Saat Jintu Memilih Sendiri

  • Whatsapp
Ilustrasi Daeng Jintu (dok: Istimewa)

Sejak suaminya meninggal dunia akibat sakit paru-paru, Jintu memilih hidup sendiri. Ia memiliki empat anak, enam belas cucu, bahkan enam cucu buyut—yang dalam bahasa Makassar disebut cucu kulantu. Keempat anaknya kini tinggal di beberapa kabupaten di selatan Makassar.

PELAKITA.ID – Pagi itu, jarum jam menunjukkan pukul 07.30. Bersama kedua anak saya, Intan dan Donnie, kami baru saja kembali dari jalan pagi di sekitar pusat instalasi penjernihan air Somba Opu, di poros Jalan Malino, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Udara masih segar, dan anak-anak sempat berfoto di depan area PDAM. Namun keceriaan mereka sedikit terusik ketika niat memotret di dekat air mancur kompleks ditolak petugas keamanan. Alasannya sederhana dan formal: harus ada izin pimpinan.

Kami pun melanjutkan langkah pulang menuju kompleks perumahan.

Di sebuah pos ronda kecil—lebarnya tak lebih dari dua meter, dengan satu anak tangga di sisi kiri jalan—saya melihat seorang perempuan tua duduk santai. Ia mengenakan rok merah hati yang mulai kusam dan baju ungu.

Di samping kirinya ada kotak plastik berisi kue. Awalnya saya ingin memotretnya, tetapi niat itu saya urungkan. Rasanya, berbincang langsung jauh lebih bermakna.

Perempuan itu—dengan penutup kepala khas—sedang memilah uang receh dan uang kertas. Uang perak dan putih. Ia duduk dengan kaki kiri dilipat di atas paha, jemarinya sibuk menggeser lembar demi lembar uang dengan gerakan tenang. Sangat santai, seolah waktu tidak sedang mengejarnya.

“Pas lima puluh ribu rupiah,” katanya, ketika saya bertanya berapa hasil jualannya pagi itu.

Namanya Jintu. Orang-orang biasa memanggilnya Daeng Jintu. Sudah lima tahun terakhir ia mondar-mandir antara rumahnya di Jalan Matahari, Kallongtala, dan kompleks perumahan Nusa Tamarunang, Somba Opu, Gowa. Ia tinggal di belakang rumah sakit terbesar di Kabupaten Gowa.

“Bukan rumah yang layak,” katanya pelan. “Saya menumpang di sela rumah dan pagar orang lain.”

Sejak suaminya meninggal dunia akibat sakit paru-paru, Jintu memilih hidup sendiri. Ia memiliki empat anak, enam belas cucu, bahkan enam cucu buyut—yang dalam bahasa Makassar disebut cucu kulantu. Keempat anaknya kini tinggal di beberapa kabupaten di selatan Makassar. Suaminya orang Bugis, sementara Jintu lahir dan besar di Kampung Samata, Gowa. Usianya, menurut pengakuannya, sudah 75 tahun.

Salah satu alasan ia memilih tinggal sendiri terdengar sederhana, tapi tegas.
“Saya mau berusaha sendiri,” ujarnya. “Meski harus menumpang di pekarangan orang. Rumahnya memang tidak layak, tapi saya ingin berusaha sendiri.”

Di usia yang tak lagi muda, wajah Jintu masih terlihat kencang. Keriput hanya tampak jelas di sekitar matanya. Pipi dan dagunya masih licin. Ia mengaku gemar berjalan kaki sejak muda, sejak masih tinggal di Samata, puluhan tahun lalu.

Hari itu ia membawa lima puluh kue. Dari setiap kue seharga Rp750, ia memperoleh upah Rp250. Artinya, jika semua habis, ia membawa pulang sepuluh ribu rupiah—di luar rezeki tambahan. Pagi itu masih tersisa sepuluh kue di kotaknya. Pembuat kue, katanya, adalah kakak-beradik yang kuliah di IKIP—yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Makassar.

Ia berangkat dari rumah setelah salat Subuh. Jarak tempuhnya sekitar empat kilometer sekali jalan—delapan kilometer pulang pergi—ditempuh dengan kaki telanjang. Setelah memilah uang hasil jualan, Jintu bersiap melanjutkan langkah.

“E… eee… dona’… putu… dadarak…”
Teriakannya kembali menggema di jalan kompleks.

Masih ada lima kue putu, enam dadar gulung, beberapa donat, dan sebungkus beras dalam plastik putih—pemberian cuma-cuma dari pelanggan. Dengan tubuh semampai dan langkah ringan, Jintu berbelok ke arah barat kompleks perumahan.

Sepertinya, di usia rentanya ini, Jintu percaya bahwa rezeki dan masa depan memang harus terus dijajal—dengan caranya sendiri.

Makassar, 6 Juli 2010