Pesona Wai Tiddo, Menyusuri Air yang Menetes di Jantung Luwu

  • Whatsapp
Sumber foto Kemenparefkraf (dok: Istimewa)
  • Sungai yang mengalir di lembah bukit menjadi magnet utama. Airnya dingin, bening, dan mengundang siapa saja untuk sekadar merendam kaki, bermain air, atau duduk diam sambil membiarkan pikiran melambat.
  • Wai Tiddo Nature Resort terletak di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Bua. Nama tempat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang puitis.

PELAKITA.ID – Perjalanan menuju Wai Tiddo dimulai dengan meninggalkan hiruk-pikuk kota dan memasuki lanskap Sulawesi Selatan di Jazirah Luwu yang perlahan berubah.

Jalanan beraspal membawa kita melintasi perkampungan, sawah yang terbentang tenang, dan perbukitan yang semakin mendekat.

Sekitar satu jam perjalanan dari Belopa, ibu kota Kabupaten Luwu, udara mulai terasa lebih sejuk. Di sinilah Wai Tiddo berada—sebuah ruang alam yang seperti sengaja disembunyikan, menunggu untuk ditemukan.

Wai Tiddo Nature Resort terletak di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Bua. Nama tempat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang puitis.

Dalam bahasa Luwu, wai tiddo berarti air yang menetes. Makna itu bukan sekadar simbolik. Ia hadir nyata dalam bentuk mata air alami yang mengalir pelan dari tebing dan pepohonan, menuruni bebatuan, lalu menyatu ke sungai kecil yang jernih. Suara gemericiknya menjadi latar yang menenangkan, seolah menyambut setiap pengunjung yang datang dengan kesibukan dan penatnya masing-masing.

Wai Tiddo Resort (Google Map)

Berada di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, Wai Tiddo dikelilingi dua gugusan pegunungan hijau yang menjaga kawasan ini tetap sejuk dan teduh.

Sungai yang mengalir di lembah bukit menjadi magnet utama. Airnya dingin, bening, dan mengundang siapa saja untuk sekadar merendam kaki, bermain air, atau duduk diam sambil membiarkan pikiran melambat.

Di tempat ini, waktu terasa tidak tergesa-gesa. Banyak orang datang bukan untuk melakukan apa-apa, dan justru itu yang membuat Wai Tiddo istimewa.

Namun perjalanan ini bukan hanya tentang ketenangan. Sejak mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata pada 2019, Wai Tiddo tumbuh menjadi ruang rekreasi yang lengkap.

Di sela pepohonan dan kontur alam yang dijaga, berdiri gazebo-gazebo kayu, villa sederhana, serta aula yang sering digunakan untuk pertemuan keluarga, komunitas, atau kegiatan bersama.

Sudut-sudutnya dirancang agar tetap menyatu dengan alam, sekaligus memberi ruang bagi pengunjung untuk mengabadikan momen—tak heran jika banyak foto Wai Tiddo beredar di media sosial.

Bagi pencari adrenalin, Wai Tiddo menawarkan pengalaman yang kontras dengan ketenangannya. Flying fox membentang di atas lembah, membawa pengunjung meluncur sejauh ratusan meter dengan pemandangan hijau di bawah kaki.

Ada pula sky bike, wahana yang memacu nyali dengan mengayuh sepeda di atas lintasan tali kawat. Bagi yang menyukai tantangan darat, jalur off-road menggunakan mobil hartop atau ATV membawa sensasi petualangan menyusuri medan berbukit yang tak selalu ramah, namun memanjakan mata.

Yang membuat Wai Tiddo terasa berbeda dari destinasi wisata alam lainnya adalah keseimbangan yang ditawarkannya. Di satu sisi, alam dibiarkan berbicara dengan caranya sendiri—air, batu, dan pepohonan.

Di sisi lain, fasilitas disiapkan secukupnya agar siapa pun bisa menikmati tempat ini dengan nyaman. Area parkir luas, musholla, dan tempat makan tersedia tanpa mengganggu lanskap alami.

Ini menjadikan Wai Tiddo ramah untuk keluarga, rombongan sahabat, maupun komunitas yang ingin berkumpul tanpa kehilangan suasana alam.

Akses menuju Wai Tiddo relatif mudah. Jalanan yang sudah beraspal memungkinkan kendaraan roda dua maupun roda empat mencapai lokasi tanpa kesulitan berarti.

Justru perjalanan menuju ke sanalah yang menjadi bagian dari pengalaman—pemandangan desa dan perbukitan seperti mempersiapkan batin sebelum tiba di tujuan.

Soal biaya, Wai Tiddo tergolong bersahabat. Tiket masuknya terjangkau, sebanding dengan pengalaman yang ditawarkan.

Tempat ini juga buka setiap hari, bahkan nyaris tanpa batas waktu, memberi keleluasaan bagi pengunjung untuk datang pagi, siang, atau sore hari. Namun bagi saya, waktu terbaik menikmati Wai Tiddo adalah saat pagi menjelang siang, ketika cahaya matahari masih lembut dan udara masih menyimpan dingin pegunungan.

Musim kemarau, antara April hingga Oktober, bahkan hingga akhir tahun, adalah waktu paling ideal untuk berkunjung. Air sungai lebih jernih, cuaca cerah, dan aktivitas luar ruang terasa lebih nyaman.

Meski begitu, musim hujan pun memiliki pesonanya sendiri. Hutan menjadi lebih hijau, suara air lebih lantang, dan suasana terasa lebih liar—asal tetap waspada terhadap meningkatnya debit sungai.

Wai Tiddo bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah perjalanan kecil menuju ketenangan, ruang untuk bernapas di antara rutinitas, dan pengingat bahwa alam sering kali memberi lebih dari yang kita cari.

Air yang menetes di Wai Tiddo bukan hanya mengalir di batu dan sungai, tetapi juga perlahan menyusup ke ingatan—meninggalkan rasa ingin kembali.