Menghambat Laju Entropi, Kisah Sharlini Putri dan Misi Menjaga Biodiversitas Indonesia

  • Whatsapp
Sharlini Putri, CEO dan Co-founder Nusantics

“Entropi akan selalu meningkat. Dunia ini memang dirancang untuk menuju kekacauan, dan pada akhirnya, akan berakhir.” Kalimat pembuka dari Hukum Kedua Termodinamika ini terdengar fatalistik, namun bagi Sharlini Putri, CEO dan Co-founder Nusantics, konsep ini justru menjadi kompas hidup yang menuntunnya pada misi kemanusiaan melalui sains genomik.

PELAKITA.ID – Kisah Sharlini bukan sekadar perjalanan karier seorang insinyur, melainkan sebuah narasi tentang bagaimana nilai keluarga, pendidikan multidisiplin, dan krisis global dapat membentuk solusi masa depan bagi keberlanjutan bumi.

Benih Kebebasan Berpikir dan Paradoks Parenting

Lahir di Jakarta pada tahun 1987, Sharlini tumbuh dalam ekosistem keluarga yang unik. Ibunya adalah seorang peneliti laser dan elektronika otomotif di Universitas Indonesia (UI) yang liberal dan penganut kebebasan berpikir. Sebaliknya, ayahnya adalah sosok konvensional, sistematis, dan ahli dalam pengkodean (coding).

Masa kecil Sharlini dihabiskan di laboratorium ibunya. Saat anak lain bermain di taman, Sharlini kecil sudah terbiasa melihat ibunya meneliti konsentrasi plankton atau menuangkan Nitrogen cair.

“Ibu saya tidak pernah memperlakukan anak-anaknya seperti anak kecil. Dia menyejajarkan posisi orang. Dia sering meminta bantuan saya untuk menuangkan cairan ke dalam tabung, dan itu sangat mengagumkan bagi saya,” kenang Sharlini.

Ketertarikannya pada sains diperkuat oleh sang nenek yang lahir tahun 1925 dan lulusan sekolah Belanda (HBS). Sang nenek tidak mengajarkan sejarah sebagai hafalan “apa”, melainkan “mengapa”—sebuah metode berpikir kritis yang kemudian ia terapkan saat menempuh pendidikan Teknik Kimia di ITB dan meraih gelar Master di Imperial College London.

Entropi, Monotoni, dan Ironi Teknik Kimia

Salah satu titik balik pemikiran Sharlini adalah saat ia mendalami mata kuliah Termodinamika. Ia menyadari sebuah ironi dalam dunia industri: manusia, dengan segala kepintarannya, memiliki kecenderungan untuk mengontrol dan menciptakan monotoni.

Dalam industri, proses dibuat seragam untuk efisiensi ekonomi. Namun, Sharlini melihat bahwa semakin monoton sebuah proses, semakin sulit limbahnya dicerna oleh alam. Alam membutuhkan keberagaman (diversitas) untuk melakukan dekomposisi secara sempurna.

“Teknologi sering kali memotong siklus alam demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Akibatnya, entropi meningkat dan bumi menjadi kurang layak huni bagi manusia,” jelasnya. Di sinilah Sharlini menemukan true calling-nya: Menghambat laju entropi dengan menjaga diversitas dan biodiversitas.

Nusantics: Membuka Gerbang Genomik lewat Kecantikan

Bersama rekan-rekannya yang ahli di bidang Bioinformatics dan Biomedical Engineering, Sharlini mendirikan Nusantics. Genomik adalah bidang yang belum populer di Indonesia, sehingga Sharlini harus mencari cara agar sains yang rumit ini dapat diterima masyarakat.

Pintu masuknya adalah industri kecantikan. Nusantics mengedukasi masyarakat bahwa kulit wajah manusia adalah sebuah ekosistem yang terdiri dari bakteri, jamur, dan virus. Penggunaan skincare yang berlebihan dan gaya hidup yang tidak sehat justru menciptakan ketidakseimbangan (dysbiosis).

Dengan melakukan pemeriksaan genomik pada mikrobioma kulit, orang mulai menyadari bahwa pola makan dan gaya hidup jauh lebih penting daripada sekadar produk kosmetik.

Diplomasi PCR dan Pandemi sebagai Pengingat

Saat pandemi COVID-19 melanda, Nusantics tidak tinggal diam. Meskipun awalnya memiliki hubungan “benci tapi rindu” dengan birokrasi, Sharlini dan timnya menawarkan diri untuk bergabung dalam gugus tugas BPPT.

Mereka berhasil memproduksi alat tes PCR buatan dalam negeri yang sangat dibutuhkan saat itu.

Pandemi ini bagi Sharlini adalah sebuah pengingat keras tentang pentingnya biodiversitas. Ia menjelaskan bahwa imunitas manusia sangat bergantung pada keragaman mikrobioma di dalam usus.

Semakin beragam makanan alami yang kita konsumsi, semakin kuat sistem imun kita dalam menghadapi mutasi virus yang bergerak secara eksponensial.

Menatap Masa Depan: Optimisme Genomik

Meskipun memahami hukum entropi yang membawa pada kekacauan, Sharlini tetap optimis. Dengan teknologi pengurutan genom (genome sequencing) yang semakin murah, manusia kini memiliki alat untuk mengukur tingkat biodiversitas dalam tubuh maupun ekosistem mereka.

“Mengapa kita harus belajar sejarah? Mengapa kita harus peduli pada mikrobioma? Agar kita tidak menjadi manusia yang abai (ignorant),” tegasnya.

Sharlini Putri membuktikan bahwa menjadi seorang ilmuwan bukan hanya tentang bekerja di lab, tapi tentang bagaimana menerjemahkan bahasa alam menjadi aksi nyata.

Lewat Nusantics, ia mengajak kita kembali ke kesederhanaan: menghargai keberagaman, menjaga pola makan alami, dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari sebuah alam semesta yang luas—sebagai individu yang sekaligus merupakan sebuah ekosistem raksasa (holobiont).

Sumber: