Penulis: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Sejak manusia belajar memberi nama pada dunia, sejak itu pula ia mulai memberi nama pada kebenaran.
Di situlah persoalan bermula.
Tidak ada satu manusia pun yang dianugerahi hak prerogatif mutlak atas kebenaran. Dalam sejarah peradaban, klaim semacam ini nyaris selalu berakhir dengan ironi: niat menjaga kebenaran justru melahirkan penindasan, dan upaya membela yang benar berubah menjadi pembungkaman terhadap yang lain.
Kebenaran, ketika dikunci di tangan manusia, kerap kehilangan cahayanya.
Dalam filsafat klasik, Plato telah mengingatkan bahwa manusia hidup dalam gua persepsi—melihat bayang-bayang dan mengiranya sebagai realitas. Aristoteles, dengan kehati-hatian ilmiahnya, mengajarkan bahwa kebenaran dicapai melalui pengamatan, penalaran, dan koreksi yang terus-menerus.
Dalam tradisi modern, Karl Popper menegaskan bahwa pengetahuan manusia bukanlah kumpulan kepastian, melainkan hipotesis-hipotesis yang selalu terbuka untuk diuji dan dipatahkan. Di sini, kebenaran bukan mahkota yang dikenakan, melainkan jalan panjang yang ditempuh.
Agama pun berdiri tegas pada prinsip yang sama. Kebenaran absolut hanya milik Tuhan. Dalam Islam, Allah disebut Al-Haqq—Yang Maha Benar—sementara manusia adalah makhluk pencari, bukan pemilik.
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan keterbatasan manusia: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Isra: 85). Ayat ini bukan merendahkan akal, melainkan menempatkannya secara proporsional: sebagai ikhtiar, bukan sebagai sumber mutlak.
Para sufi memahami hal ini dengan cara yang lebih hening. Al-Ghazali, setelah menjelajahi filsafat, teologi, dan skeptisisme, tiba pada kesadaran bahwa kebenaran sejati tidak pernah hadir bersama kesombongan.
Ia datang bersama kerendahan hati dan kejernihan batin. Jalaluddin Rumi melangkah lebih jauh: kebenaran, katanya, seperti cahaya putih yang terurai menjadi beragam warna ketika melewati prisma manusia. Mengklaim satu warna sebagai keseluruhan cahaya adalah kesalahpahaman yang indah, tetapi berbahaya.
Dalam ranah etika sosial, klaim kebenaran tunggal oleh manusia hampir selalu berubah menjadi alat kekuasaan. Ketika seseorang berkata,
“Hanya aku yang benar,” maka yang lain tak lagi diposisikan sebagai sesama pencari, melainkan sebagai ancaman. Pada titik ini, kebenaran kehilangan wajah kebijaksanaannya dan mengenakan topeng dominasi. Sejarah politik, agama, bahkan sains mencatat cukup banyak tragedi yang lahir bukan dari kebohongan, melainkan dari keyakinan yang menolak untuk dikoreksi.
Karena itu, yang sesungguhnya kita miliki bukanlah hak untuk memonopoli kebenaran, melainkan tanggung jawab moral untuk terus mencarinya.
Mencari dengan akal yang jujur, dengan pengalaman yang terbuka, dengan dialog yang setara, serta dengan keberanian untuk berkata: mungkin aku keliru. Mendengar yang berbeda bukan ancaman bagi kebenaran, melainkan ujian bagi kedewasaan kita.
Sebab kebenaran sejati tidak takut dipertanyakan. Ia justru semakin jernih ketika diuji. Yang takut ditanya, yang alergi pada kritik, dan yang gemetar saat berhadapan dengan perbedaan, sering kali bukan kebenaran. Ia hanyalah ketakutan yang menyamar, mencari perlindungan dalam klaim-klaim suci.
Dan di situlah tugas manusia dimulai: bukan menjadi penjaga gerbang kebenaran, melainkan peziarah yang rendah hati di jalannya.
—
Muliadi Saleh
Menulis Makna, Membangun Peradaban
