Denassa Botanical Garden, Oase di Tengah Kelangkaan Literasi Lingkungan untuk Generasi

  • Whatsapp
Denassa Botranical Garden (dok: DBG/Desassa)

Mengapa Denassa disebut sebagai oase di tengah gersangnya jiwa voluntarisme? Karena tempat ini lahir dan tumbuh dari kerja sukarela yang konsisten, bukan dari proyek sesaat.

PELAKITA.ID – Rumah Kebun Denassa—atau yang kini juga dikenal sebagai Denassa Botanical Garden—terletak di Bontonompo, Kabupaten Gowa.

Ia bukan sekadar ruang hijau, melainkan sebuah pernyataan kultural tentang bagaimana manusia seharusnya kembali berdamai dengan alam, dengan dirinya sendiri, dan dengan semangat memberi tanpa pamrih.

Di tengah lanskap sosial yang kian pragmatis, DBG yang dirintis oleh Darmawan Daeng Nassa atau biasa disapa Denassa hadir sebagai oase—tenang, bersahaja, dan penuh makna.

Ini adalah sebuah inisiatif berbasis voluntarisme yang digerakkan oleh Denassa dan kolega di Bontonompo yang percaya bahwa perubahan besar sering kali berawal dari ruang-ruang kecil yang dirawat dengan kesungguhan.

Denassa – saya pertama kali berkenalan tahun 20013 saat pelatihan kefasilitatoran di Takalar lalu tahun 2015 bersama-sama hadir pada acara Oxfam di Kupang. dia bukan sekadar “pecinta tanaman”, melainkan pegiat sosial, pendidik, dan relawan lingkungan yang melihat kebun sebagai medium pembelajaran hidup.

Bagi Denassa, menanam bukan hanya urusan tanah dan bibit, tetapi juga proses menumbuhkan nilai: kesabaran, kepedulian, dan keberlanjutan.

Sebagai sebuah botanical garden berbasis komunitas, Denassa menawarkan beragam layanan dan aktivitas.

Di sini, pengunjung dapat menemukan koleksi tanaman hias, tanaman obat keluarga (TOGA), tanaman pangan lokal, hingga spesies endemik yang dirawat dengan pendekatan ekologi.

Rumah Kebun Denassa juga menjadi ruang edukasi terbuka: tempat belajar berkebun organik, pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, pembuatan kompos, serta pengenalan keanekaragaman hayati kepada anak-anak dan pelajar.

Tak jarang, ruang ini digunakan untuk diskusi komunitas, lokakarya literasi lingkungan, hingga kegiatan seni-budaya yang berkelindan dengan alam.

Layanan Denassa tidak berhenti pada aspek fisik kebun. Ia juga menyediakan ruang perjumpaan—ruang duduk sederhana, dapur komunitas, dan sudut baca—yang dirancang untuk mendorong percakapan dan refleksi.

Di sinilah DBG menjadi berbeda: ia tidak menjual kemewahan, melainkan pengalaman. Pengalaman menyentuh tanah dengan tangan sendiri, mendengar suara angin di antara dedaunan, dan merasakan kembali ritme hidup yang lebih lambat namun bermakna.

Mengapa Denassa disebut sebagai oase di tengah gersangnya jiwa voluntarisme? Karena tempat ini lahir dan tumbuh dari kerja sukarela yang konsisten, bukan dari proyek sesaat.

Keluarga Akbar Mangenre Kurusi, aktivis IKA Unhas di Denassa Botanical garden (dok: Istimewa)

Di saat banyak inisiatif sosial terjebak pada logika program dan laporan, Denassa justru bertahan lewat kehadiran sehari-hari: menyiram tanaman, membersihkan kebun, menyambut tamu, dan berbagi pengetahuan dengan tulus. Voluntarisme di sini bukan slogan, melainkan praktik hidup.

Rumah Kebun Denassa mengingatkan kita bahwa kedekatan dengan alam bukan romantisme kosong. Ia adalah kebutuhan eksistensial.

Di Bontonompo, DBG berdiri sebagai penanda harapan: bahwa di tengah dunia yang bising dan serba cepat, masih ada ruang untuk merawat kehidupan—pelan-pelan, bersama-sama, dan dengan hati.

Penulis Denun