Jejak Patriotisme dari Pesisir Sulawesi ke Jantung Jawa, Sejarah Kerajaan dan Karaeng Galesong

  • Whatsapp
Ilustrasi Gemini AI

Ia bukan sekadar bangsawan dari Sulawesi, melainkan simbol perlawanan tanpa henti yang menyatukan semangat perjuangan dari Makassar hingga ke tanah Jawa.

“Yang menyerah hanyalah Raja Gowa, itu tidak berarti peperangan harus berakhir.”

PELAKITA.ID – Sejarah Nusantara tidak hanya ditulis di atas meja-meja perundingan, tetapi juga melalui jejak pelayaran dan dentum meriam di lautan. Salah satu narasi paling epik dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme adalah kisah Karaeng Galesong dan eksistensi Kerajaan Galesong.

Ia bukan sekadar bangsawan dari Sulawesi Selatan, melainkan simbol perlawanan tanpa henti yang menyatukan semangat perjuangan dari Makassar hingga ke tanah Jawa.

Asal-Usul Kerajaan Galesong

Secara administratif, Galesong kini terletak di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Pada abad ke-16, Galesong tumbuh sebagai kerajaan kecil yang berdaulat sebelum akhirnya menjadi bagian penting dari konfederasi Kerajaan Gowa-Tallo.

Letaknya yang strategis di pesisir barat semenanjung selatan Sulawesi menjadikan Galesong sebagai pelabuhan niaga sekaligus benteng pertahanan laut utama bagi Kesultanan Gowa. Di bawah pemerintahan Sombaya Ri Gowa (Raja Gowa),

Galesong dipersiapkan sebagai basis “pemecah ombak” pertahanan pantai. Keunggulan maritim masyarakat Galesong inilah yang nantinya melahirkan pelaut-pelaut tangguh yang ditakuti oleh VOC (Belanda).

Sosok I Maninrori: Sang Pangeran yang Tak Pernah Tunduk

Tokoh yang paling identik dengan nama ini adalah I Maninrori I Kare Tojeng Karaeng Galesong. Lahir pada 29 Maret 1655, ia disebut merupakan putra dari pahlawan nasional Sultan Hasanuddin (Ayam Jantan dari Timur).

Titik balik perjuangannya terjadi pasca penandatanganan Perjanjian Bongaya (1667). Baginya, perjanjian tersebut adalah penghinaan. Saat ayahnya terpaksa berdamai demi keselamatan rakyat Gowa, Karaeng Galesong memilih jalan pedang.

Ia mengeluarkan pernyataan legendaris yang tercatat dalam dokumen Lontara:

“Yang menyerah hanyalah Raja Gowa, itu tidak berarti peperangan harus berakhir.”

Bersama pengikut setianya dan armada laut yang kuat, ia meninggalkan Sulawesi untuk membawa bara perang ke wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda di Barat.

Aliansi Strategis di Jawa

Pelarian Karaeng Galesong bukanlah sebuah pelarian dalam arti kekalahan, melainkan pemindahan medan tempur. Pada Oktober 1671, ia mendarat di Pelabuhan Banten untuk membantu Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC. Namun, jejak terbesarnya terukir di Jawa Timur.

Di sana, ia menjalin aliansi dengan Raden Trunojoyo, seorang bangsawan Madura yang sedang memberontak melawan hegemoni Mataram (Amangkurat I) yang dianggap terlalu dekat dengan Belanda.

Untuk memperkuat aliansi ini, sebuah pernikahan politik terjadi; Karaeng Galesong menyunting keponakan Trunojoyo.

Kekuatan Armada Galesong: Data kolonial mencatat bahwa pasukan Galesong terdiri dari sekitar 800 orang Makassar, 300 orang Bugis, dan seribuan pelaut Melayu.

Dengan 150 perahu perang, mereka menghancurkan kota-kota pesisir seperti Gresik, Surabaya, dan Tuban, yang saat itu menjadi urat nadi ekonomi Mataram dan VOC.

Puncak Kejayaan: Jatuhnya Keraton Plered

Kolaborasi antara taktik gerilya laut Galesong dan serangan darat Trunojoyo mencapai puncaknya pada tahun 1677. Mereka berhasil merebut Keraton Plered, ibu kota Mataram.

Kejadian ini memaksa Amangkurat I melarikan diri hingga wafat dalam pelariannya.

Peristiwa ini mengguncang tatanan politik di Jawa dan membuktikan bahwa kekuatan dari Sulawesi mampu mengubah jalannya sejarah di tanah Jawa.

Meskipun meraih kemenangan besar, perselisihan internal dan tekanan besar dari pasukan gabungan VOC serta Amangkurat II mulai melemahkan posisi pemberontak.

Karaeng Galesong kemudian membangun basis pertahanan terakhir di wilayah pegunungan yang terisolasi, yaitu Ngantang (sekarang masuk wilayah Kabupaten Malang).

Sayangnya, sebelum peperangan benar-benar berakhir, sang laksamana jatuh sakit. Beliau wafat pada 21 November 1679. Kematiannya menjadi pukulan telak bagi perjuangan Trunojoyo, karena kehilangan sayap militer maritim yang paling tangguh.

Di beberapa cerita Karaeng dikabarkan dikhianati beberapa anggota pasukannya, namun ini masih belum jelas rujukannya.

Jejak Budaya dan Warisan Sejarah

Hingga saat ini, makam Karaeng Galesong di Ngantang menjadi situs sejarah penting yang sering diziarahi oleh masyarakat, termasuk tokoh-tokoh besar seperti Jusuf Kalla. Makam ini bukan hanya sekadar pusara, tetapi bukti nyata adanya “diplomasi darah” antara masyarakat Sulawesi dan Jawa dalam melawan penjajahan.

Di Sulawesi Selatan sendiri, nama Galesong tetap harum sebagai simbol keberanian. Tradisi bahari dan kebanggaan akan identitas sebagai keturunan pelaut pejuang tetap terjaga di tengah masyarakat Takalar.

Pembaca sekalian, jejak Kerajaan dan Raja Galesong mengajarkan kita bahwa semangat kemerdekaan tidak mengenal batas geografis.

Karaeng Galesong membuktikan bahwa siri’ (harga diri) seorang pejuang Makassar akan tetap menyala meskipun ia berada ribuan mil dari tanah kelahirannya. Ia bukan hanya pahlawan bagi orang Makassar, tetapi pahlawan bagi Nusantara yang berani menantang tirani di masa paling gelap sejarah bangsa.

Begitulah sejumlah catatan sejarah menulis perjuangan Karaeng, sosodara anda informasi tambahan?

(Dari Berbagai Sumber)