Generasi muda tumbuh dikelilingi oleh format semacam ini. Mereka tidak serta-merta kurang cerdas atau kurang ingin tahu dibanding generasi sebelumnya, tetapi ekosistem yang membentuk kebiasaan mereka lebih menghargai kecepatan daripada pemikiran.
PELAKITA.ID – Di era yang didominasi oleh jempol yang terus menggulir layar dan rentang perhatian yang semakin menyempit, konten pendek telah menjadi bahasa utama komunikasi digital.
Video singkat, cuplikan acara, artikel ringkas, dan caption viral membanjiri linimasa setiap detik. Semua itu menjanjikan efisiensi, kepuasan instan, dan relevansi.
Di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran yang kian besar: konten pendek tidak membuat pembaca dan generasi muda menjadi lebih bijak, lebih kritis, atau lebih terinformasi—bahkan sering kali justru sebaliknya.
Masalahnya bukan pada keberadaan konten pendek itu sendiri. Masalahnya adalah ketika konten pendek semakin menggantikan kedalaman, refleksi, dan konteks.
Konten pendek hidup dari kecepatan dan kesegeraan. Video 30 detik, artikel 200 kata, atau carousel 10 slide dirancang untuk dikonsumsi cepat dan dilupakan sama cepatnya.
Dalam konteks acara, hal ini sering berarti visual yang menarik tetapi kosong dari substansi—kerumunan tersenyum, tepuk tangan, slogan, dan musik sinematik—sementara gagasan, perdebatan, dan kompleksitas di balik acara tersebut menghilang sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah ilusi partisipasi, bukan pemahaman.
Generasi muda tumbuh dikelilingi oleh format semacam ini. Mereka tidak serta-merta kurang cerdas atau kurang ingin tahu dibanding generasi sebelumnya, tetapi ekosistem yang membentuk kebiasaan mereka lebih menghargai kecepatan daripada pemikiran.
Algoritma mengutamakan konten yang mudah dicerna, merangsang emosi, dan mudah dibagikan. Akibatnya, para kreator terdorong untuk menyederhanakan persoalan, menghilangkan nuansa, dan menghindari hal-hal yang menuntut perhatian jangka panjang.
Salah satu dampak paling merusak dari konten pendek adalah hilangnya kesinambungan narasi. Manusia memahami dunia melalui cerita—cerita yang memiliki awal, tengah, dan akhir.
Tulisan panjang, film dokumenter, dan laporan mendalam memungkinkan gagasan berkembang secara bertahap, memperlihatkan sebab dan akibat, kontradiksi dan penyelesaian.
Konten pendek, sebaliknya, memecah realitas menjadi potongan-potongan terpisah. Ia menghadirkan momen-momen terisolasi tanpa menjelaskan bagaimana dan mengapa hal itu penting. Audiens muda mungkin tahu apa yang terjadi, tetapi jarang memahami apa maknanya.
Fragmentasi ini juga melemahkan kemampuan berpikir kritis. Ketika informasi datang dalam semburan cepat dan terputus-putus, hampir tidak ada ruang untuk mempertanyakan sumber, menguji asumsi, atau membandingkan sudut pandang. Artikel singkat jarang memiliki ruang untuk mengeksplorasi pandangan yang berseberangan.
Video pendek hampir tidak pernah menjelaskan akar struktural suatu persoalan. Lama-kelamaan, hal ini melatih audiens untuk menerima penjelasan permukaan dan bereaksi secara emosional, bukan analitis.
Video acara menjadi contoh yang sangat jelas. Banyak di antaranya diproduksi untuk “mendokumentasikan” kegiatan, tetapi yang sebenarnya didokumentasikan adalah suasana, bukan substansi.
Kamera menangkap panggung, spanduk, dan tepuk tangan—bukan dialog, perbedaan pendapat, atau proses belajar. Bagi penonton muda, acara pun berubah menjadi tontonan, bukan ruang intelektual.
Partisipasi dipahami sebagai kehadiran fisik atau visual, bukan keterlibatan pemikiran. Hadir menjadi lebih penting daripada memahami.
Artikel singkat mengalami nasib serupa. Judul menjadi produk utama, sementara isi hanya mengulang slogan atau pernyataan resmi. Konteks—baik historis, sosial, maupun politik—dilucuti. Pembaca disuguhi kesimpulan tanpa argumen, hasil tanpa proses. Ini melemahkan literasi dalam makna terdalamnya: kemampuan mengikuti gagasan kompleks secara berkelanjutan.
Ada pula dampak psikologis yang tidak kalah penting. Paparan terus-menerus terhadap konten pendek membentuk otak untuk mengharapkan stimulasi instan.
Teks panjang mulai terasa “berat”, diskusi terasa “terlalu lambat”, dan keheningan terasa mengganggu. Banyak anak muda mengaku kesulitan membaca buku, berkonsentrasi saat kuliah, atau bertahan pada satu gagasan lebih dari beberapa menit. Ini bukan kegagalan pribadi—ini adalah kegagalan struktural.
Ironisnya, semua ini terjadi ketika dunia justru semakin kompleks, bukan sebaliknya. Perubahan iklim, ketimpangan sosial, disrupsi teknologi, dan polarisasi politik tidak bisa dipahami melalui video 60 detik.
Persoalan-persoalan ini menuntut kesabaran, kesadaran historis, dan refleksi moral. Ketika generasi muda terutama disuapi konten pendek, mereka menjadi kurang siap menghadapi tantangan jangka panjang.
Namun hal ini tidak berarti generasi muda membenci kedalaman. Ketika disuguhi konten panjang yang bermakna—esai yang ditulis dengan baik, podcast, film dokumenter, atau artikel reflektif—banyak dari mereka justru terlibat secara mendalam.
Popularitas podcast berdurasi panjang, audiobook, dan esai YouTube yang mendalam membuktikan bahwa hasrat akan substansi masih ada. Yang kurang adalah dorongan, akses, dan pengakuan budaya bahwa kedalaman itu penting.
Solusinya bukan dengan meninggalkan konten pendek sepenuhnya. Format pendek bisa berfungsi sebagai gerbang, undangan, atau ringkasan. Namun ia seharusnya mengarah ke sesuatu yang lebih dalam, bukan menjadi tujuan akhir.
Video acara seharusnya disertai artikel reflektif. Berita singkat seharusnya menautkan analisis panjang. Sistem pendidikan dan platform media perlu secara aktif membela berpikir lambat sebagai keterampilan yang bernilai.
Pada akhirnya, masyarakat yang dibentuk hanya oleh konten pendek berisiko menjadi dangkal dalam penilaian dan rapuh dalam pemahaman. Generasi muda layak mendapatkan lebih dari sekadar sorotan singkat dan judul sensasional.
Mereka layak mendapatkan cerita yang berkembang, gagasan yang menantang, dan teks yang menghormati kapasitas mereka untuk berpikir.
Kedalaman bukan sesuatu yang usang. Ia adalah kebutuhan.
