“Ada kawasan namanya TOSIBA—singkatan dari Tondong, Sinjai, Balangnipa,” katanya sambil tersenyum. Menurut perkiraannya, sekitar 80 persen penduduk Kolaka adalah pendatang dari Sulawesi Selatan. Warga asli setempat dikenal sebagai suku Tolaki atau Mengkongga, yang juga berkebun meski tidak sebanyak pendatang.
PELAKITA.ID – Di Makassar, media arus utama relatif jarang menyorot kisah sukses para perantau asal Sulawesi Selatan di daerah tetangga seperti Sulawesi Tenggara atau Sulawesi Tengah. Cerita mereka dianggap biasa, kurang sensasional.
Sorotan lebih sering diarahkan pada perantau yang sukses di Jakarta, Surabaya, Kalimantan, Batam, bahkan negeri jiran.
Padahal, jika kita sedikit melongok ke tenggara Pulau Sulawesi, jejak dan kiprah para perantau Bugis-Makassar justru tampak sangat nyata—baik di etalase ekonomi maupun di panggung politik lokal.
Mereka adalah para pekerja ulet: pekebun, nelayan, pedagang, hingga tokoh masyarakat yang meninggalkan kampung halaman demi membuka lahan hidup di seberang. Banyak dari mereka memulai dari nol, menahan pahit di awal, lalu memetik hasil bertahun-tahun kemudian.
Dalam perjalanan menuju Kota Watampone, saya berkenalan dengan seorang pekebun kakao sukses dari Kolaka, Sulawesi Tenggara. Setidaknya, itu terlihat dari luas lahan yang dikelolanya dan predikat haji yang disandangnya.
Namanya Haji Kahar, perantau asal Camba, Maros. Haji Kahar bercerita bahwa di Kolaka, jumlah warga Bugis-Makassar sangat dominan. Nama-nama kampung pun akrab di telinga orang Sulawesi Selatan.
“Ada kawasan namanya TOSIBA—singkatan dari Tondong, Sinjai, Balangnipa,” katanya sambil tersenyum. Menurut perkiraannya, sekitar 80 persen penduduk Kolaka adalah pendatang dari Sulawesi Selatan. Warga asli setempat dikenal sebagai suku Tolaki atau Mengkongga, yang juga berkebun meski tidak sebanyak pendatang.
Ia menambahkan, struktur politik di Kolaka pun mencerminkan kuatnya peran perantau. “Bupati Kolaka sekarang orang Soppeng. Bupati Kolaka Utara orang Bone,” ujarnya. Saat itu Haji Kahar sedang pulang ke Camba karena orang tuanya wafat.
Lahir dan besar di Camba, Haji Kahar kini menetap di Kolaka sebagai pekebun kakao. Usaha ini telah digelutinya sejak awal 1980-an. Ia mulai membeli dan membuka lahan pada masa itu, ketika harga tanah masih sangat murah.
“Dulu harga lahan cuma seratus ribu rupiah per hektar. Tapi buka lahan itu berat, semak belukarnya padat,” kenangnya.
Kakao menjadi sumber penghidupan sekaligus semangat hidupnya hingga usia senja. Ia paham betul bahwa harga kakao fluktuatif dan sulit diprediksi. Tahun 1997 menjadi masa emas.
“Waktu krisis, harga kakao tembus Rp24 ribu per kilo. Banyak pekebun naik haji karena ekspor sangat tinggi,” tuturnya. Pada 2009, harga kembali melonjak hingga Rp27 ribu per kilo, meski rata-rata stabil di kisaran Rp20 ribu.
Saat ini, harga kakao di tingkat petani Kolaka berkisar antara Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per kilo. “Sekarang kita harus lebih telaten dan rajin. Tantangannya juga makin berat,” katanya.
Serangan penyakit seperti kanker batang dan busuk buah telah menurunkan produksi. Jika dulu satu hektar bisa menghasilkan 300–500 kilogram kakao kering, kini hasilnya jauh berkurang.
Untuk menyiasatinya, Haji Kahar mengatur pola panen dan perawatan kebun.
Pemangkasan rutin, pengaturan waktu panen—terutama Februari hingga Maret—menjadi strategi bertahan. Kini ia mengelola sekitar 10 hektar kebun kakao di Kolaka Utara, dibantu anggota keluarga dan beberapa pekerja dengan sistem bagi hasil.
“Panen biasanya dua kali sebulan. Satu hektar bisa hasilkan sekitar enam juta rupiah kotor,” jelasnya, meski ia mengakui produksi tidak lagi stabil seperti dulu. Logat Maros masih kental terdengar dalam ucapannya.
Haji Kahar menunaikan ibadah haji pertama pada 1979, saat masih tinggal di Camba. Tiga puluh tahun kemudian, pada 2009, ia kembali menunaikan haji untuk kedua kalinya. Kini ia bermukim di Samaturu, Kabupaten Kolaka, bersama keluarganya.
Kunjungannya ke Camba kali ini hanya singkat. Setelah itu, ia akan menyeberang menggunakan feri dari Bajoe, Bone, menuju Kolaka—perjalanan sekitar sepuluh jam—lalu melanjutkan dengan mobil ke rumahnya.
Dari kebun kakao itulah Haji Kahar menyekolahkan anak-anaknya. Sebagian anaknya bahkan telah memiliki kebun sendiri. “Ada juga yang kuliah, tapi tetap mau berkebun.
Anak saya yang kelima sekarang bangun rumah di Sudiang, Makassar,” katanya sebelum kami berpisah.
Kisah Haji Kahar adalah potret perantauan Bugis-Makassar: kerja keras, ketekunan, dan keberanian membaca peluang.
Dari kakao, ia bukan hanya membangun kehidupan keluarga, tetapi juga menginspirasi warga kampungnya di Camba untuk mengikuti jejak serupa—berhijrah, berkebun, dan bertahan di tanah seberang.
Penulis Denun
Watampone, 26 Oktober 2010
