Hati Nurani dalam Intelektuallitas, Kisah Tom Lembong Menemukan “Hati” di Tengah Ambisi

  • Whatsapp
Untuk membangun bangsa yang besar, kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki CV yang mentereng, tetapi juga memiliki empati yang dalam dan imajinasi yang luas untuk keluar dari status quo.

Investasi pada Guru: Tidak ada bangsa yang maju tanpa investasi pada “infrastruktur lunak”. Gaji guru yang layak dan kualitas pendidikan yang terstandarisasi adalah kunci, bukan sekadar membangun jalan tol atau bandara yang bisa berakhir sebagai misalokasi sumber daya.

PELAKITA.ID – Dalam sebuah ruang diskursus yang hangat, dua sahabat lama, Gita Wirjawan dan Tom Lembong, duduk bersama bukan sekadar untuk bernostalgia, melainkan untuk membedah akar dari sebuah karakter.

Dari meja makan keluarga yang intelektual di Jerman hingga dinginnya lantai penjara yang mengubah perspektif, Tom Lembong berbagi kisah tentang bagaimana manusia seharusnya tumbuh.

1. Akar Intelektual dan “Hack” Menuju Harvard

Perjalanan Tom dimulai dari sebuah lingkungan yang sangat mengutamakan rasio. Ayahnya, seorang dokter dengan tiga spesialisasi dan gelar S3, menanamkan standar intelektual yang luar biasa tinggi sejak Tom berusia dini di Jerman.

Namun, ada sebuah rahasia atau “hack” yang dibagikan Tom bagi anak muda yang bermimpi menembus universitas kelas dunia seperti Harvard. Bukan sekadar nilai akademis, melainkan strategi lingkungan.

Ia masuk ke New England Prep School (Deerfield Academy), sebuah “feeder school” yang kurikulum dan ekosistemnya memang dioptimalkan untuk membentuk calon pemimpin masa depan.

2. Dari Arsitektur, Wall Street, hingga Krisis 1880

Ketertarikan Tom pada dunia keuangan tidak datang dari keinginan akan kompensasi semata, melainkan dari imajinasi yang dipicu oleh buku-buku sejarah di perpustakaan sekolah. Ia terpesona pada sosok JP Morgan yang mampu meredam panik pasar modal bahkan sebelum adanya Bank Sentral.

Kemampuannya menggambar arsitektur—yang awalnya dianggap hanya hobi—ternyata menjadi alat bantu visual yang kuat dalam membedah struktur keuangan yang rumit di Wall Street.

Ini membuktikan bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia; estetika arsitektur bisa memperkuat logika finansial.

3. Tiga Pilar Kesuksesan: Ambisi, Imajinasi, dan Hoki

Gita dan Tom sepakat bahwa kesuksesan membutuhkan tiga atribut:

  • Ambisi: Sesuatu yang harus dimaknai secara positif sebagai penggerak.

  • Imajinasi: Kemampuan untuk tidak terjebak pada solusi “itu lagi, itu lagi” dalam perumusan kebijakan.

  • Hoki (Tangan Tuhan): Pengakuan bahwa ada kekuatan besar di luar kendali manusia yang bekerja.

4. Transformasi Spiritual: Menemukan Hati di Balik Jeruji

Salah satu bagian paling menyentuh adalah refleksi Tom tentang arogansi intelektual. Ia mengakui pernah menjadi sosok yang sangat sombong karena hanya mengandalkan otak.

“Otak itu bagian terkecil dari kita. Hati itu jauh lebih besar, dan jiwa itu raksasa. Sayangnya, pasar ultra-kapitalis membuat kita menjual jiwa kita dan bersaing hanya pakai otak.”

Sembilan bulan di penjara menjadi masa formatif baru baginya. Ia belajar menjadi “mellow”, lebih halus, dan lebih dekat dengan spiritualitas. Ia menemukan bahwa kesalehan sosial—bagaimana kita memperlakukan satpam, pelayan restoran, atau staf rumah tangga—jauh lebih penting daripada sekadar kesalehan ritual.

5. Membangun Bangsa Melalui “Software” Manusia

Melihat masa depan Indonesia, Tom memberikan beberapa poin krusial untuk perubahan budaya:

  • Investasi pada Guru: Tidak ada bangsa yang maju tanpa investasi pada “infrastruktur lunak”. Gaji guru yang layak dan kualitas pendidikan yang terstandarisasi adalah kunci, bukan sekadar membangun jalan tol atau bandara yang bisa berakhir sebagai misalokasi sumber daya.

  • Belajar dari Paradoks Tiongkok: Tom membedah bagaimana Tiongkok sukses karena desentralisasi ekonomi yang luar biasa. Walikota di sana bertindak sebagai “CEO” daerah yang berkompetisi secara meritokratis dan memiliki akuntabilitas tinggi.

  • Peran Masyarakat Sipil: Perubahan budaya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Podcaster, influencer yang fokus pada substansi, serta kelompok relawan lokal adalah mesin penggerak kultur baru di media sosial.

Penutup: Menjadi Manusia yang Utuh

Kisah Tom Lembong adalah pengingat bahwa prestasi di atas kertas (credentialism) tidak ada artinya jika kita kehilangan suara hati.

Untuk membangun bangsa yang besar, kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki CV yang mentereng, tetapi juga memiliki empati yang dalam dan imajinasi yang luas untuk keluar dari status quo.

Sumber: