Dari total 427 responden, sebanyak 111 orang tercatat sebagai perokok aktif. Tingginya proporsi aktivitas merokok di dalam rumah menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan risiko kesehatan perokok pasif.
Tulisan ini merupakan output dari Lokalatih Jurnalisme Warga Menjadi Pewarta Warga, Menjadi bagian dalam Perubahan Sosiali dan Lingkungan yang digelar oleh Pelakita.ID, 20 Januari 2026 yang dipandu oleh Rusdin Tompo, Mustamin Raga dan Muliadi Saleh.
PELAKITA.ID — Perilaku merokok di dalam rumah masih tergolong tinggi di Kelurahan Labessi, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng.
Temuan tersebut terungkap dalam kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL) yang dilaksanakan oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin di wilayah tersebut.
Hasil pendataan menunjukkan bahwa 84,7 persen rumah tangga masih melakukan aktivitas merokok di dalam rumah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan paparan asap rokok bagi anggota keluarga yang tidak merokok, terutama anak-anak dan perempuan.
Data tersebut diperoleh melalui kuesioner individu yang dikumpulkan menggunakan aplikasi KoboCollect dengan metode wawancara semi-terstruktur terhadap warga Kelurahan Labessi.
Dari total 427 responden, sebanyak 111 orang tercatat sebagai perokok aktif. Tingginya proporsi aktivitas merokok di dalam rumah menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan risiko kesehatan perokok pasif.
Temuan ini kemudian dibahas lebih lanjut dalam kegiatan diskusi bersama warga dan tokoh masyarakat yang digelar pada Rabu, 7 Januari 2026, pukul 15.00 WITA, di Kelurahan Labessi.
Diskusi tersebut melibatkan sejumlah warga, perangkat kelurahan, serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam diskusi terungkap bahwa tingginya perilaku merokok di dalam rumah dipengaruhi oleh faktor perilaku individu dan lingkungan sosial.
Merokok masih dianggap sebagai kebiasaan yang wajar oleh sebagian masyarakat.
Beberapa perokok bahkan menyampaikan bahwa merokok membuat mereka merasa lebih tenang dan membantu berpikir lebih jernih, terutama ketika menghadapi masalah.
Ketua LPMK Kelurahan Labessi menyampaikan bahwa kebiasaan merokok sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Menurutnya, perilaku tersebut kerap bermula dari ajakan atau kebiasaan melihat orang lain merokok.
“Karena di sekitarnya banyak yang merokok, akhirnya itu dianggap biasa,” ujarnya.
Ia menilai rendahnya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama perilaku merokok terus berlangsung.
Sejumlah warga yang hadir dalam diskusi juga sepakat bahwa merokok merupakan kebiasaan yang tidak mudah diubah. Perubahan, menurut mereka, hanya dapat terjadi jika disertai kemauan dari individu itu sendiri. “Kalau tidak ada kemauan dari orangnya, susah juga untuk berhenti,” ungkap salah seorang warga.
Sementara itu, bidan Puskesmas yang turut hadir menyoroti minimnya media edukasi terkait bahaya rokok, khususnya dampaknya bagi perokok pasif.
Ia menjelaskan bahwa informasi mengenai bahaya rokok saat ini masih terbatas dan umumnya hanya tersedia di lingkungan Puskesmas, sehingga belum menjangkau masyarakat secara luas.
Di sisi lain, warga menyadari bahwa peringatan bahaya rokok sebenarnya telah tercantum pada kemasan rokok, seperti risiko kematian, serangan jantung, dan kerusakan paru-paru.
Berdasarkan hasil diskusi, peringatan tersebut lebih dipahami sebagai risiko bagi perokok aktif. Dampak asap rokok terhadap anggota keluarga yang tidak merokok belum menjadi perhatian utama masyarakat.
Warga menilai bahwa upaya yang perlu dilakukan tidak hanya menghentikan kebiasaan merokok, tetapi juga mendorong kesadaran agar perilaku tersebut tidak menimbulkan dampak negatif bagi orang lain, terutama anggota keluarga di dalam rumah.
Berdasarkan hasil kuesioner dan diskusi tersebut, disepakati bahwa akar permasalahan tingginya perilaku merokok di dalam rumah di Kelurahan Labessi adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok bagi perokok pasif, serta minimnya media edukasi yang secara khusus membahas dampak asap rokok.
Oleh karena itu, upaya edukasi dan penyuluhan kesehatan perlu diarahkan pada peningkatan pemahaman perokok aktif mengenai risiko kebiasaan merokok terhadap orang-orang di sekitarnya.
Melalui penyebaran media edukasi serta kegiatan penyuluhan yang menjangkau langsung individu perokok, diharapkan pemahaman masyarakat mengenai risiko kesehatan akibat paparan asap rokok dapat meningkat.
Langkah ini diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku secara bertahap dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat di Kelurahan Labessi.
___
Penulis Aisyah Fitriani mahasiswa FKM Unhas
