PELAKITA.ID – Saat tahun baru masih membawa harapan, sejumlah seniman Makassar memilih untuk menyelami akar sejarah seni rupa dunia melalui eksplorasi di Situs Leang-Leang Maros (4/1/2026).
Dari tempat ini jejak pertama seni rupa pernah tertinggal dan kini disebut sebagai “titik nol seni rupa dunia”.
Dalam kegiatan tersebut, empat orang yang berkhidmat pada seni rupa yaitu Achmad Fauzi, Alan Tola, Asman Djasmin, dan Wahyuddin Yunus, bersama merangkai rekan sejawat sebagai seniman, kurator, penulis, serta perjalanan riset, menghabiskan sepersekian waktu melukis bersama, berdiskusi, dan menggali inspirasi dari karya prasejarah yang mengukir kehidupan manusia purba.
Di antara dinding gua, seniman Asman berpandangan bahwa lukisan di Leang Leang tak sekadar bercerita tentang masa lalu. Kisahnya turut menafasi bagaimana seni mengalir dalam jejak kehidupan manusia masa lampau.
“Kita datang bukan hanya untuk melihat bekas masa lalu, melainkan untuk merasakan bagaimana seni telah mengalir sebagai darah kehidupan manusia sejak zaman dahulu,” ujar Asman Djasmin.
Menurut Achmad Fauzi, perupa sekaligus kurator kegiatan, bahwa ini adalah kelanjutan dari serangkaian eksplorasi sebelumnya yang juga diikuti oleh nama-nama besar seniman perupa Makassar. Seperti Amrullah Syam, Ahmad Anzul, Budi Haryawan, Den Dede, Faisal Syarif, dan seniman lainnya.

Selama berada dalam kawasan situs, para seniman menciptakan karya yang coba menghubungkan dunia prasejarah dengan zaman sekarang. Dengan menyandingkan figur purba dengan ritme kehidupan masyarakat modern Makassar.
Hasil eksplorasi kali ini, nantinya akan menjadi dasar bagi pemenuan karya-karya dalam pameran tunggal bertajuk “Spirit Leang-Leang : Nafas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar”. Sebanyak sembilan seniman Makassar akan ikut memamerkan karyanya mulai akhir Januari hingga April 2026 di berbagai ruang publik Kota Makassar.
Selain karya utama, pameran juga akan menampilkan dokumentasi proses eksplorasi dan karya dari seniman muda yang telah mengikuti bimbingan khusus tentang sejarah seni rupa lokal.
Penyelenggaraan kegiatan nanti, diharapkan membuka ruang apresiasi yang dalam. Keberadaan seni rupa memberi jalan bagi masyarakat untuk menyadari bahwa seni rupa kita tak lahir dari nol—akarnya dalam, dan dari sana kita bisa membangun karya yang lebih kaya makna.
Sementara itu, Muslimin, petugas pengelola Situs Leang-Leang dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIX, menjelaskan upaya BPKW dalam program pelestarian Situs Leang Leang yang tengah digulirkan.
Di antaranya membuat pelatihan kerajinan souvenir dengan inspirasi lukisan prasejarah dan penggunaan warna alami. Namun, ia mengakui tantangan besar adalah kurangnya minat kalangan muda, yang lebih terpikat dengan gadget.
Kolaborasi dengan seniman Makassar dan rencana pameran diharapkan menjadi momentum untuk mengubah kondisi tersebut. Pihak BPK Wilayah XIX juga merencanakan kerja sama dengan berbagai pihak untuk terus mengedukasi dan memperkenalkan kerajinan khas dengan tema seni prasejarah.
Berbagai langkah coba diterapkan, bukan hanya citra melestarikan masa lalu, melainkan juga mengangkat nilai budaya lokal sebagai pondasi untuk karya seni rupa Makassar yang memiliki identitas kuat dan mampu bersaing di kancah luas.
___
Penulis Wahyuddin Yunus
