Pallae, Desa Unik dari Ruas Cenrana

  • Whatsapp
Ilustrasi AI

Dahulu Pallae dikenal sebagai sentra peternak itik. Kini jumlahnya berkurang karena banyak itik dijual untuk konsumsi. Sebagian perempuan desa masih menganyam tappere ampellang, tikar dari rumput liar yang tumbuh di empang tradisional.

PELAKITA.ID – Berkunjung ke Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, selalu menghadirkan rasa menyenangkan. Sejak tiga tahun terakhir, saya telah belasan kali menginjakkan kaki di tanah kelahiran Jusuf Kalla ini—tanah para tokoh besar seperti La Tenritatta Arung Palakka dan Jenderal M. Joesoef.

Bone adalah perpaduan lanskap pesisir timur Sulawesi yang eksotik dengan perbukitan landai nan hijau. Dari wilayah inilah denyut pelayaran menuju Sulawesi Tenggara dan Indonesia Timur berputar setiap hari melalui Pelabuhan Bajoe.

Ratusan anak sungai mengalir menuju Teluk Bone, menyusuri lekuk bukit dan dataran rendah. Sungai-sungai inilah yang menjadi ruang hidup kampung-kampung tua, tempat warga bertahan dari waktu ke waktu.

Perjalanan menuju Watampone dari Makassar sendiri sudah menjadi pengalaman visual: Maros, Bantimurung, Camba—dengan bukit kapur yang menyimpan jejak dasar laut purba—hingga akhirnya tiba di pusat kota Bone sekitar empat jam kemudian.

Di Camba, kami biasa mengaso. Jagung rebus, kopi hangat, dan hamparan lembah hijau menjadi jeda sebelum perjalanan berakhir.

Sore itu kami menginap di Hotel Mario Pulana, hotel kecil berarsitektur Bugis yang lebih menyerupai rumah tinggal, hangat dan bersahaja.

Bersama saya ada beberapa kolega: Ashar Karateng, Yohannes Ghewa dari Kupang, Ruslan Situju dari Kendari, serta pimpinan kami, Sakuma Hiroyuki, warga negara Jepang.

Dimensi Pallae

Hari ketiga, kami bergerak menuju Kecamatan Cenrana. Sekitar 30 menit dari Watampone, kami tiba di Desa Pallae—sebuah desa yang unik karena hidup di pelukan anak Sungai Cenrana.

“Di sini mayoritas warga petani, nelayan, dan peternak,” kata Sirajuddin, warga setempat yang kami temui sehari sebelumnya.

Ia menjelaskan tentang “sawah empang”—lahan yang saat musim hujan ditanami padi, dan saat kemarau berubah menjadi tambak udang dan ikan karena airnya asin.

Heriyanto, pemuda desa, menambahkan cerita lain. Dahulu Pallae dikenal sebagai sentra peternak itik.

Kini jumlahnya berkurang karena banyak itik dijual untuk konsumsi. Sebagian perempuan desa masih menganyam tappere ampellang, tikar dari rumput liar yang tumbuh di empang tradisional.

Yang paling menarik, kata Heriyanto, adalah “perahu berenang di kolong rumah”. Banyak rumah panggung di Pallae menyimpan sampan di bawah kolong, karena kampung ini dikelilingi anak sungai yang kerap meluap.

Secara sosial-budaya, Pallae dikenal sebagai desa yang masih mempertahankan perkawinan antar kerabat dekat. “Hampir semua orang Pallae menikah dengan keluarga sendiri,” kata Sirajuddin. Perkawinan lintas kampung tergolong jarang.

Desa ini juga dikenal religius, dengan banyak warganya alumni pesantren As’adiyah Sengkang.

Denyut desa

Tanggal 25 Oktober 2011, di bawah terik matahari, kami disambut Kepala Desa Pallae, Andi Muhammad Yusuf, bersama Sekretaris Desa Haji Kamaruddin. Desa ini terdiri dari tiga dusun: Pallae, Maruwung Watu, dan Waeluwu, dengan jumlah penduduk sekitar 1.285 jiwa.

Secara administratif, Pallae berdiri pada 1987 sebagai pemekaran dari Desa Watu.

Menurut Sekdes, banyak warga menjadi buruh tani karena lahan pertanian dimiliki orang luar.

Sejarah kepemilikan tanah ini berkaitan dengan Raja Bone ke-16, La Patau Petta Wellulue, yang dahulu menguasai wilayah tersebut sebelum akhirnya terbagi-bagi. Desa ini juga kerap terdampak luapan Danau Tempe di Kabupaten Wajo.

“Kalau danau meluap, imbasnya sampai ke sini,” ujar Supriadi, aparat desa.

Menelusuri jalan desa yang masih berupa pengerasan batu, kami menyaksikan sawah tergenang air dan anak sungai yang mulai penuh. Oktober adalah masa air naik.

Menurut peta, Salo Pallae adalah salah satu anak Sungai Cenrana yang menghidupi desa ini.

Di ujung sungai kecil Dusun Pallae, saya bertemu Andi Amrul Muh. Yasir dan Andi Mukbil, dua bocah kelas satu SD yang bermain di tepi air.

Tak jauh dari mereka, seorang pemuda mengecat sampan. Tiga perahu tertambat di batang kelapa. Itik-itik berenang riuh, mengibaskan sayap, memenuhi udara dengan suara kehidupan.

Dalam radius seratus meter, kehidupan desa terbentang: empang, kandang itik, pohon sukun, kelapa, pisang, mangga, dan rumah-rumah panggung—sebagian besar dicat kuning. Ada semacam “kuningisasi” rumah warga.

Salah satunya rumah Andi Mata, berdinding kuning dengan kombinasi hijau muda.

Warga memanfaatkan lahan antara April–Oktober untuk sawah, dan Oktober–April untuk budidaya kepiting. Sungai menjadi urat nadi: mengairi empang, memberi minum ternak, menopang pangan, dan menjadi jalur perahu.

Sungai sebagai Masa Depan

Dari Pallae, kita belajar bahwa masa depan desa bertumpu pada air. Pada sungai dan anak-anak sungai tempat warga menyambung hidup. Di sanalah anak-anak belajar membaca alam, di sanalah sampan ditambatkan, dan di sanalah harapan dilabuhkan.

Satu-satunya kecemasan warga adalah jika Danau Tempe kembali meluap dan mengirim banjir bandang. Di luar itu, Pallae adalah desa subur—tenang, cukup, dan bersahabat dengan alam.


Penulis Denun

Sungguminasa, 10 November 2011