Solo Walk dan Perenungan Seorang Pemimpin

  • Whatsapp
Siapa saya, apa yang saya bisa kontribusikan untuk diri, keluarga, masyarakat dan daerah ini?

___
Menemukan Kembali Diri untuk Masa Depan Alam dan Kemanusiaan

PELAKITA.ID – Di banyak tradisi kepemimpinan, perjalanan sunyi atau Solo Walk digunakan sebagai ruang refleksi yang menuntun seseorang kembali pada inti dirinya.

Dalam dunia yang dipenuhi kesibukan, hiruk-pikuk tuntutan, tekanan pekerjaan, dan beban hidup, seorang pemimpin sering lupa berhenti sejenak untuk mendengar dirinya sendiri. Padahal, kepemimpinan sejati berakar dari kebeningan hati, kejernihan pikiran, dan hubungan yang utuh dengan sesama manusia serta alam semesta.

Sebelum seorang pemimpin memulai perjalanan batin tersebut, ada satu tahap penting: melepaskan beban.

Penulis ingat pada salah satu pelatihan di Kabupaten Wakatobi, tentang proses fasilitasi untuk Solo Walk ini.

Saat itu, di dalam tahun 2015, penulis berbagi tentang apa yang disebut  Circle Trust, di mana para peserta diajak mengosongkan pikiran dan hati mereka dari segala uneg-uneg dan beban yang selama ini menggelayut.

Fasilitator waktu itu, Ashar Karateng, membawa mereka ke dalam suasana tenang, mengingatkan bahwa untuk dapat melangkah ke perjalanan baru, seseorang perlu membuka ruang dalam dirinya—ruang yang bebas dari tekanan masa lalu.

Merenungi diri dan sekitar (dok: Pelakita.ID)

Setiap peserta diberikan kesempatan untuk menceritakan beban yang mereka pikul, membaginya, mengucapkannya, lalu melepaskannya seolah menaruhnya ke dalam tong sampah kehidupan. Ini bukan sekadar latihan emosional; ini adalah proses penyucian batin, proses mempersiapkan diri untuk menerima inspirasi baru.

Setelah beban dilepas, para peserta diarahkan memasuki ritual Solo Walk. Inilah momen ketika seseorang mengambil jarak dari kebisingan luar dan mulai menyelam ke kedalaman batinnya.

Dalam Solo Walk, tidak dianjurkan bertegur sapa panjang. Diam menjadi pintu masuk bagi kesadaran baru. Setiap orang memilih tempat yang paling membuatnya hening—di bawah pohon, di tepi pantai, di dekat bebatuan, atau di tengah aroma pasir dan udara laut.

Di sinilah perenungan dimulai. Para peserta diajak mengingat kembali siapa diri mereka.

Mereka diminta bertanya kepada diri: Siapa saya? Untuk apa saya hidup? Apa peran saya bagi dunia? Sering kali, jawaban-jawaban ini terkubur oleh rutinitas. Namun di tengah kesunyian Solo Walk, suara hati mulai terdengar lebih jelas.

Fasilitator kemudian mengarahkan perhatian peserta kepada orang-orang yang selama ini menjadi pusat kehidupan mereka: anak-anak di rumah yang menunggu kepulangan, pasangan yang mendukung dalam diam, orang tua dan mertua yang mungkin terbaring sakit, atau saudara yang membutuhkan sentuhan perhatian.

Para peserta diingatkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab yang lebih luas dari sekadar pekerjaan; mereka adalah penjaga kebahagiaan keluarga dan penopang masa depan generasi berikutnya.

Lalu renungan diperluas. Alam di sekitar menjadi cermin kehidupan. Fasilitator menggambarkan ikan-ikan yang berenang terbatas karena ruang hidupnya rusak oleh bom dan racun. Ada biawak yang melintas sambil tertekan karena habitatnya terus menyempit.

Burung-burung yang beterbangan tanpa tempat hinggap. Kepiting pasir yang mengais-ngais di lubang kecil karena lingkungannya tercemar dan kehilangan sumber makanan.

Pertanyaan pun muncul kembali di kepala peserta: Siapa saya, dan apa tugas saya bagi mereka?

Di bagian lain dari perenungan, peserta diajak melihat kehidupan manusia yang lebih luas: anak-anak yang kekurangan gizi, keluarga yang sakit akibat polusi, orang-orang yang saling sikut demi hidup, mereka yang kehilangan hak dasar akibat keserakahan dan ketidakadilan.

Suasana pelatihan kepemimpinan di Wakatobi, jelang pelaksanaan sesi Solo Walk (dok: Pelakita.ID)

Semua itu adalah gambaran bahwa dunia sedang meminta pertolongan. Bahwa ada krisis besar yang membutuhkan pemimpin dengan hati yang jernih dan nurani yang hidup.

Dalam adegan berikutnya, peserta dibawa masuk lebih dalam. Mereka diminta untuk “menurunkan perasaan hingga ke mata kaki”—sebuah metafora untuk kembali menyatu dengan tanah, dengan bumi, dengan kenyataan paling dasar dari kehidupan.

Di situ ada semut, serangga, anai-anai, makhluk kecil yang sering luput dari perhatian, namun keberadaannya menopang keseimbangan alam.

Fasilitator bertanya: Sudahkah kita berbuat sesuatu bagi mereka?

Lalu perenungan diarahkan ke atas kepala: burung-burung, awan, angin, hujan. Semua elemen alam ini bekerja tanpa henti untuk menjaga kehidupan. Mereka tidak meminta imbalan.

Mereka hanya membutuhkan keseimbangan. Kembali pertanyaan muncul: Sudahkah kita menjaga mereka? Sudahkah kita memikirkan keberlangsungan mereka untuk generasi cucu-cicit kita?

Rangkaian perenungan ditutup dengan gambaran menyayat dari Ashar Karateng. Ia mengajak peserta merasakan penderitaan manusia miskin yang berlarian mencari makan, rumah-rumah yang tidak mampu menahan banjir, anak-anak yatim yang menunggu sentuhan kasih, dan hektare alam yang terbakar oleh keserakahan manusia.

Pohon-pohon kehilangan tempat tumbuh, kupu-kupu kehilangan padang bunga, burung kehilangan dahan tempat pulang.

Di hadapan semua itu, pertanyaan terakhir diperdengarkan dengan lembut namun tegas: Siapa engkau, dan apa tugas engkau untuk masa depan mereka?

Inilah inti dari Solo Walk: membangun kesadaran baru dalam diri seorang pemimpin.

Kesadaran bahwa kepemimpinan bukan tentang jabatan atau kekuasaan, tetapi tentang tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan—manusia, hewan, tumbuhan, dan alam semesta. Kepemimpinan adalah tentang keberpihakan kepada yang lemah, kepada yang tak bersuara, kepada yang terlupakan.

Ketika sesi Solo Walk selesai, para peserta tidak kembali sebagai orang yang sama.

Mereka membawa pulang kesadaran baru tentang tugas mereka, tentang siapa mereka dalam jagat besar ini, dan apa yang seharusnya mereka lakukan mulai hari ini. Dan di akhir renungan, hanya satu harapan yang dipanjatkan:

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati perjalanan kita semua.

___
Penulis Kamaruddin Azis