PELAKITA.ID – Suasana halaman Kantor Camat Tamalatea sore itu dipenuhi energi positif. Ratusan ibu-ibu bergerak serempak mengikuti irama senam yang dipandu musik riang.
Di tengah keceriaan itu, suara lantang Ketua PKK Kabupaten Jeneponto, Ibu Salmawati Paris, menggema jelas: “Kita punya andil, kembalikan ruang aman.”
Seruan tersebut langsung disambut tepuk tangan meriah, menandai kuatnya komitmen bersama untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kegiatan senam massal yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga ini bukan sekadar aktivitas kebugaran. Acara tersebut dirangkaikan dengan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP), sebuah gerakan global yang berlangsung setiap 25 November hingga 10 Desember.
Setelah diluncurkan di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan pada 30 November 2025, kampanye ini kini hadir di Jeneponto melalui kolaborasi berbagai pihak: pemerintah daerah, PKK, PD HIMPAUDI, serta Pattiro Jeka.
Dalam kampanye publik itu, Ibu Salmawati menyampaikan pesan tegas mengenai urgensi menghentikan kekerasan terhadap perempuan, perundungan di sekolah, dan praktik perkawinan anak.
Ia mendorong seluruh warga untuk berani melaporkan jika mengetahui adanya korban, sekaligus mengingatkan bahwa perempuan harus diperlakukan secara bermartabat.
“Mari gerak bersama. Kita punya andil, kembalikan ruang aman. Mari ciptakan ruang aman dan nyaman bagi perempuan dan anak,” ujarnya penuh semangat.
Sebelumnya, Suryani Hajar dari Pattiro Jeka memberikan penjelasan tentang makna kampanye ini. Ia menegaskan bahwa 16 HAKTP merupakan momentum global untuk menyuarakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran hak asasi manusia.
“Perempuan bukan hanya korban, tetapi punya suara dan andil untuk membangun perubahan. Ruang aman harus diciptakan,” tegasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Camat Tamalatea, para kepala desa dan lurah, Kepala Puskesmas, serta kru Pattiro Jeka.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa kampanye ini adalah gerakan lintas sektor, sebuah langkah nyata untuk memastikan perempuan dan anak di Jeneponto dapat hidup dalam ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.
Penulis Fadiah Machmud
