Bupati Bantaeng Bakar Semangat Penulis Warga, “Indah sebagai Fiksi, Berbahaya sebagai Fakta’

  • Whatsapp
Bupati Bantaeng Fathul Fauzy Nurdin (kedua dari kanan) bersama Direktur Jaringan Gender Indonesia, Liliy Candinegara, Sekdin Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Gowa, Mustamin Raga dan Lusia Palulungan (INKLUSI BaKTI)

Perempuan, “Indah sebagai fiksi, berbahaya sebagai fakta.”

PELAKITA.ID – Di hadapan para penulis warga dan pegiat jurnalisme publik, Bupati Bantaeng tidak berbicara dengan bahasa birokrasi yang kaku. Ia memilih jujur, reflektif, dan—yang paling penting—memihak. Memihak pada suara yang selama ini sering tak terdengar: suara perempuan.

Ilustrasi kegiatan (dok: Istimewa)

“Masalah perempuan itu banyak di daerah. Pelecehan, kekerasan, ketidakadilan. Tapi sering kali tidak kelihatan,” ujarnya.

Ia bercerita, setiap kali turun ke desa, persoalan-persoalan itu ada, nyata, namun tersembunyi. Tidak muncul ke permukaan. Tidak tercatat. Tidak ditulis.

Kesadaran itulah yang kemudian mendorong Pemerintah Kabupaten Bantaeng, sejak tahun pertama kepemimpinannya pasca-Pilkada, untuk memberi perhatian khusus pada fasilitasi isu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

Baginya, membangun daerah tidak cukup hanya dengan infrastruktur dan angka pertumbuhan. Ada sisi kemanusiaan yang harus disuarakan.

Ketika Media Besar Tak Lagi Sendirian

Bupati Bantaeng juga menyinggung perubahan besar dalam lanskap media. Dulu, pemerintah daerah berlomba-lomba bekerja sama dengan media besar. Wartawan datang dari kota, membawa agenda, lalu pulang. Kini, situasinya berbeda.

“Sekarang, justru saya lebih banyak dapat berita dari teman-teman yang mem-posting kejadian langsung di lapangan,” katanya. Dari unggahan warga, dari cerita pendek di media sosial, dari laporan sederhana yang jujur—itulah wajah public journalism hari ini.

Ia mengakui, banyak kasus besar terbuka bukan karena media arus utama, tetapi karena keberanian warga untuk bersuara. Jurnalisme publik membuka tabir yang selama ini tertutup.

Meski demikian, ia juga mengingatkan tantangan besar: banjir informasi, hoaks, dan kaburnya batas antara fakta dan opini.

Di sinilah peran penulis warga menjadi krusial. Bukan sekadar cepat, tetapi juga bertanggung jawab. Bukan hanya ramai, tetapi bermakna.

Menurutnya, perempuan harus diwadahi untuk berbicara dan menulis. Bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai subjek utama. Peran perempuan, kata dia, sangat strategis—baik dalam jurnalisme maupun dalam pemerintahan.

Ia menyebut nama-nama perempuan hebat di dunia jurnalistik: Najwa Shihab dengan ketajaman investigasinya, Desi Anwar dengan wawasan globalnya, hingga Meutya Hafid yang pernah ditangkap saat liputan di Irak dan kini menjadi menteri. Semua itu bukti bahwa perempuan bukan hanya mampu, tetapi sering kali melampaui.

Pengalaman serupa ia temukan di birokrasi lokal. Di Kabupaten Bantaeng, dari delapan kecamatan, empat dipimpin camat perempuan. Puskesmas? Hampir seluruhnya dipimpin perempuan.

“Saya akui, bukan diskriminasi, tapi perempuan sering kali lebih hebat dari laki-laki dalam kerja-kerja detail,” ucapnya jujur.

Kemenangan yang Ditentukan Ibu-Ibu

Pengakuan paling menarik datang ketika ia berkisah tentang masa Pilkada. Ia merekrut tim yang mayoritas perempuan: koordinator desa, tim TPS, hingga relawan lapangan. Dari sekitar 70 orang tim inti, sebagian besar adalah ibu-ibu.

Mereka bekerja hanya dua bulan. Tapi hasilnya mencengangkan. Evaluasi menunjukkan pekerjaan mereka rapi, selesai sebelum tenggat, dan pertanggungjawaban administrasinya bersih. Bahkan, sekitar 90 persen data valid berasal dari kerja tim perempuan.

“Dari situ saya tahu, kemenangan ini ditentukan oleh ibu-ibu,” katanya.

Sebuah pengakuan yang jarang terdengar dari panggung politik.

Kepercayaan itu tidak berhenti sebagai pujian. Ia diwujudkan dalam kebijakan. Pemerintah Kabupaten Bantaeng mencanangkan program kemandirian ekonomi bagi ibu rumah tangga, khususnya keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Contohnya sederhana, tapi berdampak: bantuan ayam petelur. Sepuluh ekor ayam, pakan, dan kandang. Sumber protein keluarga. Sumber pendapatan kecil yang berkelanjutan.

“Kalau ibu-ibu yang pegang, pasti beres. Ayamnya tidak dijual, tapi dipelihara,” katanya sambil tersenyum. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sepele. Tapi di dapur-dapur rumah tangga, program ini mengubah banyak hal.

Mengapa Isu Perempuan Tak Pernah Trending?

Pertanyaan kritis pun ia lontarkan: mengapa isu perempuan jarang menjadi trending topic? Jawabannya tidak sederhana. Politik, bisnis, dan kepentingan sering kali lebih menentukan apa yang ramai dibicarakan.

Namun, ia optimistis. Zaman telah berubah. Ketika ada satu kasus viral, sering kali “investigator” paling gigih justru bukan media besar, melainkan netizen. Di situlah ruang jurnalisme publik terbuka lebar—dan perempuan harus hadir di dalamnya.

Ia menutup dengan sebuah kalimat yang menggugah:

“Indah sebagai fiksi, berbahaya sebagai fakta.”

Pesannya jelas. Kepada para perempuan, para penulis warga, para jurnalis publik: jangan diam. Uji informasi. Tulis dengan jujur. Dan bersuaralah—dengan nyaring dan tegas.

Karena perubahan, sering kali, dimulai dari satu suara yang berani dituliskan.