Pelakita.ID menjadi peserta pada Lokakarya Nasional dan Peluncuran Tim Pelaksana Budidaya Udang Berkelanjutan yang digelar oleh Kemenko Pangan, Bappenas, Pemda Banyuwangi dan Konservasi Indonesia. Paparan Prof. Dr. Sc. Asep Awaludin Prihanto dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya tentang inovasi bioteknologi terapan untuk budidaya berkelanjutan sangat menarik untuk disimak. Mari!
PELAKITA.ID – Kebutuhan pangan dunia terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk global yang pada 2024 diproyeksikan telah menembus angka delapan miliar jiwa. Ironisnya, sekitar 2,6 miliar orang di dunia masih belum mampu mengakses makanan sehat secara layak.
Di tengah situasi ini, protein hewani menjadi komponen pangan yang paling mahal, dengan rata-rata biaya mencapai satu dolar Amerika per orang per hari. Kondisi tersebut menegaskan urgensi penguatan sistem produksi pangan berkelanjutan, terutama dari sektor perikanan dan kelautan.
Menurut Prof Asep A. Prihanto, sektor perikanan memiliki peran strategis dalam sistem pangan global. Data menunjukkan bahwa makanan laut menyumbang sekitar 15 persen dari total protein hewani dunia, sementara protein dari perikanan menyumbang sekitar 6 persen dari total protein global.
Di banyak negara berkembang, lebih dari 45 persen asupan protein hewani per kapita berasal dari sektor ini. Pada 2024, total produksi perikanan dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton, dengan akuakultur berkontribusi terbesar sebesar 130,9 juta ton, melampaui perikanan tangkap yang berada di angka 92,3 juta ton.
“Angka ini menegaskan bahwa akuakultur adalah tulang punggung masa depan pangan laut dunia,” kata dia.
Namun, lanjutnya, di balik potensinya yang besar, akuakultur menghadapi berbagai tantangan serius. Wabah penyakit masih menjadi ancaman utama, dengan potensi kerugian mencapai 10 hingga 90 persen produksi pada sistem budidaya intensif.
Selain itu, pertumbuhan yang lambat akibat minimnya program pemuliaan konvensional, efisiensi pakan yang belum optimal, dampak lingkungan, serta keterbatasan sumber daya lahan perairan turut membatasi ekspansi dan keberlanjutan usaha budidaya.
Dalam konteks kesehatan ikan dan udang, kondisi organisme budidaya sangat dipengaruhi oleh interaksi empat faktor utama, yakni genetika, patogen, nutrisi, dan lingkungan. Ketidakseimbangan salah satu faktor dapat memicu munculnya penyakit dan menurunkan produktivitas.
“Di sinilah bioteknologi terapan hadir sebagai pendekatan ilmiah yang mampu menjawab kompleksitas tantangan akuakultur modern,: ucapnya.

Iovasi bioteknologi
Asep menyebut, bioteknologi dalam akuakultur mencakup spektrum aplikasi yang luas. Pada bidang genetika, teknologi seperti Whole Genome Sequencing (WGS), Next Generation Sequencing (NGS), marker molekuler, selective breeding, hingga metagenomik memungkinkan perbaikan performa genetik ikan dan udang secara presisi.
Di bidang kesehatan dan lingkungan, bioteknologi dimanfaatkan melalui diagnostik molekuler, vaksin DNA, probiotik, bioremediasi, serta pendekatan molekuler untuk memahami interaksi patogen dan inang. Sementara itu, dalam ranah nutrisi dan fisiologi, nutrigenomik dan pengembangan aditif pakan berperan penting dalam meningkatkan efisiensi dan kesehatan organisme budidaya.
Inovasi nutrisi menjadi salah satu pilar penting dalam akuakultur berkelanjutan. Pakan fungsional kini dikembangkan tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai pembawa protein alternatif, bakteriofag, dan senyawa bioaktif.
Rekayasa alga untuk menghasilkan asam lemak omega-3 seperti EPA dan DHA dalam konsentrasi tinggi telah meningkatkan nilai gizi ikan budidaya.
Probiotik, bakteri asam laktat, dan enzim pencernaan digunakan untuk memperbaiki kesehatan usus dan meningkatkan rasio konversi pakan. Melalui pendekatan nutrigenomik, formulasi pakan dapat disesuaikan secara spesifik dengan kebutuhan genetik tiap spesies.
Di sisi kesehatan ikan, bioteknologi memungkinkan deteksi penyakit secara cepat dan akurat melalui teknik PCR, qPCR, dan LAMP. Metode imunologi seperti ELISA dan fluorescent antibody test digunakan untuk skrining dan konfirmasi infeksi.
Pendekatan probiotik dan bakteriofag semakin berkembang sebagai alternatif pengendalian penyakit yang ramah lingkungan, disertai penggunaan imunostimulan untuk memperkuat respons imun non-spesifik ikan dan udang.
Pengelolaan lingkungan budidaya juga menjadi fokus penting. Bioremediasi dan biofiltrasi dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas air dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu menguraikan limbah organik dan nitrogen menjadi bentuk yang lebih aman.
Meski demikian, efektivitas banyak produk bioteknologi komersial masih memerlukan validasi ilmiah yang lebih kuat agar benar-benar memberikan manfaat berkelanjutan.

Salah satu contoh penerapan inovasi terpadu adalah desain tambak udang berbasis sistem Ecogreen Aquaculture. Sistem ini berbeda dengan model silvofishery tradisional yang masih bergantung pada padat tebar rendah dan pakan alami.
Ecogreen Aquaculture mengadopsi teknologi intensif dengan padat tebar tinggi, penggunaan pakan buatan, sistem pengolahan air terpadu melalui mangrove dan tandon, serta pendekatan semi-bioflok.
Hasil uji coba selama empat tahun menunjukkan produktivitas yang sangat tinggi, dengan rata-rata produksi mencapai 8,5 ton per siklus pada tambak seluas 1.600 meter persegi, atau setara lebih dari 53 ton per hektare per tahun.
Dalam konteks ini, universitas memegang peran kunci sebagai pusat inovasi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Meski menghadapi tantangan berupa tingginya biaya teknologi, keterbatasan SDM terlatih, dan kerangka regulasi yang belum optimal, peluang yang tersedia sangat besar.
Biaya teknologi molekuler semakin terjangkau, kerjasama regional dan internasional semakin terbuka, serta kebutuhan akan inovasi lokal berbasis spesies dan kondisi tropis semakin mendesak.
Ke depan, penguatan bioteknologi akuakultur memerlukan langkah strategis yang terencana. Pengumpulan data dan inventarisasi teknologi yang digunakan perlu dilakukan untuk menilai dampak sosial-ekonomi secara komprehensif.
Penelitian perlu diprioritaskan pada teknologi berbiaya rendah yang mudah diadopsi oleh pembudidaya kecil, khususnya pada diagnostik penyakit dan vaksin. Pengembangan kapasitas SDM dan infrastruktur laboratorium harus diperkuat melalui program nasional dan kolaborasi internasional, disertai kebijakan bioteknologi akuakultur yang terintegrasi dan selaras dengan perjanjian global.
Pada akhirnya, inovasi bioteknologi terapan bukan sekadar alat teknis, melainkan fondasi strategis untuk membangun akuakultur yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Di titik inilah universitas dituntut untuk hadir bukan hanya sebagai pusat keilmuan, tetapi sebagai motor transformasi sistem pangan laut Indonesia dan dunia.
Editor K. Azis
