Mabuk-mabukan Induk Segala Kejahatan

  • Whatsapp
Ilustrasi AI

Tulisan ini lahir dari sebuah perjumpaan singkat, namun bermakna—tentang silaturahmi yang tumbuh di ruang tunggu bandara, antara dua orang berbeda iman, disatukan oleh kegelisahan yang sama: masih maraknya kebiasaan mabuk-mabukan di tengah masyarakat beragama.

PELAKITA.ID – Islam menempatkan hubungan antar-manusia pada posisi yang amat penting. Silaturahmi bukan sekadar etika sosial, melainkan laku iman. Bahkan dalam banyak hadis disebutkan, siapa yang menjaga silaturahmi akan dipanjangkan umur dan dilapangkan rezekinya.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bersilaturahmi.”
(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Tulisan ini lahir dari sebuah perjumpaan singkat, namun bermakna—tentang silaturahmi yang tumbuh di ruang tunggu bandara, antara dua orang berbeda iman, disatukan oleh kegelisahan yang sama: masih maraknya kebiasaan mabuk-mabukan di tengah masyarakat beragama.

Bandara Soekarno-Hatta, Selasa, 9 Februari 2016.

Saya tiba sekitar pukul sebelas siang, dua jam lebih awal dari jadwal keberangkatan ke Makassar pukul 13.00 WIB. Dari Stasiun Tebet, saya menumpang ojek daring menuju Gambir, lalu beruntung mendapatkan bus bandara yang nyaris langsung berangkat.

Usai melewati prosedur X-ray—dompet, jam tangan, ikat pinggang—saya menuju ruang tunggu A2. Terlalu padat. Saya bergeser ke A1.

Di sisi kiri ruang A1, dekat tangga menuju toilet, sepasang lansia tertidur pulas. Perempuan dan lelaki itu berbaring searah, kepala menghadap barat. Selain mereka, hanya beberapa penumpang lain yang sibuk dengan gawai. Saya duduk tak jauh dari pasangan itu, sambil membaca buku Presence: Human Purpose and the Field of the Future.

Tak lama kemudian, lelaki itu terbangun dan berjalan ke toilet. Saat melintas, kami saling bertukar senyum. Ketika ia kembali dan duduk berhadapan dengan saya, rasa ingin tahu pun muncul.

“Bapak mau ke mana?” tanya saya, membuka percakapan.

“Ke Lampung. Baru pulang dari pelayanan di Katingan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah,” jawabnya.

Saya menutup buku dan menyimpannya kembali ke tas. Percakapan pun mengalir.

Namanya Suliyanto.

Tubuhnya ramping, wajahnya berkerut, menandakan usia yang telah jauh melangkah. Ia lahir pada 1949, di sebuah desa di Wonogiri, Jawa Tengah—masa ketika desa-desa masih dibelit kemiskinan pascaperang dan pergolakan politik nasional. Ia anak ketiga dari delapan bersaudara.

“Ayah saya tabib,” katanya pelan. “Bisa mengobati orang.”

Suliyanto lahir dari keluarga Muslim. Namun perjalanan hidup dan perenungannya membawanya pada keyakinan lain.  Perubahan itu, menurut pengakuannya, bermula dari kegemarannya membaca—salah satunya majalah Sangkakala—yang membawanya pada pencarian tentang makna hidup, kesejahteraan, dan kedamaian.

“Saya merenung lama,” katanya, sembari meletakkan tangan di dada. “Tentang jalan keselamatan.”

Ia pernah menjadi office boy di Kedutaan Belgia. Pada tahun-tahun itu, kegelisahannya tentang kehidupan desa, tradisi, dan praktik-praktik kepercayaan yang bercampur klenik semakin kuat. Pencarian itu akhirnya menuntunnya menjadi pendeta dan mengabdikan diri di wilayah-wilayah transmigrasi.

Katingan adalah pengabdian terakhirnya. Ia melayani warga transmigran dari beragam latar belakang: Jawa, Dayak, Flores. “Saya sering ke kebun, bertemu mereka di ladang,” katanya.

Namun, ada satu hal yang selalu mengganggu batinnya.

“Mabuk-mabukan,” ucapnya serius. “Sedih saya melihatnya. Agama sudah lama ada, tapi kebiasaan ini masih sulit hilang. Saya hanya bisa berdoa.”

Saya mengangguk. Sebagai Muslim, kegelisahan itu terasa akrab.

Saya bercerita tentang kampung pesisir tempat saya lahir di Takalar, Sulawesi Selatan. Pada tahun 1970-an, masih banyak nelayan meminum tuak, sebagian mendatangi kuburan dengan praktik-praktik yang keliru. Padahal dalam Islam, ziarah kubur tidak dilarang sepanjang bertujuan mengingat kematian, bukan meminta-minta pada yang telah wafat.

Saya juga menyinggung peran organisasi seperti Muhammadiyah dan NU yang terus mendorong perubahan, perlahan tapi konsisten—mengajak masyarakat meninggalkan minuman keras, bukan hanya karena larangan negara, tapi karena larangan agama.

“Korbannya sudah banyak,” kata saya. “Oplosan, perkelahian, kekerasan. Tapi kesadaran sering datang terlambat.”

Suliyanto mengangguk pelan.

“Pendidikan itu penting,” katanya. “Agama harus dipahami dengan akal sehat dan hati yang bersih.”

Kini, di usia 67 tahun, Suliyanto telah pensiun. Ia akan kembali menetap di Lampung Selatan bersama istrinya. Seorang anaknya tinggal di Kalimantan, satu lainnya di Jawa Barat.

“Banyak yang berubah,” katanya. “Tapi masih ada yang kurang. Tradisi kadang jadi jebakan rohani kalau tidak dibenahi.”

Ia kembali menyinggung soal mabuk-mabukan. Nada suaranya tetap sama: sedih, bukan marah.

Ketika petugas bandara memanggil penumpang JT 0892 tujuan Makassar untuk boarding, saya berdiri dan menyalami Pak Suliyanto. Kami berpisah dengan senyum dan rasa hormat.

Di ruang tunggu bandara itu, silaturahmi lintas iman telah terjadi. Dua orang, dua keyakinan, satu kegelisahan: bagaimana menjadi pemeluk agama yang sungguh-sungguh.

Saya teringat sebuah hadis Rasulullah SAW:

“Khamr adalah induk dari segala kejahatan.”
(HR. Ibnu Majah)

Barangkali, dalam soal ini, kita bisa sepakat: iman—apa pun namanya—selalu menuntun manusia menjauhi apa yang merusak dirinya dan sesamanya.

Denun
Jakarta–Makassar, 9 Februari 2016