan Bora Daeng Ngirate tersebut.
Siang itu, 50-an siswa yang sekolahnya berada di Desa Kale Ko’mara tersebut, tak hanya mendapat asupan informasi seputar alat musik tradisional, tetapi juga semacam coaching clinic. Mereka diperlihatkan, bagaimana memainkan kacaping dan kesok-kesok.
Muhammad Revan, siswa kelas 9, memberanikan diri tampil ke depan. Siswa yang hobi bermain sepak bola, dan bercita-cita jadi anggota Kopassus itu, tak canggung saat menggesek kesok-kesok.
Dua guru, masing-masing Pak Rahman dan Pak Irfayandi, juga melakukan hal yang sama, mencoba memainkan kesok-kesok dan kacaping.
Diakui oleh Daeng Nassa, butuh proses untuk bisa sampai mahir. Daeng Pata’ pun mengiyakan bahwa kalau mau lebih terampil lagi, perlu latihan yang kontinu.

Kepala UPT SPF SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Erma Mapparenta, S.Pd, M.Pd, senang melihat siswa-siswi dan guru-gurunya begitu antusias pada seni tradisi.
Kepala sekolah yang sebelumnya mengajar di SMP Negeri 1 Mangarabombang itu, tampak mendokumentasikan penampilan mereka melalui smartphone-nya.
“Harus berani dan percaya diri kalau ingin maju,” kata Bu Erma memberi semangat.
Saya kemudian meminta tolong Pak Rahman, guru Bahasa Inggris, mengakses YouTube melalui smartboard TV atau interactive flat panel, yang ada di situ.
Melalui alat yang menggabungkan fungsi TV pintar, papan tulis digital, dan komputer Android/Windows tersebut, puisi karya saya “Panggil Aku Daeng”, muncul dalam sejumlah kanal.
“Bila kita punya karya, maka ada jejak digital yang kita tinggalkan. Mungkin dari situ kita bisa menginspirari orang atau menebar kebaikan,” begitu pesan yang saya sampaikan.
Saya lalu memanggil salah seorang siswa yang sedari tadi memegang kertas berisi naskah puisi “Panggil Aku Daeng”. Saya memberi semangat kepadanya.
Saya bilang, ini kesempatan langka membaca puisi diiringi kesok-kesok oleh Pasinrilik, Daeng Nassa, dan tiupan suling Daeng Pata.
Anak itu, Muhammad Nur Akmal, siswa kelas 7. Suaranya mantap membaca larik-larik puisi yang saya buat tahun 2017 tersebut. Puisi ini memang berbicara tentang pentingnya identitas, khususnya sebagai orang Makassar.
Bahwa mesti bangga punya sejarah yang panjang, punya bahasa dan aksara, kaya dengan karya sastra, punya musik, tarian, dan ragam bentuk kesenian lainnya.
“Sebelum ke sekolah ini, saya mencari tahu informasi tentang SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Desa Kale Ko’mara, juga Bendungan Pammukulu,” terang saya.
Begitulah cara saya meriset, bila akan mendatangi suatu tempat, menemui seseorang atau komunitas. Dengan begitu, membantu saya masuk dalam obrolan, biar nyambung, dan cepat membangun keakraban.
Terlebih melalui medium seni, yang bisa digunakan sebagai bentuk ekspresi dan kreativitas, sebagai sarana komunikasi dan diplomasi, juga untuk tujuan edukasi dan literasi.
Saya berterima kasih pada Daeng Nassa dan Daeng Pata’ yang sudah mengambil peran, dan menjadi bagian dari ekosistem literasi di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara.
Lewat lantunan kesok-kesok dan kacaping, pesan-pesan leluhur disampaikan bahwa betapa pentingnya pappilajarang. (*)
Laporan: Rusdin Tompo (Penulis, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
