Putera Ardiansyah dan Laut yang Dicintainya

  • Whatsapp
Putera Ardiansyah (dok: Istimewa)

Pada masa-masa awal, mimpinya pun masih sederhana. Ia ingin bertemu orang-orang yang memiliki kegelisahan yang sama, semangat yang sama, dan tujuan yang sama: menjaga laut. Ia ingin terhubung bukan hanya dengan pegiat lokal, tetapi juga dengan aktivis dari seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Tulisan ini merupakan output dari kegiatan Lokalatih Jurnalisme Warga, Kiat Menjadi Pewarta Warga, dan Bagian Perubahan Sosial dan Lingkungan yang dipandu oleh Rusdin Tompo, Mustamin Raga dan Muliadi Saleh.

Oleh: Arniyaty Amin

PELAKITA.ID – Laut selayaknya menjadi sahabat manusia. Ia bukan sekadar bentang biru yang indah dipandang, melainkan salah satu sumber utama kehidupan.

Dari laut, manusia belajar tentang memberi tanpa meminta, tentang bekerja tanpa lelah, dan tentang kesabaran yang sering disalahartikan sebagai kekuatan yang tak pernah habis.

Namanya Putera Ardiansyah, pemuda kelahiran 2 Juli 1994 asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia dikenal sebagai salah satu pegiat lingkungan yang mendedikasikan hidupnya untuk laut.

Seorang ayah dari dua anak, yang memilih menjadikan laut bukan hanya ruang kerja, tetapi juga ruang pengabdian.

“Sebenarnya saya bukan aktivis sejak awal,” tuturnya membuka cerita.
“Saya juga bukan orang yang paham isu lingkungan.”

Ia hanya seorang pejalan amatiran, yang gemar berjalan tanpa rencana. Namun dari perjalanan-perjalanan sederhana itulah, cintanya pada laut tumbuh perlahan. Laut memberinya rasa takjub, rasa tenang, sekaligus pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tahun 2015 menjadi titik balik hidupnya. Putera memutuskan keluar dari kampus—sebuah keputusan yang bagi banyak orang dianggap nekat. Saat itu mimpinya sederhana: memperkenalkan Polewali Mandar ke khalayak luas, menunjukkan bahwa daerah ini menyimpan keindahan yang layak dibanggakan.

Ia memilih jalan yang dekat dengan masyarakat, memadukan konservasi dengan pariwisata berkelanjutan. Baginya, orang harus terlebih dahulu mengenal dan mencintai laut sebelum mau menjaganya.

Namun di tengah perjalanan, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dari mimpinya semula.
Ia tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga luka: sampah yang berserakan, ekosistem yang rusak, dan laut yang perlahan kehilangan suaranya.

“Sejak saat itu,” katanya, “saya seperti terjebak dalam kenikmatan mencintai lingkungan. Sekali peduli, rasanya mustahil berpura-pura tidak tahu.”

Hari ini, langkah Putera berlabuh pada konservasi laut. Ia memilih jalan yang dekat dengan masyarakat, memadukan konservasi dengan pariwisata berkelanjutan. Baginya, orang harus terlebih dahulu mengenal dan mencintai laut sebelum mau menjaganya.

“Saya percaya, orang tidak akan melindungi sesuatu yang tidak pernah mereka kenal.”

Pada masa-masa awal, mimpinya pun masih sederhana. Ia ingin bertemu orang-orang yang memiliki kegelisahan yang sama, semangat yang sama, dan tujuan yang sama: menjaga laut. Ia ingin terhubung bukan hanya dengan pegiat lokal, tetapi juga dengan aktivis dari seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Ia diberangkatkan oleh NGO Diver Clean Action ke Oslo, Norwegia, untuk menghadiri Our Ocean Youth Leader Summit 2019, bagian dari Konferensi Laut Sedunia. Ia duduk bersama aktivis muda dari berbagai negara, berbagi cerita tentang laut mereka masing-masing.

Perlahan, mimpi itu dijawab. Tahun 2019 menjadi salah satu fase penting dalam hidupnya. Putera masuk lima besar saat mempresentasikan proyeknya di Indonesia Youth Marine Debris Summit 2019, bersaing dengan sekitar 50 aktivis muda dari seluruh Indonesia.

“Di ruangan itu saya merasa tidak sendiri,” kenangnya.

“Ada banyak anak muda yang sama-sama resah, sama-sama peduli, dan sama-sama berani bermimpi.”

