“Menteri Keuangan bukan sekadar juru bayar. Saya bisa menggunakan politik anggaran sebagai lever untuk memaksa kementerian lain melakukan reformasi. Jika mereka tidak mau membenarkan peraturan yang menghambat, saya bisa menahan anggarannya.”
PELAKITA.ID – Dalam sebuah diskusi mendalam bersama Gita Wirjawan program Youtube Endgame, ada poin-poin menarik yang membuat kita memahami jalan pikiran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya mengungkapkan bahwa tantangan ekonomi Indonesia seringkali bukan disebabkan oleh faktor eksternal atau “ketidakpastian global”, melainkan akibat kesalahan kebijakan domestik, terutama dalam pengelolaan likuiditas.
1. Diagnosis Ekonomi: Masalahnya Bukan Global, Tapi Domestik
Purbaya menegaskan bahwa gejolak sosial dan pelambatan ekonomi yang terjadi belakangan ini berakar pada kebijakan moneter dan fiskal yang “mencekik” pertumbuhan.
Pertumbuhan Uang Nol: Pada periode tertentu, pertumbuhan uang ($M_0$) hampir nol. Ekonomi ibarat manusia yang diberi napas sedikit lalu dicekik kembali.
Sistem yang Kering: Meskipun perbankan merasa memiliki likuiditas yang cukup (ample liquidity), uang tersebut tidak beredar di dalam sistem ekonomi riil.
Kekuatan Domestik: Purbaya meyakini 80-90% kekuatan ekonomi Indonesia ada pada permintaan domestik. Jika uang di sistem tidak cukup, maka konsumsi dan pertumbuhan akan terhambat.
2. Strategi “Shock Therapy” Likuiditas
Segera setelah menjabat, Purbaya mengambil langkah yang tidak biasa (out of the ordinary) untuk membalikkan ekspektasi pasar yang pesimis:
Memindahkan Dana ke Perbankan: Ia memindahkan uang pemerintah sebesar Rp200 triliun dari Bank Sentral (BI) ke perbankan umum.
Menurunkan Bunga Pasar: Dengan bunga penempatan yang rendah (sekitar 3,8%), bank dipaksa untuk menyalurkan uang tersebut ke pasar antarbank dan kredit, daripada membiarkannya menganggap.
Self-Fulfilling Prophecy: Purbaya menggunakan pendekatan ekonomi perilaku untuk menciptakan ekspektasi positif. Dengan menunjukkan rasa percaya diri dan strategi yang masuk akal, ia berhasil mengembalikan consumer confidence masyarakat dalam waktu dua bulan.
3. Menuju Pertumbuhan 8%: Mesin Ganda Ekonomi
Purbaya mengoreksi pandangan bahwa kita memulai dari baseline 5%. Ia optimis bisa mencapai 6,5% hanya dengan mengaktifkan dua mesin utama:
Private Sector Driven: Belajar dari era Presiden SBY, di mana sektor swasta menjadi motor utama karena pertumbuhan uang yang tinggi (rata-rata 17-23%).
Government Driven: Menggabungkannya dengan keaktifan pemerintah dalam belanja (seperti era Presiden Jokowi).
Deltanya Hanya Sedikit: Jika mesin swasta dan pemerintah berjalan bersamaan, mencapai 6,5% bukanlah hal sulit. Untuk mencapai 8%, kita hanya butuh tambahan investasi (FDI) sekitar US$20-30 miliar lagi.
4. Reformasi Investasi: “Debottlenecking” dan Kepastian Hukum
Untuk menarik modal asing (FDI), Purbaya menekankan dua hal:
Eksekusi Lapangan: Masalah investasi di Indonesia bukan pada regulasi di atas kertas, tapi hambatan di lapangan. Ia akan mengaktifkan kembali Satgas Debottlenecking untuk menyidangkan kasus-kasus hambatan investasi secara mingguan.
Translasi Ketidakpastian Menjadi Risiko: Investor butuh kepastian yang bisa diukur. Purbaya ingin mendorong kemampuan Indonesia dalam mengkuantifikasi probabilitas risiko (seperti risiko mati listrik atau perubahan regulasi) agar investor bisa menghitung nilai investasi mereka dengan akurat.
“Menteri Keuangan bukan sekadar juru bayar. Saya bisa menggunakan politik anggaran sebagai lever untuk memaksa kementerian lain melakukan reformasi. Jika mereka tidak mau membenarkan peraturan yang menghambat, saya bisa menahan anggarannya.”
5. Investasi SDM: Krisis Produk STEM dan Ekonomi
Sebagai lulusan Teknik Elektro ITB yang beralih ke Ekonomi (S3 Purdue University), Purbaya sangat menekankan pentingnya produk STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
Kurangnya Tenaga Ahli: Indonesia hanya memproduksi 250.000 lulusan STEM per tahun, jauh tertinggal dari Tiongkok (4,5 juta) atau India.
Mencetak Ekonom Baru: Ia memiliki program ambisius untuk mengirim lulusan terbaik (terutama dari latar belakang teknik) untuk mengambil S3 Ekonomi di universitas elit Amerika Serikat.
Penguatan LPDP: Dana LPDP akan terus ditambah, namun dengan penekanan pada investasi yang memiliki return tinggi di universitas unggulan dunia.
Kesimpulan
Narasi Purbaya Yudhi Sadewa adalah narasi optimisme yang terukur. Dengan memastikan uang beredar di sistem, melakukan pembenahan hambatan investasi secara agresif di lapangan, dan mencetak SDM berkualitas tinggi, ia yakin target pertumbuhan 8 persen bukan sekadar impian, melainkan konsekuensi logis dari kebijakan yang benar.
