PELAKITA.ID – Tragedi tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Selat Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu insiden paling memilukan dalam sejarah pariwisata bahari Indonesia.
Insiden ini tidak hanya merenggut nyawa wisatawan mancanegara, tetapi juga membuka kembali persoalan lama tentang keselamatan pelayaran wisata, tata kelola bisnis pariwisata, dan kesiapan infrastruktur pendukung di destinasi super prioritas.
Jumat, 26 Desember – Malam Naas di Selat Padar
Pada Jumat malam, 26 Desember, kapal wisata KM Putri Sakinah berlayar di perairan Selat Padar, kawasan yang dikenal dengan arus laut yang dinamis dan cuaca yang cepat berubah. Kapal tersebut mengangkut 11 orang, terdiri dari empat anak buah kapal (ABK) dan tujuh penumpang.
Dari tujuh penumpang, enam merupakan warga negara Spanyol, sementara satu orang lainnya adalah pemandu wisata. Mereka tengah menjalani perjalanan wisata laut yang menjadi bagian dari paket kunjungan ke kawasan Taman Nasional Komodo.
Namun, dalam perjalanan malam tersebut, kapal mengalami insiden fatal dan tenggelam di perairan sekitar Pulau Padar.
Informasi awal menyebutkan kapal menghadapi kondisi laut yang tidak bersahabat, meski penyebab pasti tenggelamnya kapal masih menjadi bagian dari penyelidikan otoritas terkait.
Hari-Hari Awal Pascakejadian – Evakuasi dan Penyelamatan
Sesaat setelah insiden terjadi, laporan darurat diterima oleh pihak berwenang. Tim SAR gabungan, yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan unsur terkait lainnya, segera dikerahkan ke lokasi kejadian.
Dalam operasi pencarian dan penyelamatan awal, beberapa korban berhasil ditemukan. Namun, situasi di lapangan tidak mudah. Kondisi laut, kedalaman perairan, serta arus Selat Padar menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat.
Seiring berjalannya waktu, tiga penumpang warga negara Spanyol ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Penemuan ini mempertegas bahwa insiden tersebut bukan sekadar kecelakaan ringan, melainkan tragedi kemanusiaan yang serius.
Sementara itu, satu orang warga negara Spanyol lainnya dinyatakan hilang, dan hingga hari-hari berikutnya belum ditemukan.
Hari ke-5 hingga Hari ke-10 – Operasi SAR Berlanjut
Memasuki hari-hari berikutnya, operasi pencarian terus diperluas. Area penyisiran diperbesar, melibatkan kapal-kapal tambahan serta penyelam profesional.
Pemerintah Indonesia berupaya maksimal menunjukkan komitmen dalam menangani kasus ini, mengingat korban merupakan wisatawan asing dan peristiwa terjadi di kawasan pariwisata unggulan nasional.
Di sisi lain, keluarga korban dari Spanyol mulai berdatangan ke Labuan Bajo. Mereka mengikuti perkembangan pencarian dengan penuh harap, meski waktu yang terus berjalan mulai mengikis optimisme.
Hari ke-11 hingga Hari ke-14 – Harapan yang Menipis
Memasuki pekan kedua pencarian, tantangan semakin berat. Dalam operasi SAR laut, waktu adalah faktor krusial. Semakin lama korban tidak ditemukan, semakin kecil peluang penyelamatan dalam kondisi selamat.
Meski demikian, tim SAR tetap melanjutkan operasi sesuai standar dan prosedur yang berlaku. Pemerintah daerah dan pusat turut memfasilitasi komunikasi dengan keluarga korban serta pihak Kedutaan Besar Spanyol.
Di tengah suasana duka dan ketidakpastian, Alvaro Ortuno, wakil keluarga korban warga negara Spanyol, menyuarakan harapan yang lebih luas: agar tragedi ini tidak sekadar menjadi catatan kecelakaan, tetapi menjadi titik balik perbaikan keselamatan wisata bahari di Indonesia.
Jumat, 9 Januari – Hari ke-15 dan Penghentian Operasi SAR
Pada Jumat, 9 Januari, tepat hari ke-15 pencarian, tim SAR gabungan secara resmi menghentikan operasi pencarian. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan teknis, keselamatan personel, serta batas waktu operasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Hingga hari terakhir pencarian, satu orang warga negara Spanyol masih belum ditemukan. Ia merupakan salah satu anggota keluarga Alvaro Ortuno.
Pada hari yang sama, dilakukan prosesi tabur bunga di perairan Selat Padar, lokasi tenggelamnya KM Putri Sakinah. Prosesi ini diikuti oleh keluarga korban bersama tim SAR gabungan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada korban yang belum ditemukan.
Dalam suasana haru, Alvaro menyampaikan pernyataan yang menggugah. Ia berharap tragedi ini dapat menjadi pelajaran penting bagi pemerintah Indonesia.
“Itulah harapan untuk hari-hari yang tersisa… kejadian seperti ini tidak boleh terjadi lagi,” ujarnya dengan suara tercekat.
Ia juga menekankan perlunya perubahan, meskipun kecil, dalam tata kelola bisnis wisata dan infrastruktur pendukung, agar keselamatan wisatawan benar-benar menjadi prioritas.
Peristiwa Krusial dan Implikasi Lebih Luas
Tragedi KM Putri Sakinah bukan sekadar kecelakaan laut, melainkan cermin dari tantangan besar pariwisata bahari Indonesia. Beberapa peristiwa krusial yang menjadi sorotan antara lain:
-
Keselamatan kapal wisata, termasuk standar kelaikan, kapasitas, dan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem.
-
Manajemen risiko pelayaran malam, terutama di perairan dengan arus kuat seperti Selat Padar.
-
Kesiapan sistem tanggap darurat, mulai dari komunikasi, evakuasi, hingga koordinasi lintas lembaga.
-
Tata kelola destinasi super prioritas, yang harus menyeimbangkan promosi wisata dengan perlindungan nyawa manusia.
Penutup
Kasus tenggelamnya KM Putri Sakinah meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi citra pariwisata Indonesia. Harapan keluarga korban sederhana namun fundamental: agar tragedi ini tidak terulang.
Lebih dari sekadar duka, peristiwa ini menuntut refleksi dan perubahan nyata—bahwa keselamatan wisatawan harus menjadi fondasi utama pembangunan pariwisata bahari, bukan sekadar pelengkap di tengah ambisi pertumbuhan industri.
