Dari Literasi ke Aksi: Jurnalisme Warga dan Jalan Perubahan Sosial

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Gemini AI

Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

PELAKITA.ID – Perubahan sosial, hampir selalu bermula dari kesadaran. Kesadaran tumbuh dari literasi. Bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi membaca realitas.

Membaca ketimpangan. Membaca ketidakadilan. Membaca hal mendasar yang terlalu lama diabaikan. Di titik inilah jurnalisme warga menemukan maknanya.

Jurnalisme warga hadir bukan sebagai pesaing media arus utama, melainkan sebagai pengingat.  Bahwa realitas sosial tidak selalu berpusat di gedung-gedung redaksi, tetapi berdenyut di lorong kampung, di ruang kelas yang retak, di puskesmas yang kekurangan alat, dan di meja-meja dapur warga yang menanggung beban kebijakan. Namun, suara warga tidak serta-merta menjadi kekuatan perubahan.

Ia membutuhkan fondasi beripa literasi informasi.

Literasi adalah jembatan antara pengalaman dan pengetahuan. Tanpanya, cerita warga mudah tergelincir menjadi amarah tanpa arah, opini tanpa data, atau bahkan hoaks yang mencederai kepercayaan publik. Dengan literasi, pengalaman personal diolah menjadi narasi publik yang bertanggung jawab. Fakta diverifikasi. Konteks dipahami. Arsip dibaca. Ingatan kolektif dirawat.

Di sinilah perpustakaan, arsip, dan ruang-ruang pengetahuan publik memainkan peran strategis. Ia bukan bangunan sunyi yang menyimpan buku-buku tua, melainkan gudang ingatan sosial. Tempat warga belajar menautkan cerita hari ini dengan sejarah kemarin, agar kesalahan yang sama tidak terus diulang.

Dari literasi, jurnalisme warga bergerak ke tahap berikutnya: aksi naratif.

Menulis bagi pewarta warga bukan sekadar melaporkan apa yang terjadi, tetapi menjelaskan mengapa itu penting. Sebuah jalan rusak bukan hanya soal aspal, melainkan soal akses ekonomi dan keselamatan. Air bersih yang tak mengalir bukan sekadar masalah teknis, tetapi pelanggaran hak dasar. Di tangan pewarta warga, peristiwa kecil menjelma isu publik.

Di sinilah tulisan menjadi alat advokasi paling halus—dan sering kali paling tajam. Ia tidak berteriak, tetapi mengetuk kesadaran. Ia tidak memaksa, tetapi mempersoalkan. Ia tidak menghakimi, tetapi menghadirkan pertanyaan moral yang sulit dihindari oleh pengambil kebijakan.

Jurnalisme warga bekerja melalui empati. Ia menghadirkan manusia di balik angka. Ia memberi wajah pada statistik.
Ia mengingatkan bahwa kebijakan selalu berdampak pada tubuh dan kehidupan nyata.

Karena itu, pewarta warga sejatinya bukan penonton perubahan, melainkan agen kesadaran sosial. Ia mungkin tidak menandatangani undang-undang atau mengesahkan anggaran, tetapi ia menciptakan iklim moral yang membuat kebijakan tak bisa lagi lahir tanpa rasa malu.

Tentu, jalan ini tidak selalu mudah. Menulis untuk perubahan sering tidak viral. Kadang diabaikan. Bahkan tak jarang disalahpahami. Tetapi sejarah sosial menunjukkan satu hal penting: perubahan besar hampir selalu didahului oleh cerita-cerita kecil yang ditulis dengan kejujuran dan keberanian.

Dari literasi ke aksi, dari cerita lokal ke dampak kolektif, jurnalisme warga menegaskan satu pesan sederhana namun mendalam:
bahwa setiap warga berhak bersuara, dan setiap suara yang jujur berpeluang mengubah arah sejarah—pelan, tetapi pasti.

____
Muliadi Saleh,
Menulis Makna, Membangun Peradaban