Oleh: Muliadi Saleh – Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin bukanlah sekadar agenda rutin lima tahunan. Ia adalah jeda sejarah dan simpul waktu, di mana masa lalu, hari ini, dan masa depan Unhas saling berhadapan.
Pada momen seperti itulah, pertanyaan paling penting bukan siapa yang terpilih, melainkan: ke mana Unhas hendak dibawa?
Tahun 2030 kerap disebut dalam berbagai dokumen strategis kampus sebagai horizon harapan. Kampus berkelas dunia, riset bereputasi internasional, lulusan berdaya saing global. Tetapi visi, sebagus apa pun, hanya akan menjadi poster dinding jika tidak ditopang oleh kepemimpinan yang memiliki keberanian intelektual dan kejernihan nurani.
Internasionalisasi, misalnya,terkadang dipahami sebatas peringkat dan kolaborasi luar negeri.
Padahal, internasionalisasi sejati adalah kemampuan kampus berdialog setara dengan dunia tanpa kehilangan akar lokalnya.
Unhas tidak boleh menjadi universitas yang tercerabut dari Sulawesi, dari Indonesia Timur, dari Indonesia dan dari problem konkret masyarakatnya. Justru dari keberpihakan pada persoalan itulah Unhas bisa berbicara ke dunia dengan suara yang otentik.
Di titik inilah pilrek menjadi krusial. Rektor bukan sekadar manajer anggaran atau pengumpul indikator kinerja. Ia adalah penjaga arah. Ia menentukan apakah internasionalisasi akan menjadi jalan pembebasan ilmu, atau justru jebakan komersialisasi pengetahuan.
Yang juga dipertaruhkan adalah keadilan akademik. Kampus yang besar bukan hanya diukur dari gedung megah dan jurnal bereputasi, tetapi dari rasa keadilan yang hidup di antara dosen, peneliti, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.
Apakah kerja akademik dihargai secara proporsional? Apakah birokrasi melayani ilmu, atau ilmu dikorbankan demi birokrasi?
Pilrek seharusnya menjadi ruang evaluasi bersama atas problem mendasar yang sering disenyapkan: yakni beban administrasi dosen, ketimpangan akses riset, suara akademik yang kerap kalah oleh kepentingan non-akademik.
Unhas 2030 membutuhkan pemimpin yang berani menata ulang ekosistem ini dengan adil, bukan sekadar rapi di atas kertas.
Lebih dari itu, yang paling substansial dan menentukan adalah keberpihakan pada ilmu.
Di era ketika kampus mudah tergoda oleh proyek, ranking, dan popularitas, ilmu pengetahuan sering terdesak menjadi alat, bukan tujuan.
Padahal universitas lahir untuk menjaga api keingintahuan, kebebasan berpikir, dan keberanian berbeda pendapat.
Pilrek adalah ujian apakah Unhas masih setia pada mandat dasarnya sebagai rumah ilmu, atau perlahan bergeser menjadi korporasi pengetahuan yang dingin dan transaksional.
Tanggal pemilihan mungkin hanya satu hari, tetapi dampaknya menjalar panjang. Keputusan hari ini akan menentukan apakah Unhas 2030 menjadi mercusuar intelektual dari Timur Indonesia, atau sekadar kampus besar yang kehilangan jiwa.
Karena itu, pilrek bukan urusan elite semata. Ia adalah urusan peradaban kampus. Dan pada setiap peradaban, arah selalu ditentukan oleh pemimpin yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berpihak—pada ilmu, pada keadilan, dan pada masa depan.
Penulis
Muliadi Saleh
