Hidup dan karirnya sempat diuji ketika pada 2024 ia mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup serius. Masa pemulihan menjadi jeda yang tak terduga dalam kariernya. Dukungan dari keluarga, sahabat, dan para pendengar menjadi energi tersendiri. Ia bangkit perlahan, membawa kesadaran bahwa suara dan tubuh adalah anugerah yang harus dijaga.
PELAKITA.ID – Beberapa waktu lalu, di grup WAG Alumni SMP I Galesong angkatan 86, penulis menyebut nama Ashari Sitaba, siapa gerangan dirinya dan asal dari mana. Sitti Aminah, kawan alumni merespon.
“Bijangku anjo, keluarga dekat,” balasnya. Keluargaku, keluarga dekat, kata alumni Fisip Unhas angkatan 89 itu.
Pembaca sekalian, tidak bisa dipungkiri, Ashari Sitaba adalah bintang musisi asal Galesong yang fenomenal. Suaranya mengalun dari cafe ke cafe, dari resepsi ke resepsi pernikahan, bahkan khitanan pun dia diundang. Dia sudah mengisi banyak event iburan, bahkan telah eksis antarpulau di Indonesia.
Bangga dong ya? Tentu saja.
Lebih dekat Ashari ‘Dess’
Pembaca sekalian, dari pesisir Galesong, wilayah yang lautnya menyimpan ketekunan dan anginnya membawa cerita turun-temurun, lahir sebuah suara yang memilih berjalan pelan namun pasti. Suara itu bernama Ashari Sitaba.
Ia tidak datang dengan gebyar sensasi, tetapi dengan kesetiaan pada akar. Di tengah arus musik populer yang sering mengabaikan asal-usul,
Ashari justru berdiri sebagai penjaga ingatan, membuktikan bahwa lagu daerah masih memiliki ruang hidup di masa kini.
Ashari Sitaba adalah penyanyi daerah asal Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Namanya tumbuh dari panggung ke panggung, dari acara masyarakat hingga festival budaya berskala besar.
Ia dikenal lewat lagu-lagu berbahasa Bugis-Makassar yang dibalut aransemen modern, tanpa mencabut jiwanya dari tanah tempat lagu itu lahir. Dalam setiap bait yang dinyanyikan, terasa bahwa bahasa ibu bukan sekadar medium, melainkan identitas yang dijaga dengan penuh kesadaran.
Musik Ashari tidak berangkat dari imajinasi yang jauh dari realitas. Lagu-lagunya lahir dari kehidupan sehari-hari: tentang kegembiraan sederhana, tentang rindu yang tidak selalu romantis, tentang hidup yang kadang keras namun tetap layak diperjuangkan.
Salah satu lagunya yang paling dikenal, Rannu, menjadi penanda kuat perjalanan musikalnya. Lagu ini kerap dinyanyikan bersama penonton, mencairkan jarak antara panggung dan khalayak, seolah menjelma menjadi lagu milik bersama.
Penulis suka sekali lagu ini, kalau kita’?
Selain Rannu, Ashari juga dikenal melalui lagu Tallasakku, sebuah lagu yang berbicara tentang keteguhan menjalani hidup. Judulnya yang berarti “hidupku” terasa jujur dan personal.

Lagu ini tidak berteriak, tetapi menguatkan. Ada pula Tea Tonja Nipakamma, lagu yang menyentuh ruang relasi dan perasaan manusia, dibawakan dengan nada lembut namun penuh makna. Lagu-lagu ini menegaskan satu hal: Ashari tidak sekadar bernyanyi, ia bercerita.
Perjalanan karier Ashari berlangsung secara organik. Ia tumbuh bersama komunitasnya, tampil di berbagai acara budaya, hajatan masyarakat, hingga festival besar seperti Makassar International Eight Festival and Forum (F8).
Di panggung-panggung seperti itu, Ashari membawa lagu daerah ke ruang yang lebih luas, mempertemukan tradisi dengan audiens lintas generasi dan latar belakang. Lagu Bugis-Makassar yang dahulu hanya berputar di kampung, kini berdiri percaya diri di tengah sorot lampu festival.
Di luar panggung, Ashari memanfaatkan ruang digital sebagai perpanjangan suaranya. Melalui YouTube dan media sosial, ia membagikan karya, dokumentasi penampilan, serta aktivitas kesehariannya sebagai musisi.
Pilihan ini bukan sekadar strategi popularitas, melainkan cara untuk memastikan bahwa musik daerah tetap relevan dan menjangkau generasi muda yang tumbuh bersama layar gawai.
Ashari juga dikenal kerap berkolaborasi dengan pencipta lagu dan musisi lokal Sulawesi Selatan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa musik daerah hidup dalam ekosistem, bukan dalam kesendirian.
Ada dialog kreatif di sana—antara penyanyi, pencipta lagu, bahasa, dan pengalaman kolektif masyarakat. Dalam konteks ini, Ashari berperan sebagai penghubung antara tradisi dan zaman.
Perjalanannya sempat diuji ketika pada 2024 ia mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup serius. Masa pemulihan menjadi jeda yang tak terduga dalam kariernya. Namun dukungan dari keluarga, sahabat, dan para pendengar menjadi energi tersendiri.
Ia bangkit perlahan, membawa kesadaran bahwa suara dan tubuh adalah anugerah yang harus dijaga.
Yang membuat Ashari Sitaba menonjol bukan semata kualitas vokalnya, melainkan sikapnya terhadap musik. Ia tidak tergesa-gesa mengejar arus utama
Ia memilih setia pada jalur yang diyakininya: merawat bahasa daerah, menghidupkan lagu-lagu lokal, dan membiarkan musiknya tumbuh bersama waktu. Dalam lanskap budaya yang terus berubah, pilihan ini adalah bentuk keberanian.
Dari Galesong, Ashari Sitaba bernyanyi. Ia membawa serta laut, angin, dan ingatan kolektif masyarakatnya ke dalam setiap lagu.
Suaranya menjadi pengingat bahwa di tengah modernitas, selalu ada ruang untuk pulang—kepada bahasa ibu, kepada kampung halaman, dan kepada lagu-lagu yang menjaga kita tetap ingat siapa diri kita sebenarnya.
Rera Simpuang Anne Kukanyameng
Ni Taba Sanna’ PangngakkalinnuAule’
Niak Lebang Ka Nuboli’Inakke Minne Bella Ri Pangngitunnu
Tena Kamma Anjo Paccena Nyawanu
Ampa’risi Anne Pa’maikkuNuparekang Je’ne Mata Sitinriang
Pamma’risinnu….
Penulis Denun, Sorowako, 13 Januari 2026
