Takdir Kadir di Nusa Jauh

  • Whatsapp
Ilustrasi anak buah kapal (dok: Gemini AI)

“Kopranya sedikit,” kata Kadir, seolah meminta maklum. Mereka masih beruntung. Sepuluh penumpang ikut menyeberang, masing-masing membayar seratus ribu rupiah. Setidaknya bisa menutup sebagian biaya solar—dua drum penuh—untuk pelayaran selama 18 hingga 20 jam menembus Laut Flores.

PELAKITA.ID – Laut sedang tenang pada senja yang temaram. Di kaki langit, awan berserak memantulkan warna merah tembaga, membingkai Pulau Selayar pada 2 Juni 2010, ketika matahari perlahan beranjak ke peraduannya.

Saya baru saja merekam beberapa momen di sekitar Dermaga Benteng. Kamera Nikon kesayangan masih menggantung di leher. Saat hendak kembali ke penginapan, pandangan saya tertambat pada seorang lelaki berbaju kaos putih yang bersandar pada tiang di sisi kanan sebuah perahu kayu bercat putih pucat.

Wajahnya samar dalam cahaya senja. Saya mendekat dan menyapanya.

“Kapal dari mana, Pak?” tanya saya, sambil menunjuk badan kapal.

“Dari Kalao Toa,” jawabnya singkat.

Kalao Toa adalah pulau di ujung tenggara Kabupaten Kepulauan Selayar, bertetangga dengan Pulau Madu dan Kakabia, berada di antara Sulawesi Tenggara dan bentangan Laut Flores yang luas.

Saya memuji kapalnya yang besar, bersandar di sisi utara dermaga Kota Benteng. Ia tetap duduk di tepi geladak. Maka saya pun jongkok, memilih posisi setara untuk menatapnya—agar cerita mengalir tanpa jarak.

Namanya Abdul Kadir, 30 tahun. Bersama tiga orang anak buah kapal dan seorang nakhoda bernama Sanusi, mereka tiba sehari sebelumnya, 1 Juni 2010, dari Kalao Toa. Muatan mereka lima ton kopra—jumlah yang kecil jika dibandingkan daya angkut kapal yang bisa mencapai 35 ton.

“Kopranya sedikit,” kata Kadir, seolah meminta maklum. Namun mereka masih beruntung. Sepuluh penumpang ikut menyeberang, masing-masing membayar seratus ribu rupiah. Setidaknya bisa menutup sebagian biaya solar—dua drum penuh—untuk pelayaran selama 18 hingga 20 jam menembus Laut Flores.

Sudah dua tahun Kadir menjadi ABK di kapal ini. Ia lahir dari ayah asal Buton dan ibu dari Selayar. Kini ia tinggal di Desa Kalao Toa bersama istrinya, Mulyana, dan seorang anak lelaki bernama Edwin yang baru berusia satu tahun.

Kadir adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Pendidikan formalnya terhenti di kelas dua sekolah dasar. Satu kakak perempuannya menikah dengan lelaki asal Pulau Buton. Ayahnya bernama Idris. Kadir lahir pada 1980—tahun-tahun ketika laut masih menjadi jalan hidup utama bagi banyak orang di pulau-pulau jauh.

Kalao Toa dikenal sebagai pulau yang dihuni warga keturunan Buton dan Selayar, terutama dari Kampung Tajuiyya dan Tanete. Selain menjadi ABK, Kadir juga mengurus beberapa petak kebun kelapa dan jagung. Pulau itu luas, namun belum seluruhnya dimanfaatkan. Kelapa dan jagung tetap menjadi tumpuan ekonomi utama warganya.

Ada satu kisah menarik yang ia bagikan tentang pengalamannya berlayar.

Kadir pernah mengarungi laut hingga Kupang, Kendari, bahkan Singapura. Tahun 1992, ia ikut berlayar bersama nakhoda Haji Ramli—kini telah almarhum. Dalam setahun, ia dua kali menempuh perjalanan ke negeri seberang itu sebagai kru kapal pengangkut rotan dari Sulawesi Tenggara.

Rute pelayaran mereka panjang: dari Kendari menuju Surabaya, lalu Belitung, Tanjung Pinang, melintasi Batam, hingga akhirnya Singapura. Tiga belas hari di laut. Setelah bongkar muatan rotan, mereka menunggu selama lima belas hari untuk mendapatkan muatan balik.

Saat itu, bisnis pakaian bekas—cap karung atau cakar—sedang berjaya. Dari Singapura, mereka membawa bal-bal pakaian bekas. “Kami sempat diperiksa polisi, tapi tidak dipersulit,” kenang Kadir.

Muatan itu tidak berhenti di Kalao Toa. Kapal Haji Ramli juga menargetkan Pammana—sebuah wilayah di Flores yang pada dekade 1990-an dikenal sebagai pusat distribusi pakaian bekas. Dari Kalao Toa ke Pammana, perjalanan ditempuh sekitar sepuluh jam.

Selama satu bulan setengah pelayaran, upah yang Kadir terima enam ratus ribu rupiah. “Waktu itu saya belum menikah,” katanya lirih, seolah sedang membuka kembali lembaran hidup yang jauh.

Kini, selain menjaga kapal, ia kembali ke kebun. Mengolah tanah, menunggu musim, berharap pada laut dan darat sekaligus.

Kadir adalah potret warga pulau—mereka yang menggantungkan hidup pada arus ekonomi pulau-pulau jauh, sembari berusaha bertahan di tanah kelahiran dengan apa yang tersedia. Pelaut sekaligus petani. Pengembara sekaligus penjaga kampung.

Entah apa yang akan mereka muat saat kembali ke Kalao Toa. Kadir pun belum tahu.

“Belum ada muatan,” katanya.

Senja kian gelap di Dermaga Benteng. Kapal-kapal terdiam. Laut tetap tenang. Dan hidup, seperti biasa, terus menunggu untuk dilayari.

Benteng, 2 Juni 2010