Di tahun yang sama, ia diberangkatkan oleh NGO Diver Clean Action ke Oslo, Norwegia, untuk menghadiri Our Ocean Youth Leader Summit 2019, bagian dari Konferensi Laut Sedunia. Ia duduk bersama aktivis muda dari berbagai negara, berbagi cerita tentang laut mereka masing-masing.

“Rasanya seperti mimpi,” ujarnya, “tapi saya percaya itu adalah hadiah dari Tuhan atas keberanian saya mendedikasikan hidup pada laut.”

Mimpi lain yang dulu hanya berdiam di kepala pun mulai terwujud. Putera memimpin Laut Biru, sebuah organisasi konservasi laut yang kini telah berjalan selama delapan tahun.

Bersama timnya, mereka melakukan pelestarian mangrove, konservasi penyu, rehabilitasi terumbu karang, penanganan sampah laut, hingga pendidikan melalui sekolah laut.

Ia juga kini dikenal sebagai salah satu praktisi konservasi karang di Sulawesi Barat—bidang yang ia pelajari secara otodidak karena sebelumnya hampir tidak ada ahli di daerahnya.

Dedikasi itu berbuah pengakuan. Tahun 2024, Laut Biru menerima penghargaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai salah satu kelompok konservasi terbaik di Indonesia. Pada 2025, proyek Taman Teman Karang yang mereka gagas meraih Juara I nasional dalam lomba proyek lingkungan Telkom Sustainability.

Namun bagi Putera, pencapaian terbesar bukanlah penghargaan atau perjalanan ke luar negeri.

“Yang paling penting adalah keyakinan bahwa mimpi yang diperjuangkan dengan ketulusan, kerja keras, dan niat baik, akan selalu menemukan jalannya sendiri.”

Ia mencintai laut karena terlalu banyak orang hanya melihatnya sebagai tempat menikmati, bukan sesuatu yang harus dijaga. Orang datang ke pantai, berfoto, mengambil hasilnya, lalu pergi tanpa pernah bertanya apa yang tertinggal setelah mereka pulang.

Ia juga kini dikenal sebagai salah satu praktisi konservasi karang di Sulawesi Barat—bidang yang ia pelajari secara otodidak karena sebelumnya hampir tidak ada ahli di daerahnya.

Laut, kata Putera, bekerja setiap hari: memberi makan, memberi ruang hidup, memberi keindahan tanpa menuntut balasan. Namun justru karena itu, laut sering dianggap selalu kuat. Padahal laut bisa lelah, bisa rusak, bahkan bisa hilang jika terus dibiarkan.

Di titik itulah ia memilih berdiri di jalur yang tidak banyak orang pilih. Bukan karena ingin terlihat berbeda, tetapi karena merasa ada sesuatu yang harus dijaga, sementara terlalu sedikit yang bersedia melakukannya.

Prinsip hidupnya sederhana namun dalam: Jika semua orang ingin menikmati hasilnya, maka harus ada yang mau mengabdikan hidupnya untuk merawat sumbernya.

Jalan ini tidak selalu ramai. Sering sunyi, kadang melelahkan. Namun ia percaya, perubahan kerap lahir dari pilihan-pilihan yang sepi. Selama masih ada laut yang terluka dan orang-orang yang belum mau peduli, ia akan tetap berjalan.

Laut tidak pernah meminta manusia menjadi sempurna. Ia hanya berharap manusia tidak serakah.

Setiap ikan yang dimakan, setiap oksigen yang dihirup, setiap pantai yang dinikmati—semuanya berasal dari alam yang bekerja tanpa henti, bahkan saat manusia tidak memikirkannya.

Masalahnya, manusia terlalu sering ingin menikmati tanpa menjaga. Bangga pada keindahan, namun abai pada luka yang ditinggalkan. Padahal kerusakan lingkungan tidak pernah datang tiba-tiba; ia lahir dari kebiasaan kecil yang dibiarkan terlalu lama.

Mencintai laut, menurut Putera, tidak harus dengan langkah besar. Cukup dengan tidak merusaknya. Tidak membuang sampah sembarangan. Tidak menutup mata saat melihat ketidakadilan terhadap alam. Kepedulian kecil, jika dilakukan bersama, jauh lebih kuat daripada satu orang yang berjuang sendirian.

Karena pada akhirnya, lingkungan bukan milik aktivis, bukan pula milik negara. Ia milik semua. Laut bukan sekadar tempat bermain, melainkan ruang hidup yang menentukan masa depan anak-anak kita.

Jika hari ini kita memilih untuk peduli, itu bukan hanya menyelamatkan laut—tetapi juga menyelamatkan diri kita sendiri.

___
Arniyaty Amin, Ibu Rumah Tangga, tinggal di Makassar