Ambang Batas Nuklir yang Tak Terhindarkan: Ini adalah dinamika sentral yang mengerikan. Ketiganya bersenjata nuklir, dengan Rusia dan AS memiliki gudang senjata strategis yang sangat besar.
PELALKITA.ID – Perang hipotetis antara tiga negara, yaitu Amerika Serikat, China, dan Rusia, mewakili konflik kekuatan besar yang paling dahsyat yang dapat dibayangkan, jauh melampaui Perang Dunia dalam skala dan kehancuran potensial.
Meskipun sangat tidak mungkin karena prinsip mutual assured destruction (penghancuran bersama yang terjamin), mengkaji skenario dan konsekuensinya menyoroti taruhan yang sangat tinggi dalam geopolitik kontemporer.
Skenario: Jalan Menuju Bencana
Perang langsung dan serentak antara ketiganya tidak mungkin. Yang lebih masuk akal adalah konflik beruntun yang berasal dari titik api regional yang kemudian menarik kekuatan lain karena kewajiban perjanjian dan ancaman eksistensial yang dirasakan.
Pemicu di Indo-Pasifik: Pemicu yang paling mungkin adalah invasi China ke Taiwan. AS, yang terikat oleh Taiwan Relations Act dan komitmen strategis, melakukan intervensi militer.
Konflik dengan cepat meningkat, dengan pasukan AS dan sekutu menargetkan aset-aset China di daratan utama, dan China menggunakan sistem anti-access/area-denial (A2/AD) di seluruh Pasifik Barat.
Rusia, yang melihat pengalihan perhatian AS dan peluang untuk memperkuat posisi strategisnya sendiri, kemudian mungkin bergerak agresif terhadap sayap timur NATO, misalnya menyerang negara-negara Baltik atau melancarkan ofensif skala penuh di Ukraina.
Menghadapi serangan simultan di dua front kritis, AS dan NATO akan dipaksa berperang di dua medan teatrikal melawan China dan Rusia sekaligus.
Pemicu di Eropa: Sebaliknya, eskalasi besar-besaran Rusia terhadap NATO, mungkin setelah salah perhitungan, dapat memicu Pasal 5 (Pakta Pertahanan NATO).
Saat pasukan AS dikerahkan ke Eropa, China mungkin memanfaatkan kesempatan untuk menyelesaikan masalah Taiwan, dengan menilai kapasitas Amerika terlalu terbentang. Ini akan memaksa AS masuk dalam dilema dua front yang sama.
Perang akan segera menjadi “hyperwar“—diperebutkan dengan kecepatan dan konektivitas yang belum pernah terjadi sebelumnya di semua domain: darat, laut, udara, angkasa, dan dunia maya.
Langkah pembuka akan melibatkan serangan siber yang melumpuhkan infrastruktur militer dan sipil, pembutuhan atau penghancuran satelit, dan serangan rudal jarak jauh terhadap pangkalan depan, kapal induk, dan pusat komando.
Garis depan pertempuran tradisional akan kabur karena konflik berkecamuk secara global.
Konsekuensi: Turun ke Bencana Global
Konsekuensinya akan bersifat permanen dan mengubah peradaban.
Biaya Manusia dan Ekonomi yang Tak Terbayangkan: Pertempuran konvensional saja akan mengakibatkan jutaan korban militer dalam beberapa minggu, terutama di medan teatrikal padat seperti Eropa Timur dan Selat Taiwan.
Korban sipil akan sangat besar akibat serangan terhadap kota-kota, infrastruktur kritis, dan gangguan rantai pasokan global.
Ekonomi global akan runtuh seketika. Produksi just-in-time akan terhenti, sistem keuangan akan dibekukan atau dihancurkan oleh serangan siber, dan perdagangan global akan berhenti.
Hiperinflasi, pengangguran massal, dan kelangkaan segera atas makanan, obat-obatan, dan energi akan melanda bahkan negara-negara netral.
Ambang Batas Nuklir yang Tak Terhindarkan: Ini adalah dinamika sentral yang mengerikan. Ketiganya bersenjata nuklir, dengan Rusia dan AS memiliki gudang senjata strategis yang sangat besar.
Perang akan dilaksanakan di bawah bayang-bayang eskalasi. Saat kerugian menumpuk bagi kekuatan mana pun—misalnya, penghancuran armada invasi China, kekalahan konvensional pasukan Rusia di Eropa, atau ancaman terhadap tanah air (seperti serangan terhadap pangkalan AS di daratan utama)—dorongan untuk menggunakan senjata nuklir taktis untuk menghindari kekalahan akan tumbuh sangat kuat.
Penggunaan satu senjata nuklir taktis akan menghancurkan tabu yang berusia 79 tahun, membuat penggunaan lebih lanjut hampir pasti. Ini hampir tak terelakkan akan berputar menjadi pertukaran nuklir strategis skala penuh, menargetkan kota-kota, kapasitas industri, dan kepemimpinan.
Ratusan juta orang akan tewas dalam ledakan awal, dengan nuclear winter (musim dingin nuklir) berpotensi menyebabkan kelaparan global dan keruntuhan biosfer.
Keruntuhan Sistemik Global: Negara-negara netral tidak akan terhindar. Kehancuran ekonomi dan ekologis akan terjadi di seluruh dunia.
Perang siber kemungkinan akan menargetkan jaringan keuangan global, jaringan listrik, dan infrastruktur internet secara sembarangan. Radiasi dari serangan di belahan bumi utara akan menyebar secara global. Lembaga-lembaga dunia modern—PBB, WTO, IMF—akan menjadi tidak relevan.
“Nuclear winter” yang berkepanjangan dapat menurunkan suhu global selama bertahun-tahun, menghancurkan pertanian dan mengarah pada peristiwa kepunahan massal.
Tatanan Dunia yang Hancur: Dalam skenario apa pun yang tidak sampai pada kepunahan total manusia, dunia pasca-perang tidak akan dapat dikenali. Tata internasional liberal pra-perang akan hilang.
Tidak akan ada pemenang tunggal, hanya tingkat kehancuran yang bervariasi.
Panglima perang regional dan negara gagal akan muncul dari kekacauan. Kekosongan kekuasaan akan diisi oleh negara-negara sekunder atau aktor non-negara. Kemunduran teknologi kemungkinan akan terjadi. Peta geopolitik akan digambar ulang berdasarkan kelangsungan hidup, bukan diplomasi.
Kesimpulan
Perang antara AS, China, dan Rusia bukanlah “perang” dalam arti historis apa pun, tetapi jalur cepat menuju bencana kemanusiaan dan berpotensi bunuh diri spesies.
Konsekuensi utamanya adalah kepastian hampir mutlak dari eskalasi ke penggunaan nuklir, suatu hasil yang ingin dihindari oleh semua pemimpin yang rasional.
Pemahaman ini membentuk fondasi pencegahan kontemporer. Skenario ini menegaskan mengapa konflik militer langsung antara kekuatan besar nuklir dianggap tidak mungkin dimenangkan dan harus dicegah melalui saluran komunikasi yang kuat, manajemen krisis, dan keterlibatan diplomatik, bahkan di tengah persaingan yang intens.
Ini adalah pengingat utama bahwa di abad ke-21, satu-satunya strategi yang layak bagi kekuatan besar bukanlah kemenangan dalam perang total, tetapi pemeliharaan perdamaian yang tegang namun stabil.
